Jenis-jenis kista ovarium meliputi kista fungsional, kista patologis (seperti dermoid, cystadenoma, dan endometrioma), serta kista yang berkaitan dengan PCOS. Penanganannya tergantung jenis dan kondisi, mulai dari pemantauan, pemberian obat, hingga tindakan operasi jika kista berukuran besar atau menimbulkan gejala berat.
Kista ovarium adalah kondisi ketika terbentuk kantung berisi cairan di dalam atau pada permukaan ovarium. Kondisi ini bisa terjadi karena perubahan hormon, siklus menstruasi, atau gangguan tertentu seperti endometriosis, dan gejalanya bisa berupa nyeri perut bawah, haid tidak teratur, atau perut terasa penuh.
Kista Ovarium Fungsional
Kista ovarium fungsional adalah jenis kista yang paling sering terjadi dan bukan termasuk penyakit berbahaya. Kondisi ini muncul sebagai bagian dari proses normal saat ovulasi atau siklus menstruasi.
Kista ini biasanya akan mengecil dan hilang sendiri dalam waktu sekitar 1–2 bulan tanpa pengobatan. Kondisi ini justru menandakan bahwa ovarium masih bekerja dengan normal. Kista ovarium memiliki beberapa jenis, di antaranya
1. Kista Folikel
Kista folikel adalah kista yang terbentuk ketika kantung kecil di ovarium tidak berhasil melepaskan sel telur saat ovulasi. Kondisi ini membuat kantung tersebut terisi cairan dan berkembang menjadi kista sederhana.
Kista ini umumnya tidak menimbulkan gejala dan sering tidak disadari oleh penderitanya. Banyak kasus ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan USG rutin.
Penyebab utama kista folikel adalah gangguan ringan pada proses ovulasi. Kondisi ini masih berkaitan dengan siklus menstruasi normal dan sering terjadi secara sementara.
Penanganan kista folikel biasanya tidak memerlukan tindakan khusus karena dapat hilang dengan sendirinya. Dokter biasanya hanya melakukan pemantauan untuk memastikan kista mengecil dalam beberapa siklus.
Baca Juga: Kenali Penyakit Kista dan Pengobatannya
2. Kista Korpus Luteum
Kista korpus luteum terbentuk setelah sel telur berhasil lepas dari ovarium. Struktur ini seharusnya mengecil secara alami jika tidak terjadi kehamilan.
Pada beberapa kondisi, korpus luteum justru terisi cairan dan berubah menjadi kista. Kista ini termasuk jenis fungsional yang umumnya tidak berbahaya.
Sebagian besar kista korpus luteum tidak menimbulkan gejala yang berarti. Namun, pada beberapa kasus dapat menyebabkan nyeri ringan di perut bagian bawah.
Penyebab kista ini biasanya berkaitan dengan proses ovulasi yang tidak berjalan sempurna. Penanganannya juga umumnya cukup dengan observasi karena kista dapat hilang sendiri dalam beberapa minggu.
3. Kista Patologis
Kista patologis adalah kista yang terbentuk akibat pertumbuhan sel yang tidak normal. Berbeda dengan kista fungsional, jenis ini tidak hilang sendiri dan bisa bertahan lebih lama.
Kista ini dapat bersifat jinak (tidak berbahaya) atau dalam kasus tertentu berpotensi menjadi serius. Karena itu, kista ini biasanya perlu pemantauan atau tindakan medis. Adapun jenis-jenis kista patologis, seperti:
4. Kista Dermoid
Kista dermoid merupakan jenis kista ovarium yang berisi jaringan tubuh seperti rambut, lemak, kulit, hingga gigi. Kondisi ini terbentuk sejak tahap awal perkembangan sel sehingga dapat membawa berbagai jenis jaringan di dalam satu kantung.
Pada banyak kasus, kista ini tidak menimbulkan gejala dan baru terdeteksi saat pemeriksaan USG. Jika ukurannya membesar, keluhan yang muncul bisa berupa nyeri perut bawah atau rasa tidak nyaman di panggul.
Penyebabnya berasal dari perkembangan sel yang tidak normal sejak awal pembentukan tubuh. Kondisi ini tidak berkaitan dengan siklus hormon sehingga tidak dapat hilang dengan sendirinya.
