Morfologi sperma melihat bagaimana bentuk dan struktur sperma, mulai dari kepala, bagian tengah, hingga ekornya. Bentuk sperma normal memiliki kepala oval, bagian tengah yang baik, serta ekor lurus yang membantu pergerakannya menuju sel telur.
Beberapa faktor dapat memengaruhi morfologi sperma, seperti paparan panas, kebiasaan merokok, stres, obesitas, dan kekurangan nutrisi. Kabar baiknya, sperma mengalami pembaruan setiap 74-90 hari sehingga kualitasnya masih dapat diperbaiki.
Apa Itu Morfologi Sperma?
Morfologi sperma adalah pemeriksaan yang menilai bentuk dan struktur sperma, mulai dari ukuran kepala, bagian tengah, hingga ekornya. Bentuk kepala sperma menjadi salah satu bagian penting karena berpengaruh terhadap kemampuan sperma untuk menembus lapisan luar sel telur dan melakukan pembuahan.
Pemeriksaan morfologi sperma dilakukan melalui analisis semen dengan bantuan mikroskop untuk melihat bentuk sel sperma. Pemeriksaan ini juga mencakup penilaian jumlah sperma dan kemampuan pergerakannya.
Sperma dengan bentuk tidak normal dapat terjadi pada setiap pria, termasuk pria yang subur maupun yang mengalami gangguan kesuburan. Beberapa faktor yang menyebabkan perubahan bentuk sperma antara lain peningkatan suhu pada testis, paparan bahan kimia beracun, infeksi, serta faktor genetik.
Istilah medis untuk kondisi ketika jumlah sperma dengan bentuk tidak normal cukup banyak disebut teratozoospermia atau teratospermia. Berdasarkan Kruger Strict Criteria, hasil pemeriksaan morfologi sperma bisa terkategorikan sebagai berikut:
- Lebih dari 14% sperma memiliki bentuk normal: peluang kesuburan lebih tinggi
- 4-14% sperma memiliki bentuk normal: peluang kesuburan sedikit menurun
- 0-3% sperma memiliki bentuk normal: gangguan kesuburan tergolong berat
World Health Organization (WHO) juga memiliki kriteria analisis sperma. Sejak tahun 2010, WHO menetapkan bahwa hasil morfologi sperma 4 persen atau lebih sperma berbentuk normal dianggap sebagai komposisi yang ideal untuk mendukung kesuburan.
Baca Juga: Meningkatkan Kualitas Sperma dengan Cara Medis dan Alami
Seperti Apa Morfologi Sperma yang Normal?
Berdasarkan WHO edisi ke-6, morfologi sperma normal berada pada angka minimal 4%. Angka ini bukan berarti hanya 4 dari 100 sperma yang sehat, tetapi merupakan batas referensi pada pria subur.
Banyak pria yang berhasil memiliki anak secara alami juga memiliki hasil morfologi di sekitar angka tersebut. Hasil morfologi sperma sebesar 5%, 6%, atau 10% juga tidak selalu berarti peluang kesuburan lebih tinggi daripada pria dengan hasil 4%.
Begitu pula dengan hasil yang sedikit di bawah 4%, bukan berarti kehamilan tidak dapat terjadi. Dokter biasanya tidak menilai morfologi sperma hanya dari satu parameter karena kesuburan pria terpengaruh oleh berbagai faktor.
Jenis Morfologi Sperma Normal dan Abnormal
Morfologi sperma normal menggambarkan sperma dengan bentuk dan struktur yang sesuai, seperti kepala berbentuk oval, bagian tengah yang utuh, serta ekor yang lurus. Sementara itu, morfologi sperma abnormal artinya terdapat perubahan pada bentuk sperma, baik pada bagian kepala, bagian tengah, maupun ekornya.
1. Bentuk Normal (Normal Shaped Sperm)
Sperma normal memiliki kepala berbentuk oval, bagian tengah yang utuh, serta satu ekor yang tidak melingkar. Struktur tersebut memungkinkan sperma bergerak dengan baik dan berenang lurus menuju sel telur.
2. Kepala Berukuran Besar (Macrocephaly Sperm)
Macrocephaly terjadi ketika ukuran kepala sperma lebih besar dari ukuran normal. Sperma dengan bentuk ini sering membawa kromosom tambahan sehingga dapat mengalami gangguan dalam proses pembuahan.
