Teratozoospermia Adalah Kelainan Sperma: Kenali Penanganannya

Teratozoospermia Adalah Kelainan Sperma: Kenali Penanganannya

Teratozoospermia Adalah Kelainan Sperma: Kenali Penanganannya

Teratozoospermia adalah kondisi medis yang dapat memengaruhi kesuburan pria. Teratozoospermia yang tidak segera ditangani dapat mengganggu kemampuan sperma untuk membuahi sel telur. Ketahui secara mendalam mengenai penyebab teratozoospermia serta opsi penanganan yang dapat dilakukan.

Apa yang Dimaksud dengan Teratozoospermia?

Sperma dengan morfologi sehat dibutuhkan untuk membuahi sel telur dan membentuk embrio yang sehat. Sperma dengan morfologi yang sehat memiliki bentuk kepala, leher, dan ekor yang baik serta proporsional. Sebaliknya, sperma dengan morfologi yang tidak normal menyebabkan gangguan kemampuan sperma untuk membuahi sel telur dapat mengganggu proses pembuahan.

Teratozoospermia adalah kondisi medis di mana seorang pria memiliki jumlah sperma yang abnormal atau cacat secara morfologi. Pada kondisi ini, lebih dari 40% dari sperma yang diproduksi oleh pria memiliki bentuk abnormal atau cacat. Sperma yang cacat atau abnormal ini dapat memengaruhi kesuburan sperma dan menghambat terjadinya kehamilan.

Jika dengan teratozoospermia, perlu mendapatkan perawatan untuk meningkatkan kualitas sperma serta peluang kehamilan. Oleh karena itu, penting bagi pria yang memiliki masalah kesuburan untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai langkah penanganan yang tepat.

Baca Juga: Seputar Kondom Pria dan Wanita: Perbedaan dan Manfaatnya

Apa Penyebab Teratozoospermia?

1. Gangguan Hormonal

Gangguan hormonal pada pria dapat menjadi salah satu penyebab teratozoospermia. Kelenjar hipotalamus dan hipofisis pada otak bertugas memproduksi gonadotropin-releasing hormone (GnRH) dan luteinizing hormone (LH) yang penting dalam proses produksi sperma. Jika kedua hormon tersebut terganggu akan berdampak pada produksi sperma. Kadar testosteron yang rendah dapat memengaruhi produksi dan kualitas sperma, sehingga meningkatkan risiko teratozoospermia.

2. Paparan Bahan Kimia

Bahan kimia berbahaya dapat merusak kromosom dan DNA dalam sperma, mengganggu fungsi sel sperma, dan menghambat kemampuan sperma untuk membuahi sel telur. Selain itu, paparan bahan kimia seperti pestisida, logam berat, serta bahan kimia industri lainnya juga dapat menyebabkan gangguan hormonal, sehingga memengaruhi produksi sperma dan memicu teratozoospermia. Paparan terhadap bahan kimia dapat terjadi di tempat kerja, lingkungan, atau melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi.

Baca Juga: Belum Hamil? Yuk, Lakukan Pemeriksaan Kesuburan!

3. Paparan Radiasi

Paparan radiasi tinggi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel sperma dan meningkatkan risiko terjadinya teratozoospermia serta infertilitas. Selain itu, paparan radiasi juga dapat memengaruhi struktur kromosom dan DNA pada sel sperma, sehingga menyebabkan teratozoospermia. Umumnya, paparan radiasi dapat berasal dari berbagai sumber, seperti radioterapi, pemeriksaan sinar-X pada daerah panggul, atau paparan dari lingkungan.

4. Infeksi

Mengalami infeksi pada sistem reproduksi pria seperti epididimitis, orchitis, prostatitis, atau uretritis dapat meningkatkan risiko teratozoospermia. Infeksi yang terjadi akan memengaruhi proses produksi sperma dan kualitas sperma. Selain itu, infeksi yang tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan peradangan dan memengaruhi pH lingkungan dalam saluran reproduksi pria, sehingga memengaruhi motilitas dan morfologi sperma.

