Suplemen untuk kualitas sperma sering digunakan sebagai vitamin penyubur sperma karena berkaitan dengan jumlah, pergerakan, dan kualitas DNA sperma. Jenis suplemen yang sering direkomendasikan, seperti asam D-aspartat (D-AA), vitamin C, vitamin D, zinc, vitamin B12, folat, CoQ10 (Coenzyme Q10), asam lemak omega-3, likopen, dan vitamin E.
Selain asupan nutrisi, kualitas sperma juga berkaitan dengan gaya hidup, paparan lingkungan, dan kondisi kesehatan. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan antara lain berat badan berlebih, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol atau obat-obatan, serta paparan panas dan bahan kimia.
Suplemen untuk Meningkatkan Kualitas Sperma
Suplemen tertentu sering pria gunakan sebagai salah satu pilihan untuk membantu menjaga kualitas sperma. Banyak pria mencari suplemen agar sperma sehat, terutama yang mengandung vitamin, mineral, dan antioksidan.
1. Suplemen Asam D-aspartat
Asam D-aspartate (D-AA) adalah salah satu jenis asam amino yang tersedia dalam bentuk suplemen. Zat ini ditemukan secara alami di beberapa bagian tubuh pria, seperti testis, cairan semen, dan sel sperma.
Beberapa penelitian pada hewan menunjukkan bahwa D-AA dapat meningkatkan kadar testosteron, hormon yang berperan dalam kesuburan pria. Pada penelitian tahun 2012, pria dengan masalah kesuburan yang mengonsumsi 2,66 gram D-AA selama 3 bulan mengalami peningkatan kadar testosteron hingga 60%.
Penelitian tersebut juga menunjukkan peningkatan jumlah dan pergerakan sperma hingga 100%, serta lebih banyak pasangan yang berhasil mengalami kehamilan. Namun, manfaat D-AA terhadap testosteron dan kesuburan pria masih perlu penelitian lebih lanjut. Sebelum mengonsumsi suplemen D-AA, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
Baca Juga: Mengenal Teratozoospermia atau Kelainan pada Sperma
2. Vitamin C
Stres oksidatif terjadi ketika kadar reactive oxygen species (ROS) dalam tubuh meningkat dan menyebabkan kerusakan pada sel. Kondisi ini bisa karena berbagai faktor, seperti penyakit, usia, paparan polusi, atau gaya hidup yang kurang sehat.
Pada pria, stres oksidatif dapat memengaruhi jumlah dan kualitas sperma yang kemudian berkaitan dengan gangguan kesuburan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi antioksidan, termasuk vitamin C membantu memperbaiki kualitas sperma dan meningkatkan peluang kehamilan pasangan.
Namun, masih perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui seberapa besar pengaruh antioksidan terhadap kesuburan pria.
3. Vitamin D
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin D yang rendah berkaitan dengan kadar testosteron yang lebih rendah pada pria. Hal tersebut juga dapat berpengaruh terhadap kesuburan pria.
Meski vitamin D berperan dalam menjaga fungsi testis dan prostat, penelitian tahun 2020 menunjukkan bahwa konsumsi suplemen vitamin D belum terbukti secara jelas meningkatkan kadar testosteron. Karena itu, sebaiknya konsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen vitamin D untuk tujuan meningkatkan testosteron.
4. Zinc
Kandungan zinc merupakan mineral penting yang ada dalam makanan hewani seperti daging, ikan, telur, dan makanan laut. Zinc untuk kesuburan pria menjadi salah satu nutrisi yang penting karena kadar zinc yang cukup berkaitan dengan kesehatan reproduksi pria.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kekurangan zinc berkaitan dengan kadar testosteron yang rendah, kualitas sperma yang buruk, dan peningkatan risiko infertilitas pria. Pada pria dengan kadar zinc rendah, konsumsi suplemen zinc juga dapat membantu meningkatkan kadar testosteron dan jumlah sperma.
5. Vitamin B12
Tubuh membutuhkan vitamin B12 untuk proses pembentukan energi dan produksi sperma. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asupan vitamin B12 yang cukup berkaitan dengan kualitas sperma yang lebih baik.
Vitamin B12 juga memiliki efek yang serupa dengan antioksidan dalam membantu menjaga jumlah sperma. Hasil dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa vitamin B12 berkaitan dengan peningkatan jumlah dan pergerakan sperma, serta penurunan kerusakan DNA sperma.
Penelitian tahun 2024 membandingkan kadar vitamin B12 pada pria dengan jumlah sperma rendah dan pria subur. Hasilnya, pria dengan gangguan kesuburan memiliki kadar vitamin B12 yang lebih rendah.
6. Folat
Folat adalah salah satu jenis vitamin B untuk mendukung proses pembentukan sperma. Penelitian tahun 2020 menunjukkan bahwa pria dengan asupan folat yang kurang memiliki jumlah sperma lebih rendah daripada pria dengan asupan folat yang cukup.