3. Kepala Berukuran Kecil (Microcephaly Sperm)
Pada microcephaly, ukuran kepala sperma lebih kecil daripada ukuran normal. Kondisi ini dapat berkaitan dengan gangguan pada akrosom atau jumlah materi genetik yang berkurang.
4. Kepala Berbentuk Jarum (Pinhead Sperm)
Pada jenis ini, bagian kepala sperma terlihat sangat kecil dengan sedikit atau bahkan tidak memiliki DNA dari ayah.
5. Kepala Berbentuk Runcing (Tapered Head Sperm)
Sperma kepala berbentuk runcing menyerupai cerutu. Perubahan bentuk tersebut dapat terjadi pada kondisi seperti varikokel atau paparan suhu tinggi yang terjadi terus-menerus pada area skrotum.
6. Kepala Berbentuk Tipis (Thin Head Sperm)
Bentuk kepala tipis merupakan variasi dari sperma berkepala runcing yang jarang ditemukan. Kondisi ini bisa berkaitan dengan kerusakan DNA, varikokel, atau gangguan pembentukan kepala sperma.
7. Kepala Berbentuk Bulat (Globozoospermia)
Globozoospermia terjadi ketika kepala sperma berbentuk bulat akibat tidak adanya akrosom atau bagian tertentu pada kepala sperma yang berperan dalam proses pembuahan.
8. Tanpa Kepala (Headless Sperm)
Sperma tanpa kepala atau acephalic sperm terjadi ketika bagian kepala sperma tidak terbentuk. Kondisi ini membuat sperma tidak membawa materi genetik maupun kromosom.
9. Tanpa Ekor (Tail-less Sperm)
Sperma tanpa ekor dikenal sebagai acaudate sperm. Jenis ini sering ditemukan pada proses nekrosis, yaitu ketika sebagian besar atau seluruh sel mengalami kematian.
10. Vakuola pada Kepala (Nuclear Vacuoles Sperm)
Sperma dengan nuclear vacuoles memiliki satu atau lebih vakuola pada bagian kepala yang dapat terlihat melalui pemeriksaan mikroskop dengan pembesaran tinggi.
Baca Juga: Prosedur Cek Sperma, Hasil, Biaya, dan Persiapannya
11. Memiliki Banyak Kepala atau Ekor (Multi-head Sperm)
Pada kondisi ini, sperma dapat memiliki lebih dari satu kepala atau ekor. Sperma dengan dua kepala disebut sperma duplikat dan berkaitan dengan paparan bahan kimia beracun, logam berat seperti cesium, asap, atau kadar hormon prolaktin yang tinggi.
12. Leher Menebal dan Membesar (Thick, Swollen Neck)
Bentuk ini ditandai dengan bagian tengah atau leher sperma yang membesar. Perubahan tersebut dapat berkaitan dengan gangguan pada mitokondria, yaitu bagian sel yang berfungsi menghasilkan energi bagi sperma.
13. Ekor Melengkung (Coiled-tail Sperm)
Sperma dengan ekor melengkung mengalami kerusakan pada bagian ekornya sehingga kemampuan bergeraknya terganggu. Hal ini bisa berkaitan dengan cairan semen yang tidak normal, keberadaan bakteri, atau kebiasaan merokok berat.
14. Ekor Pendek (Stump tail Sperm)
Sperma dengan ekor pendek memiliki kemampuan gerak yang rendah atau bahkan tidak bisa bergerak. Kondisi ini dikenal sebagai Dysplasia of Fibrous Sheath (DFS) dan terjadi akibat gangguan pada pembentukan ekor sperma.
Morfologi Sperma Rendah Apakah Tetap Bisa Hamil?
Banyak pria dengan hasil morfologi sperma rendah tetap memiliki peluang untuk mendapatkan kehamilan secara alami. Hal ini karena morfologi bukan satu-satunya faktor yang menentukan kesuburan pria.
Pemeriksaan analisis semen tidak hanya melihat bentuk sperma, tetapi juga menilai beberapa aspek lain seperti jumlah dan kemampuan gerak sperma. Meski persentase sperma dengan bentuk normal rendah, masih ada sperma yang mampu membuahi sel telur, terutama jika jumlah dan pergerakannya masih baik.