Penanganan umumnya melalui operasi jika kista menimbulkan gejala atau terus membesar. Tindakan ini bertujuan mengangkat kista secara menyeluruh agar tidak muncul kembali.
5. Kista Cystadenoma (Serosa dan Musinosa)
Kista cystadenoma termasuk tumor jinak yang tumbuh di permukaan ovarium dan berisi cairan. Kondisi ini dapat berkembang menjadi cukup besar jika tidak tertangani dengan tepat.
Gejala yang sering muncul berupa rasa penuh di perut, kembung, atau nyeri saat kista sudah membesar. Dalam beberapa kondisi, kista juga dapat menekan organ di sekitarnya.
Penyebabnya berasal dari pertumbuhan sel epitel ovarium yang tidak normal. Pertumbuhan ini membentuk kantung berisi cairan yang dapat terus berkembang seiring waktu.
Penanganan biasanya dengan operasi, terutama jika ukuran kista besar atau menimbulkan keluhan. Pemeriksaan dokter perlu untuk menentukan langkah terbaik sesuai kondisi pasien.
6. Kista Endometrioma (Kista Cokelat)
Kista endometrioma terbentuk akibat kondisi endometriosis. Endometrioma berisi darah lama berwarna cokelat sehingga sering disebut kista cokelat.
Gejala yang umum muncul meliputi nyeri panggul, nyeri hebat saat menstruasi, dan nyeri saat berhubungan intim. Pada sebagian kasus, kondisi ini juga dapat memengaruhi kesuburan.
Penyebabnya berasal dari jaringan endometrium yang tumbuh di luar rahim dan menempel di ovarium. Jaringan ini tetap bereaksi terhadap siklus menstruasi sehingga membentuk kista berisi darah lama.
Penanganan dapat berupa obat untuk mengontrol gejala atau pemantauan secara berkala. Jika perlu, dokter dapat menyarankan operasi laparoskopi untuk mengangkat kista dan mengurangi nyeri.
Baca Juga: Apakah Kista Pengaruhi Kesuburan Wanita?
7. Polikistik (PCOS)
PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) adalah kondisi ketika hormon dalam tubuh wanita tidak seimbang dan memengaruhi fungsi ovarium. Kondisi ini paling sering terjadi pada wanita usia reproduksi dan dapat mengganggu siklus menstruasi secara normal.
Salah satu gejala utama PCOS adalah haid yang tidak teratur, bisa sangat jarang, terlambat, atau bahkan tidak datang sama sekali. Selain itu, sebagian wanita juga mengalami jerawat berlebih, pertumbuhan rambut di area tertentu, dan kenaikan berat badan.
Penyebab PCOS belum diketahui secara pasti, tetapi biasanya berkaitan dengan ketidakseimbangan hormon androgen dan insulin. Faktor genetik dan gaya hidup juga dapat berperan dalam meningkatkan risiko terjadinya kondisi ini.
Penanganan PCOS biasanya dilakukan dengan perubahan gaya hidup seperti menjaga berat badan ideal dan pola makan sehat. Dokter juga dapat memberikan terapi hormon atau obat untuk membantu mengatur siklus menstruasi dan meningkatkan peluang ovulasi.
Tanda Kista Bisa Berbahaya
Tidak semua kista ovarium berbahaya, tetapi ada beberapa tanda yang perlu diwaspadai. Tanda-tanda ini biasanya ditemukan saat pemeriksaan USG atau saat kista menimbulkan gejala tertentu.
Jika muncul tanda-tanda berikut, dokter biasanya akan menyarankan pemeriksaan lanjutan atau tindakan medis lebih cepat.
1. Ukuran Kista yang Membesar
Kista ovarium dapat menjadi perhatian serius jika ukurannya terus bertambah besar. Umumnya, kista yang sudah mencapai sekitar 5–10 cm atau lebih dianggap perlu pemantauan lebih ketat karena berisiko menimbulkan komplikasi.
Pada ukuran tersebut, kista dapat mulai menekan organ di sekitarnya seperti kandung kemih atau usus. Hal ini bisa menyebabkan rasa tidak nyaman, sering buang air kecil, atau nyeri di area perut bawah.