5. Stres

Stres yang terjadi pada pria dapat meningkatkan produksi hormon kortisol, yaitu hormon yang dapat memengaruhi sistem reproduksi pada pria. Kondisi tersebut dapat mengurangi jumlah sperma, pergerakan, dan morfologi sperma yang sehat. Selain itu, stres berkepanjangan juga dapat memengaruhi sirkulasi darah dan memperlambat pasokan nutrisi serta oksigen ke sel-sel tubuh, termasuk sperma.

Teratozoospermia Adalah Kelainan Sperma: Kenali Penanganannya

Penanganan teratozoospermia dapat dilakukan melalui teknik reproduksi berbantu.

6. Genetik

Faktor genetik juga dapat menjadi penyebab teratozoospermia pada pria. Beberapa kondisi seperti sindrom klinefelter, sindrom kartagener, dan mikrodelesi pada kromosom Y dapat memengaruhi produksi sperma dan mengakibatkan teratozoospermia. Selain itu, mutasi genetik pada beberapa gen yang terlibat dalam pembentukan sperma, seperti gen HSP90B1, TEX11, dan DPY19L2 juga dapat menyebabkan teratozoospermia.

7. Konsumsi Obat-obatan

Konsumsi obat-obatan tertentu dapat menyebabkan teratozoospermia pada pria. Contohnya, obat kemoterapi yang digunakan untuk mengobati kanker dapat mempengaruhi produksi sperma. Obat-obatan lain yang dikonsumsi dalam jangka panjang, seperti antihipertensi, antiandrogen, dan obat-obatan imunosupresif yang digunakan untuk mengobati kondisi medis tertentu juga dapat menyebabkan teratozoospermia.

8. Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol

Gaya hidup tidak sehat, seperti merokok dan minum alkohol dapat menyebabkan teratozoospermia. Kandungan nikotin dalam rokok dapat merusak sel sperma dan memengaruhi kualitas serta kuantitas sperma. Sementara itu, konsumsi alkohol yang berlebihan dapat memengaruhi produksi sperma dan mengurangi kualitas sperma.

Penelitian juga menambahkan bahwa memiliki kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol yang berlebihan dapat meningkatkan risiko infertilitas pada pria. Oleh karena itu, jika seorang pria ingin meningkatkan kesuburan dan menghindari teratozoospermia disarankan untuk menghindari merokok dan membatasi konsumsi alkohol..

Baca Juga: 3 Tahap Inseminasi Buatan IUI untuk Gangguan Infertilitas

Apakah Penderita Teratozoospermia Bisa Bayi Tabung?

Penderita teratozoospermia dapat mencoba program bayi tabung untuk meningkatkan peluang kehamilan. Namun, keberhasilan program bayi tabung akan tergantung pada kondisi pasien dan tingkat keparahan sperma yang dimilikinya.

Pada program bayi tabung, sel telur yang telah matang diambil dari ovarium wanita dan dibuahi di laboratorium oleh sperma yang telah dipersiapkan. Selanjutnya, embrio yang telah dibuahi akan ditanamkan kembali ke rahim wanita agar berkembang menjadi janin.

Sperma yang berkualitas harus memiliki beberapa karakteristik seperti:

  • Jumlah sperma yang cukup, minimal sekitar 15 juta sperma per mililiter air mani atau sekitar 39 juta sperma dalam seluruh ejakulasi.
  • Bentuk sperma yang normal atau tidak cacat dengan persentase morfologi normal minimal 4% dari total jumlah sperma.
  • Sekitar 40% atau lebih sperma harus memiliki kemampuan bergerak yang baik untuk dapat mencapai sel telur dan membuahi dengan efektif

Sebelum melakukan program bayi tabung pastikan Anda berkonsultasi dengan dokter untuk merencanakan program kehamilan yang tepat.

Baca Juga: Mengenal Vasektomi Kontrasepsi untuk Pria yang Ingin Mengendalikan Kehamilan

Apa Perbedaan Teratozoospermia dan Azoospermia?