Hal serupa juga terjadi pada penelitian tahun 2024. Pria dengan kadar folat yang cukup memiliki konsentrasi, vitalitas, dan pergerakan sperma yang lebih baik, serta risiko bentuk sperma tidak normal dan kerusakan DNA yang lebih rendah.
7. CoQ10 (Coenzyme Q10)
CoQ10 untuk sperma menjadi salah satu suplemen yang banyak dibahas karena kandungan ini membantu melindungi sperma dari stres oksidatif yang dapat memengaruhi kualitas sperma. Penelitian tahun 2025 yang menggabungkan sembilan studi dengan 781 pria yang mengalami infertilitas tanpa penyebab jelas menunjukkan bahwa konsumsi CoQ10 meningkatkan konsentrasi sperma rata-rata sekitar 10,22 juta sperma/mL dibandingkan pria yang tidak mengonsumsinya.
CoQ10 juga ditemukan secara alami terdapat dalam cairan semen. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi suplemen CoQ10 bisa meningkatkan kadar CoQ10 dalam semen dan berkaitan dengan peningkatan kualitas sperma.
8. Asam Lemak Omega-3
Asam lemak omega-3 membantu menjaga struktur sel sperma, mengurangi peradangan, dan melindungi sperma dari stres oksidatif. Berdasarkan berbagai penelitian, omega-3 termasuk nutrisi yang dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi sperma, sekitar 9,89 juta sperma/mL lebih tinggi daripada pria yang tidak mengonsumsinya.
Penelitian tahun 2024 pada pria dengan jumlah sperma rendah menunjukkan bahwa konsumsi omega-3 sebanyak 1 gram dua kali sehari selama 12 minggu meningkatkan konsentrasi sperma dari sekitar 11 juta menjadi 34 juta/mL. Sebanyak 76,7% pria dalam penelitian tersebut juga mencapai jumlah sperma normal.
9. Likopen
Likopen merupakan pigmen alami yang memberikan warna merah pada tomat. Selain memberikan warna, manfaat likopen juga dikenal sebagai salah satu antioksidan yang dapat membantu menjaga kesehatan sperma.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa likopen berkaitan dengan peningkatan jumlah sperma. Tomat yang kaya akan likopen juga termasuk salah satu makanan yang dikaitkan dengan peningkatan jumlah dan pergerakan sperma.
11. Ashwagandha
Ashwagandha (Withania somnifera) adalah tanaman yang berasal dari India dan Afrika Utara. Tanaman ini telah digunakan dalam pengobatan Ayurveda selama ribuan tahun.
Penelitian terbaru menemukan bahwa ashwagandha mengandung senyawa withanolides yang memiliki sifat antioksidan dan membantu mengurangi stres. Salah satu studi melaporkan bahwa konsumsi ashwagandha meningkatkan volume semen hingga 53%, pergerakan sperma hingga 57%, dan jumlah sperma hingga 167%.
Penelitian lain pada pria dengan infertilitas juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah dan pergerakan sperma setelah konsumsi ashwagandha, serta penurunan stres oksidatif yang dapat memengaruhi kualitas sperma.
Namun, hasil tersebut tidak berarti setiap pria akan mengalami peningkatan yang sama. Penggunaan suplemen ashwagandha tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Baca Juga: Morfologi Sperma: Bentuk Normal yang Mempengaruhi Kesuburan
11. Vitamin E
Vitamin E terdiri dari delapan jenis antioksidan yang disebut tokoferol. Antioksidan ini membantu melindungi tubuh dari radikal bebas, yaitu molekul tidak stabil yang terbentuk selama proses oksidasi.
Radikal bebas bisa memengaruhi kesehatan sperma apabila tidak dinetralkan oleh antioksidan. Proses pembentukan sperma berlangsung secara terus-menerus sehingga sel sperma rentan terhadap dampak dari radikal bebas.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi vitamin E dan antioksidan dapat meningkatkan jumlah serta pergerakan sperma. Karena proses oksidasi terjadi secara terus-menerus, kebutuhan vitamin E perlu dipenuhi secara rutin.
Sumber vitamin E bisa diperoleh dari makanan seperti biji bunga matahari, sereal yang diperkaya vitamin, almond, hazelnut, bayam, kale, alpukat, brokoli, serta minyak bunga matahari, safflower, dan kedelai. Vitamin E juga tersedia dalam bentuk suplemen.
Rekomendasi Diet dan Gaya Hidup untuk Menjaga Kesuburan Pria
Menjaga kesuburan pria membutuhkan beberapa perubahan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari pola makan, kebiasaan hidup, hingga penggunaan suplemen tertentu. Proses pematangan sperma membutuhkan waktu sekitar 70 hari sehingga perubahan ini perlu dilakukan secara konsisten selama setidaknya tiga bulan untuk melihat hasilnya.