Jika kista terus membesar, risiko terjadinya komplikasi juga semakin meningkat. Dua kondisi yang paling dikhawatirkan adalah ovarium terpuntir (torsio) atau kista pecah.
Torsio ovarium terjadi ketika ovarium berputar akibat beban dari kista yang besar. Kondisi ini menyebabkan aliran darah terganggu dan menimbulkan nyeri mendadak yang sangat hebat.
Sementara itu, kista yang pecah dapat menyebabkan cairan di dalamnya keluar ke rongga perut. Kondisi ini sering disertai nyeri tajam mendadak, perut terasa kembung, dan pada beberapa kasus bisa terjadi perdarahan.
Jika kista sudah mencapai ukuran besar atau menunjukkan pertumbuhan yang cepat, dokter biasanya akan melakukan pemantauan lebih ketat. Pemeriksaan USG berkala sering dilakukan untuk melihat perubahan ukuran dan struktur kista.
Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan tindakan operasi untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Keputusan ini biasanya diambil berdasarkan ukuran kista, gejala yang dirasakan, dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.
2. Hasil USG yang Terlihat Tidak Normal
Kista yang terlihat tidak normal pada pemeriksaan USG perlu diwaspadai karena dapat menunjukkan risiko tertentu. Dokter biasanya menilai struktur, isi, dan aliran darah di dalam kista untuk menentukan tingkat keamanannya.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah adanya sekat tebal di dalam kista atau thick septations. Kondisi ini terjadi ketika dinding pemisah di dalam kista lebih tebal dari ukuran normal, sehingga menunjukkan struktur kista yang lebih kompleks.
Tanda lain adalah adanya bagian padat atau nodul di dalam kista. Bagian ini terlihat berbeda dari cairan biasa karena memiliki tekstur lebih solid dan menempel pada dinding kista.
Selain itu, adanya bayangan atau isi tidak jernih di dalam kista juga perlu diperhatikan. Hal ini bisa menunjukkan adanya darah lama, cairan kental, atau nanah yang membuat isi kista tampak lebih keruh.
Dinding kista yang tidak rata atau menebal juga menjadi tanda yang perlu dievaluasi lebih lanjut. Kondisi ini menunjukkan bahwa kista tidak memiliki bentuk sederhana seperti kista normal pada umumnya.
Pada beberapa kasus, dokter juga melihat adanya aliran darah di dalam kista menggunakan pemeriksaan Doppler. Jika terdapat vaskularisasi di bagian padat atau sekat, kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa kista perlu pemeriksaan lebih lanjut.
3. Pemeriksaan CA-125
Pemeriksaan CA-125 adalah tes darah yang membantu dokter menilai kemungkinan adanya gangguan pada ovarium, termasuk kista. Tes ini mengukur kadar protein CA-125 di dalam darah sebagai salah satu penanda kondisi kesehatan reproduksi.
Hasil pemeriksaan ini tidak bisa berdiri sendiri untuk menegakkan diagnosis. Biasanya dokter akan menggabungkannya dengan hasil USG dan kondisi pasien secara keseluruhan.
Jika hasil CA-125 tinggi, dokter belum tentu langsung menyimpulkan adanya kanker. Namun, kondisi ini tetap perlu tindaklanjuti dengan pemeriksaan tambahan untuk memastikan penyebabnya.
Berikut penjelasan kondisi hasil CA-125:
- Sedang menjalani pengobatan kanker ovarium: Jika kadar CA-125 menurun selama pengobatan, ini biasanya menandakan terapi berjalan baik. Namun jika tetap tinggi atau meningkat, bisa berarti pengobatan belum bekerja secara optimal.
- Setelah pengobatan selesai: Bila kadar CA-125 kembali naik setelah terapi selesai, hal ini dapat menjadi tanda kemungkinan kanker kambuh. Kondisi ini perlu segera diperiksa lebih lanjut oleh dokter.
- Memiliki risiko tinggi atau ada benjolan mencurigakan: Pada orang dengan risiko tinggi atau adanya benjolan di panggul, kadar CA-125 yang tinggi bisa menjadi tanda awal adanya masalah serius. Dokter biasanya akan meminta pemeriksaan tambahan untuk memastikan diagnosis.