Teratozoospermia dan azoospermia adalah dua kondisi yang berbeda mengenai masalah sperma pria. Teratozoospermia adalah kondisi di mana jumlah sperma normal tetapi sebagian besar atau seluruhnya memiliki bentuk yang abnormal atau cacat. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan sperma untuk membuahi sel telur dan menyebabkan infertilitas pada pria.

Sementara itu, azoospermia adalah kondisi di mana tidak ada sperma yang ditemukan dalam air mani. Azoospermia dapat terjadi karena beberapa alasan, termasuk masalah produksi sperma di dalam tubuh, masalah dengan sistem transportasi sperma, atau masalah dengan ejakulasi. Azoospermia dapat menghambat kemampuan pria untuk membuahi sel telur secara alami dan dapat menyebabkan infertilitas. Oleh karena itu, penting untuk melakukan evaluasi dan diagnosa yang tepat dengan dokter spesialis.

Penanganan Teratozoospermia

Penanganan teratozoospermia tergantung pada tingkat keparahan kondisi dan penyebabnya. Beberapa cara penanganan yang dapat dilakukan antara lain:

1. Pengobatan Medis

Pengobatan dapat direkomendasikan untuk mengobati kondisi medis yang mendasari teratozoospermia, seperti infeksi atau gangguan hormonal. Terapi hormon dapat digunakan jika teratozoospermia disebabkan oleh gangguan hormonal, seperti kadar testosteron yang rendah. Pemberian hormon dapat membantu mengoptimalkan produksi sperma dan memperbaiki kualitas sperma.

Sedangkan, obat antibiotik dapat diberikan jika teratozoospermia disebabkan oleh infeksi saluran reproduksi. Infeksi dapat mengganggu produksi dan kualitas sperma, sehingga mengobati infeksi dapat membantu meningkatkan kualitas sperma.

Selain itu, pemberian suplemen vitamin seperti asam folat, vitamin C, vitamin E, dan selenium dianggap dapat membantu meningkatkan kualitas sperma. Penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum mengonsumsi obat agar mendapat rekomendasi yang tepat.

2. Perubahan Gaya Hidup

Perubahan gaya hidup menjadi lebih sehat, juga dapat meningkatkan kualitas sperma. Beberapa perubahan gaya hidup yang direkomendasikan seperti menjaga berat badan ideal, menghindari stres, menghindari paparan bahan kimia berbahaya, menghindari konsumsi alkohol dan rokok, serta menjaga pola makan yang sehat.

3. Teknik Reproduksi Berbantu

Teknik reproduksi berbantu (TRB) adalah salah satu cara penanganan teratozoospermia yang dapat dilakukan. TRB meliputi beberapa metode seperti inseminasi intrauterin (IUI), fertilisasi in vitro (IVF), dan intracytoplasmic sperm injection (ICSI). Metode yang dipilih tergantung pada tingkat keparahan teratozoospermia dan kondisi medis pasangan.

Dalam metode IUI, sperma yang telah dimurnikan ditempatkan langsung di dalam rahim wanita pada saat ovulasi. Pada metode IVF, sel telur yang telah diambil dari ovarium dipertemukan dengan sperma di laboratorium untuk pembuahan sel telur dan hasilnya ditransfer ke dalam rahim. Sedangkan, pada ICSI, sperma yang telah dimurnikan diambil dan diinjeksikan langsung ke dalam sel telur menggunakan jarum mikro.

Teratozoospermia dapat memengaruhi kesuburan pria dan menyebabkan infertilitas. Namun, dengan penanganan yang tepat, banyak pasangan yang tetap dapat mencapai kehamilan. Selain itu, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk menentukan perawatan yang tepat. Sekian ulasan tentang teratozoospermia. Sampai jumpa di artikel berikutnya.

Telah direview oleh dr. Sony Prabowo

Source:

Tim Konten Medis
Terakhir diperbarui pada 5 Desember, 2023
Dipublisikan 11 Agustus, 2023