Berikut beberapa perubahan gaya hidup yang bisa Anda lakukan:
1. Pilih Pola Makan Kaya Nutrisi
Konsumsi makanan utuh yang kaya vitamin, mineral, dan antioksidan. Seimbangkan makanan dengan protein, lemak sehat, serta sayuran rendah pati. Pilih juga biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sumber karbohidrat tinggi serat untuk membantu mengatur kadar gula darah.
2. Konsumsi Lemak Sehat
Pilih sumber lemak tak jenuh tunggal dan omega-3 yang berasal dari minyak zaitun, alpukat, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Hindari lemak trans yang banyak ditemukan pada makanan gorengan dan minyak nabati olahan.
3. Batasi Makanan yang Memicu Peradangan
Kurangi konsumsi gula, alkohol, makanan olahan, dan lemak trans. Sebaliknya, pilih makanan yang bersifat antiinflamasi seperti sayuran hijau, buah beri, kacang-kacangan, dan ikan.
4. Jaga Berat Badan Sehat
Obesitas bisa menurunkan kadar testosteron dan jumlah sperma. Lakukan olahraga secara rutin dan konsumsi makanan seimbang untuk membantu menjaga kondisi tersebut.
5. Lakukan Olahraga Secukupnya
Lakukan olahraga dengan intensitas sedang, seperti jalan cepat, jogging, dan latihan kekuatan. Hindari latihan daya tahan yang berlebihan karena dapat menurunkan kadar testosteron.
6. Kurangi Paparan Racun Lingkungan
Pilih produk organik untuk mengurangi paparan pestisida. Selain itu, batasi paparan terhadap plastik, bahan kimia industri, dan polutan.
7. Pertimbangkan Suplemen
Makanan tetap menjadi sumber nutrisi utama. Namun, multivitamin dan antioksidan tertentu dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi. Beberapa suplemen yang disebutkan meliputi:
- Luminary Vitamin Create for Men (formula kesuburan pria)
- Luminary Vitamin Thrive for Men (multivitamin harian)
- Theralogix Conception XR Motility
- Theralogix CoQ10
- Theralogix Solo Daily Multivitamin
- Nordic Naturals Omega-3 Fish Oil (tersedia pilihan vegan)
Baca Juga: Cara Membedakan Sperma Subur dan Tidak Beserta Gejalanya
Risiko Bahaya yang Perlu Diperhatikan
Mengonsumsi suplemen tanpa kebutuhan yang jelas, terutama dalam jumlah yang melebihi anjuran bisa menimbulkan masalah kesehatan. Beberapa kandungan dalam suplemen, seperti zat besi, zinc, kalsium, dan vitamin C, jika dikonsumsi terlalu banyak menyebabkan gangguan pencernaan.
Selain itu, kadar vitamin D dan vitamin C yang tinggi juga meningkatkan risiko batu ginjal, sedangkan kelebihan vitamin B6 menyebabkan gangguan saraf. Suplemen kesuburan pria umumnya mengandung antioksidan.
Namun, konsumsi antioksidan dalam jumlah berlebihan juga tidak baik. Jika kadar antioksidan dalam tubuh terlalu tinggi dibandingkan reactive oxygen species (ROS), tubuh mengalami kondisi yang disebut reductive stress.
Kondisi ini bisa mengganggu kesehatan sperma dan perkembangan embrio. Pada pria dengan male oxidative stress infertility (MOSI), yaitu kondisi ketika kadar ROS lebih tinggi dibandingkan antioksidan, suplemen antioksidan dapat membantu memperbaiki kualitas sperma jika dikonsumsi selama tiga bulan atau lebih.
Namun, pada pria yang tidak mengalami MOSI, konsumsi antioksidan justru memberikan efek samping.
Sebelum memilih suplemen, analisis sperma sebaiknya dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi sperma Anda.
FAQ
Suplemen apa yang terbaik untuk sperma? Berapa lama suplemen bekerja?
Tidak ada satu jenis suplemen yang paling baik untuk semua pria. Beberapa suplemen seperti CoQ10, L-Carnitine sperma, zinc, selenium, serta vitamin C dan E dapat membantu menjaga kualitas sperma, termasuk jumlah, pergerakan, dan DNA sperma. Umumnya, suplemen membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk menunjukkan perubahan karena proses pembentukan sperma berlangsung sekitar 74-90 hari.
Apakah CoQ10 efektif untuk sperma?
Ya. CoQ10 (Coenzyme Q10) dapat membantu memperbaiki beberapa aspek kualitas sperma, seperti jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma. CoQ10 bekerja dengan membantu mengurangi stres oksidatif dan mendukung produksi energi pada sel sperma.
Apakah cukup dari makanan saja untuk menjaga kualitas sperma?
Tidak. Pola makan sehat memang membantu memenuhi kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan sperma, seperti antioksidan, zinc, dan omega-3. Namun, kualitas sperma tidak hanya dipengaruhi oleh makanan, tetapi juga oleh gaya hidup, paparan lingkungan, dan kondisi medis tertentu.