Kapan Kista Perlu Operasi?
Sebelum tindakan operasi atau biopsi, dokter biasanya akan menilai kondisi kista terlebih dahulu melalui pemeriksaan. Tidak semua kista harus dioperasi karena sebagian bisa hilang atau dipantau secara berkala.
Tindakan operasi atau biopsi hanya dokter lakukan jika kista menunjukkan tanda-tanda berisiko atau mengganggu kesehatan. Berikut kondisi yang biasanya menjadi pertimbangan medis:
- Nyeri atau tidak nyaman: Kista yang menyebabkan nyeri, rasa tertekan, atau mengganggu aktivitas biasanya perlu operasi. Hal ini untuk mengurangi keluhan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
- Terjadi infeksi: Jika kista tampak merah, terasa hangat, nyeri, atau mengeluarkan nanah, itu menandakan infeksi. Kondisi ini sering membutuhkan tindakan drainase atau operasi pengangkatan.
- Tumbuh cepat: Kista yang ukurannya cepat membesar perlu pemeriksaan lebih lanjut. Pertumbuhan yang cepat bisa menjadi tanda adanya masalah yang lebih serius.
- Sering kambuh: Kista yang sudah pernah dikosongkan tetapi muncul kembali biasanya perlu diangkat. Hal ini agar kantung kista tidak terbentuk lagi.
- Mengganggu lokasi atau aktivitas: Kista di area seperti leher, kulit kepala, atau ketiak dapat mudah tergesek dan menimbulkan rasa tidak nyaman. Dalam kondisi ini, pengangkatan sering direkomendasikan.
Biopsi dilakukan jika dokter mencurigai kista tidak sepenuhnya jinak atau memiliki karakteristik yang tidak biasa. Tindakan ini bertujuan untuk memastikan apakah jaringan tersebut berbahaya atau tidak.
Pemeriksaan biopsi biasanya dokter lakukan ketika hasil USG menunjukkan adanya bagian padat, dinding kista yang tebal, atau struktur yang tidak normal. Kondisi ini tidak bisa dipastikan hanya dari pemeriksaan visual sehingga perlu analisis laboratorium.
Jika dokter belum bisa menentukan jenis kista dari pemeriksaan awal, biopsi akan membantu memberikan diagnosis yang lebih akurat. Hasilnya untuk menentukan apakah kista perlu tindakan lebih lanjut atau cukup dipantau saja.
Baca Juga: Blastosis (Blastokista) pada Bayi Tabung, Seperti Apa?
FAQ
Apakah Penyakit Kista Berbahaya?
Kista tidak selalu berbahaya karena banyak yang bersifat jinak dan bisa hilang sendiri tanpa pengobatan. Namun, beberapa kista bisa menimbulkan masalah jika tumbuh besar, menimbulkan nyeri, atau mengganggu organ sekitar sehingga perlu pemeriksaan dokter.
Apakah Kista Folikel Berbahaya?
Kista folikel umumnya tidak berbahaya karena termasuk kista fungsional yang terbentuk saat proses ovulasi. Kista ini biasanya tidak menimbulkan gejala dan akan mengecil atau hilang sendiri dalam beberapa siklus menstruasi.
Apakah Kista Dermoid Bisa Menjadi Kanker?
Kista dermoid umumnya bersifat jinak dan sangat jarang berubah menjadi kanker. Meski begitu, dokter tetap perlu melakukan evaluasi untuk memastikan ukuran dan kondisinya aman, terutama jika kista terus membesar.
Apakah Endometrioma Berbahaya untuk Kesuburan?
Endometrioma dapat memengaruhi kesuburan karena berkaitan dengan endometriosis yang dapat mengganggu fungsi ovarium. Kondisi ini bisa membuat ovulasi tidak optimal dan menurunkan peluang kehamilan jika tidak tertangani.
Apakah Semua Jenis Kista Ovarium Perlu Operasi?
Tidak semua kista ovarium perlu operasi karena banyak yang bisa hilang sendiri atau cukup dipantau. Operasi biasanya jika kista besar, menimbulkan nyeri, tidak mengecil, atau dicurigai tidak normal.









