Uterus atau rahim merupakan organ dalam sistem reproduksi wanita yang berbentuk seperti buah pir. Fungsi uterus tidak hanya menjadi tempat sel telur yang telah dibuahi ditanamkan selama kehamilan, tetapi juga berperan dalam siklus menstruasi dan proses persalinan. Simak ulasan lebih lengkap tentang fungsi uterus pada sistem reproduksi wanita berikut.
Definisi Uterus atau Rahim
Uterus atau disebut juga rahim merupakan organ reproduksi wanita yang memiliki fungsi penting dalam siklus menstruasi, kesuburan dan kehamilan. Uterus merupakan tempat implantasi blastokista dan perkembangan embrio hingga janin selama kehamilan dan berkembang hingga lahir. Letak uterus berada di antara kandung kemih dan rektum. Rahim memiliki panjang sekitar 7 cm dengan lebar 5 cm dan ketebalan dindingnya kira-kira 2-3 cm.
Baca juga: Apa Itu Fertilitas atau Masalah Kesuburan?
Struktur Uterus atau Rahim
Uterus terdiri dari otot-otot berongga yang dapat kontraksi dan relaksasi sesuai kebutuhan selama perkembangan janin. Secara struktur, uterus terdiri dari empat bagian yaitu:
- Fundus: Bagian paling atas dan terluas dari uterus yang terhubung langsung ke saluran tuba.
- Korpus: Bagian utama dari rahim yang merupakan tempat implantasi dan perkembangan embrio serta janin.
- Isthmus: Segmen sempit yang menghubungkan korpus dan serviks.
- Serviks: Letaknya berada di bagian bawah rahim yang berbentuk tabung dan menjadi penghubung antara vagina dan rahim.
Tiga lapisan jaringan yang membentuk rahim:
- Perimetrium: lapisan serosa (visceral peritoneum) yang terdiri dari mesotelium dan jaringan ikat, merupakan lapisan terluar dari uterus.
- Myometrium: Lapisan tengah yang terbuat dari jaringan otot polos dan dapat mengembang selama kehamilan serta berkontraksi untuk mendukung janin keluar.
- Endometrium: Lapisan dalam dari uterus yang akan meluruh selama periode menstruasi jika tidak terjadi pembuahan.
Baca Juga: Cara Membedakan Sperma Subur dan Tidak
Fungsi Uterus pada Sistem Reproduksi Wanita
Uterus memiliki peran penting bagi sistem reproduksi wanita. Empat fungsi uterus pada sistem reproduksi wanita antara lain:
1. Siklus menstruasi
Selama siklus menstruasi, di bawah pengaruh estrogen dan progesteron, endometrium menebal dan mengalami peningkatan vaskularisasi sebagai persiapan implantasi.
Namun, pada sebagian kecil wanita dapat terjadi perdarahan implantasi ringan akibat proses invasi blastokista ke endometrium.
2. Implantasi Embrio
Implantasi embrio adalah proses dimana sel telur yang telah dibuahi akan menempel pada endometrium dan memulai kehamilan. Selama proses implantasi embrio, jaringan endometrium akan meluruh sebagian dan menyebabkan pendarahan. Kebanyakan wanita sering menganggap kondisi ini termasuk dalam periode menstruasi. Padahal, pendarahan yang terjadi adalah hasil dari implantasi embrio.
3. Kehamilan
Setelah proses implantasi embrio terjadi, sel telur yang dibuahi akan mulai berkembang di dalam rahim. Selama kehamilan, janin yang berkembang akan mendapatkan nutrisi dari plasenta yang tersambung dengan ibu.
4. Memudahkan persalinan
Selama kehamilan uterus dapat mengalami kontraksi ringan yang tidak teratur (Braxton Hicks), sedangkan kontraksi persalinan terjadi secara teratur menjelang kelahiran. Kontraksi yang terjadi membantu melebarkan serviks agar mampu mendorong bayi keluar dari rahim dengan lebih mudah saat persalinan. Setelah bayi lahir, rahim akan tetap berkontraksi untuk mengeluarkan plasenta dan mengembalikan rahim ke ukuran normalnya. Selain itu, kontraksi juga membantu menghentikan pendarahan yang terjadi saat proses melahirkan.
Baca Juga: Fertilisasi Adalah Pembuahan, Begini Tahapannya
Jenis-Jenis Penyakit yang Mengganggu Uterus atau Rahim
Sejumlah penyakit dapat memengaruhi sistem reproduksi Anda, termasuk uterus. Beberapa kondisi membutuhkan perawatan ringan dan beberapa tergolong serius. Jenis penyakit yang mengganggu uterus antara lain:
1. Endometriosis
Endometriosis adalah kondisi ketika jaringan yang menyerupai endometrium tumbuh di luar kavum uteri. Misalnya, tumbuh pada ovarium atau saluran tuba falopi. Penyakit ini menimbulkan gejala seperti nyeri ketika haid, pendarahan atau bercak yang tidak teratur, nyeri selama atau setelah berhubungan intim, dan nyeri saat buang air kecil atau besar.
2. Fibroid (leiomyoma uteri)
Fibroid rahim adalah tumor non-kanker yang tumbuh di jaringan otot rahim. Penyakit ini seringkali tanpa gejala dan tidak memerlukan pengobatan. Namun, bagi beberapa orang, fibroid rahim dapat menyebabkan periode menstruasi yang berat disertai rasa nyeri. Pada kasus yang lebih parah, penanganan seperti ablasi endometrium, miomektomi, atau embolisasi fibroid rahim harus dilakukan.