Sebagai gambaran, terdapat dua pria dengan hasil pemeriksaan semen yang sama-sama menunjukkan morfologi sperma sebesar 3%, tetapi memiliki hasil analisis lain yang berbeda:
Pasien A:
- Morfologi sperma: 3%
- Konsentrasi sperma: 85 juta/mL
- Motilitas progresif: 58%
- Volume semen: 3,5 mL
Pasien B:
- Morfologi sperma: 3%
- Konsentrasi sperma: 8 juta/mL
- Motilitas progresif: 18%
- Volume semen: 1,2 mL
Meskipun nilai morfologinya sama, kedua pasien tersebut memiliki kondisi kesuburan yang berbeda. Pasien A masih memiliki jumlah sperma bergerak progresif dengan bentuk normal yang lebih banyak.
Sementara itu, pasien B mengalami penurunan morfologi yang disertai dengan jumlah dan pergerakan sperma yang lebih rendah. Dokter spesialis kesuburan tidak hanya melihat hasil morfologi sperma secara terpisah.
Penilaian juga mempertimbangkan seluruh hasil analisis semen, riwayat reproduksi pasangan, pemeriksaan pasangan wanita, usia, waktu berhubungan, serta pemeriksaan tambahan tertentu seperti fragmentasi DNA sperma bila perlu. Jadi, satu hasil pemeriksaan yang tidak normal belum tentu menggambarkan keseluruhan kondisi kesuburan seseorang.
Baca Juga: Cara Membedakan Sperma Subur dan Tidak Beserta Gejalanya
Solusi Masalah Kehamilan untuk Morfologi Sperma Rendah
Pria dengan morfologi sperma yang tidak normal masih memiliki peluang memiliki anak. Namun, kehamilan bisa membutuhkan waktu lebih lama atau memerlukan bantuan dari dokter spesialis kesuburan.
Beberapa pilihan penanganan untuk masalah morfologi sperma, yaitu Intrauterine Insemination (IUI) dan In Vitro Fertilization (IVF). Pada kondisi tertentu, metode Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) juga digunakan bersama IVF untuk meningkatkan peluang keberhasilan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa konsumsi suplemen kesuburan pria yang mengandung antioksidan selama 3 bulan atau lebih membantu memperbaiki morfologi sperma yang tidak normal. Pada prosedur IVF dengan ICSI, tim laboratorium akan memilih sperma berdasarkan bentuk dan kemampuan geraknya untuk menentukan sperma yang memiliki peluang lebih baik.
Sperma tersebut kemudian disuntikkan langsung ke dalam sel telur untuk membantu proses pembuahan. Setelah sperma dan sel telur bergabung membentuk embrio, embrio akan ditempatkan kembali ke dalam rahim sesuai tahap perkembangannya.
FAQ
Morfologi Sperma Normal Berapa Persen?
Berdasarkan pedoman WHO dan kriteria Kruger, morfologi sperma dianggap normal jika terdapat minimal 4% sperma dengan bentuk normal. Sperma normal memiliki kepala berbentuk oval dan satu ekor yang lurus.
Morfologi Sperma 2% Apakah Bisa Hamil?
Ya. Hasil morfologi sperma sebesar 2% memang berada di bawah batas normal WHO yaitu 4%, tetapi bukan berarti kehamilan alami tidak mungkin terjadi. Peluang kehamilan juga dipengaruhi oleh faktor lain, terutama jumlah dan kemampuan gerak sperma.
Apa Perbedaan Morfologi dan Motilitas Sperma?
Morfologi menilai bentuk dan ukuran sperma, seperti bentuk kepala yang oval serta struktur ekornya. Sementara itu, motilitas menilai kemampuan sperma untuk bergerak, termasuk seberapa baik dan seberapa cepat sperma berenang menuju arah depan.
Apakah Morfologi Sperma Bisa Diperbaiki?
Ya. Pembentukan sperma baru membutuhkan waktu sekitar 74-90 hari sehingga hasil perbaikan biasanya baru terlihat setelah kurang lebih 3 bulan melalui pemeriksaan analisis semen.