3. Polip Rahim
Polip rahim adalah tumbuhnya benjolan yang menempel di dinding rahim. Ukuran benjolan bervariasi, ukurannya bervariasi, dari beberapa milimeter hingga beberapa sentimeter. Tidak semua polip rahim perlu dilakukan pengangkatan.
Misalnya, polip yang berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala. Namun, pengawasan tetap perlu dilakukan untuk mengetahui perkembangannya. Untuk polip yang mengganggu kesuburan, dokter dapat merekomendasikan tindakan histeroskopi sebagai metode diagnostik sekaligus pengangkatan.
4. Kanker Rahim
Dua jenis utama yang dapat memengaruhi rahim yaitu sarkoma rahim dan kanker endometrium. Kanker rahim akan menyebabkan penderitanya mengalami pendarahan rahim yang tidak normal. Penanganan untuk mengobati kanker rahim dilakukan dengan langkah operasi, kemoterapi, dan radioterapi.
5. Prolaps Rahim
Prolaps rahim secara umum disebut juga dengan turun rahim, yaitu suatu kondisi dimana rahim Anda keluar dari posisi semulanya. Pada beberapa kasus yang berat, rahim bisa turun hingga tampak keluar dari mulut vagina.
Baca juga: Gejala Endometriosis yang Perlu Diwaspadai
Kelainan Rahim yang Memengaruhi Kehamilan
Rahim yang tidak normal menjadi faktor seorang wanita sulit hamil. Selain itu, kelainan rahim juga bisa menyebabkan keguguran berulang. Beberapa kelainan rahim yang memengaruhi kehamilan antara lain:
1. Septate Uterus
Septate uterus memiliki dinding otot yang turun ke tengah dan membelah ruang menjadi dua. Terkadang, kondisi itu menyebabkan dinding hanya turun sebagian ke bawah rahim dan di lain waktu turun seluruhnya. Wanita dengan kelainan rahim ini cenderung mengalami kesulitan untuk implantasi dan menyebabkan keguguran berulang. Selain itu, kondisi ini juga meningkatkan risiko keguguran dini dan kelahiran prematur.
2. Bicornuate Uterus
Bicornuate uterus menyebabkan adanya lekukan yang dalam di bagian atas. Penyakit ini termasuk dalam jenis kelainan bawaan rahim. Sebagian besar wanita dengan bicornuate uterus tidak mengalami komplikasi. Namun, pada beberapa wanita kondisi ini berisiko menyebabkan keguguran dan kelahiran prematur.
3. Uterus Unicornuate
Uterus unicornuate adalah hanya memiliki satu tanduk uterus yang berkembang, yang menyebabkan ukuran rahim lebih kecil dari biasanya. Kondisi ini termasuk dalam kelainan bawaan di mana satu sisi rahim tidak berkembang dengan baik. Uterus unicornuate dapat menyebabkan kehamilan ektopik, keguguran, dan persalinan prematur.
4. Didelphic Uterus
Uterus didelphys merupakan kelainan bawaan di mana terdapat dua kavum uteri, sering disertai dua serviks dan kadang septum vagina. Kelainan ini tidak mengalami kesulitan apapun untuk hamil. Namun, kondisi ini dapat meningkatkan risiko mengalami kelahiran prematur.
5. Arcuate Uterus
Arcuate uterus terlihat mirip dengan rahim orang normal pada umumnya namun memiliki kemiringan di bagian atas. Sebagian besar wanita dengan arcuate uterus memiliki luaran kehamilan yang baik.
Baca Juga: Belum Hamil? Yuk, Lakukan Pemeriksaan Kesuburan!
Pengaruh Penyakit yang Mengganggu Uterus terhadap Kesuburan
Beberapa penyakit rahim, seperti fibroid submukosa atau polip endometrium, dapat mengganggu implantasi embrio. Endometriosis juga dapat menyebabkan perlengketan panggul yang mengganggu fungsi tuba falopi dan menurunkan kesuburan.
Uterus atau rahim memiliki fungsi penting dalam sistem reproduksi wanita. Jika terdapat masalah dengan rahim Anda dan menyebabkan rasa sakit. Segera periksakan diri agar mendapatkan penanganan yang tepat dan mencegah kondisi yang semakin parah. Sekian ulasan tentang fungsi uterus. Semoga bermanfaat.
FAQ
Berapa berat rahim wanita?
Berat rahim wanita dewasa yang belum pernah hamil umumnya sekitar 50–80 gram. Setelah pernah hamil atau melahirkan, ukuran dan berat rahim dapat sedikit lebih besar karena jaringan rahim pernah mengalami peregangan selama kehamilan.
Apa perbedaan uterus dan rahim?
Uterus dan rahim sebenarnya merujuk pada organ yang sama. Istilah “uterus” lebih sering digunakan dalam bahasa medis, sedangkan “rahim” adalah istilah yang lebih umum digunakan dalam bahasa sehari-hari.
Apa gejala awal kelainan rahim?
Gejala awal kelainan rahim dapat berupa nyeri haid berlebihan, perdarahan menstruasi yang sangat banyak, siklus haid tidak teratur, nyeri panggul, atau sulit hamil. Jika keluhan berlangsung berulang atau semakin berat, sebaiknya periksakan diri ke dokter kandungan.
Bagaimana cara menjaga kesehatan rahim?
Menjaga kesehatan rahim dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup sehat, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, dan menjaga kebersihan area kewanitaan. Pemeriksaan rutin ke dokter kandungan juga penting, terutama jika ada keluhan menstruasi atau nyeri panggul.









