Infertilitas pria adalah kondisi ketika pasangan sulit hamil akibat masalah pada sistem reproduksi pria, seperti mempunyai gangguan produksi sperma, ketidakseimbangan hormon, hingga penyumbatan saluran reproduksi. Gejalanya sering tidak terlihat jelas, tapi bisa meliputi perubahan gairah seksual, disfungsi ereksi, atau benjolan pada testis. Diagnosis dilakukan lewat analisis sperma dan pemeriksaan hormon, dengan pengobatan mulai dari terapi hormon, operasi varikokel, hingga program bayi tabung (IVF).
Kapan Pria Tidak Subur atau Mengalami Infertilitas?
Infertilitas berarti ketidakmampuan menghasilkan keturunan setelah 1 tahun melakukan hubungan seksual tanpa menggunakan kontrasepsi. Infertilitas dapat terjadi pada pria atau wanita.
Studi menunjukkan, setelah 1 tahun melakukan hubungan seks tanpa alat kontrasepsi, 15% pasangan tidak dapat hamil dan setelah 2 tahun 10% pasangan masih belum memiliki kehamilan yang sukses. Pada pasangan yang lebih muda dari usia 30 tahun yang umumnya sehat, 20%-37% dapat hamil dalam 3 bulan pertama.
Ada banyak kondisi medis yang berbeda dan faktor lain dapat berkontribusi pada gangguan kesuburan. Kehamilan dapat terjadi bila sperma dapat bertemu dengan sel telur wanita. Ketika pembuahan berhasil, maka kehamilan pun dapat terjadi.
Sementara masalah umum yang menyebabkan infertilitas pada pria adalah masalah yang memengaruhi cara kerja testis. Gangguan lain biasa terjadi kesenjangan hormon atau penyumbatan pada organ reproduksi pria.
Penyebab infertilitas pria tidak dapat tentukan sekitar 50% kasus. Sementara 10-15% pria yang tidak subur mengalami kekurangan sperma. Penyebab paling umum kurangnya sperma karena varikokel, pembangkakan pembuluh darah vena pada kantung buah zakar.
Baca Juga: Proses Fertilisasi dan Kehamilan
Gejala Infertilitas pada Pria
Infertilitas tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Selain tanda-tanda yang terlihat pada tubuh, sebagian pasangan juga bisa mengalami tekanan emosional selama menghadapi masalah kesuburan. Berikut beberapa gejala infertilitas yang perlu Anda ketahui:
1. Penurunan Gairah Seksual atau Perubahan Ereksi
Penurunan gairah seksual atau kesulitan mempertahankan ereksi bisa menjadi tanda kadar testosteron rendah atau gangguan keseimbangan hormon. Kedua hal tersebut berperan dalam proses produksi sperma sehingga berhubungan dengan masalah kesuburan pria.
Perubahan sesekali pada gairah seksual atau ereksi bisa terjadi akibat stres maupun kelelahan. Namun, jika penurunan libido, stamina, atau ereksi di pagi hari terjadi secara terus-menerus, sebaiknya lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mengetahui penyebabnya.
2. Nyeri atau Pembengkakan pada Testis
Rasa nyeri tumpul, sensasi berat pada skrotum, atau pembuluh darah yang terlihat di sekitar testis bisa menjadi tanda varikokel. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah di skrotum mengalami pelebaran sehingga suhu di sekitar testis meningkat dan proses pembentukan sperma terganggu.
Varikokel termasuk salah satu penyebab infertilitas pria yang sering terjadi. Pemeriksaan fisik atau USG skrotum membantu dokter memastikan adanya varikokel.
3. Perubahan Ejakulasi atau Jumlah Cairan Sperma
Perubahan jumlah, tekstur atau kekuatan keluarnya cairan sperma bisa menunjukkan adanya gangguan pada prostat, vesikula seminalis, atau saluran sperma. Gangguan tersebut bisa memengaruhi jumlah sperma maupun kemampuan sperma bergerak.
Sebagian pria mengalami ejakulasi kering (dry ejaculation), yaitu kondisi ketika cairan sperma yang keluar sangat sedikit atau tidak ada karena masuk kembali ke kandung kemih (ejakulasi retrograde). Analisis sperma menjadi salah satu pemeriksaan untuk melihat kondisi kesuburan pria, termasuk jumlah, pergerakan, dan bentuk sperma.
4. Berkurangnya Rambut Tubuh atau Massa Otot
Rambut wajah atau tubuh yang semakin menipis, massa otot yang berkurang, serta rasa lelah terus muncul sering berkaitan dengan kadar testosteron rendah atau gangguan hormon lainnya. Testosteron berperan dalam produksi sperma. Karena itu, perubahan tersebut bisa berjalan bersamaan dengan penurunan kualitas sperma dan gejala infertilitas pria.
5. Berat Badan Bertambah atau Sering Merasa Lelah
Berat badan berlebih atau rasa lelah yang terus menerus bisa memengaruhi kesehatan reproduksi pria. Obesitas, kurang tidur, dan stres berkepanjangan bisa mengganggu keseimbangan hormon, meningkatkan suhu testis, serta menurunkan jumlah sperma.
Perbaikan pola makan, olahraga rutin, dan tidur yang cukup bisa membantu mendukung kesehatan reproduksi.
6. Gejala Psikologis
Infertilitas pria tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan emosional seseorang. Kesulitan memiliki anak secara biologis bisa menimbulkan berbagai perasaan, seperti:
- Depresi
- Merasa kehilangan
- Kesedihan mendalam (grief)
- Merasa tidak cukup atau tidak mampu
- Merasa gagal
Jika perasaan tersebut muncul pada Anda atau pasangan, konsultasi dengan psikolog atau psikiater bisa membantu menghadapi tekanan emosional. Pada beberapa kasus, infertilitas pria juga berkaitan dengan rendahnya produksi testosteron dari testis.
Kondisi ini bisa muncul dengan keluhan lain, seperti mudah lelah, gangguan ereksi, depresi, berat badan bertambah, dan kehilangan motivasi. Bila mengalami keluhan tersebut, konsultasi dengan dokter urologi yang menangani infertilitas pria atau dokter endokrinologi reproduksi bisa menjadi langkah yang tepat.
Penyebab Infertilitas pada Pria
Ada banyak faktor risiko yang dapat menyebabkan infertilitas pada pria, di antaranya:
- Azoospermia: Gangguan kesuburan muncul dengan tidak adanya sel sperma dalam air mani pria
- Oligospermia: Produksi sperma berkualitas rendah atau jumlah sel sperma yang terkandung sedikit
- Kelainan genetik: Sindrom klinefelter, distrofi miotonik, mikrodelesi, dan banyak lagi
- Kelainan sperma: Sperma yang tidak bisa hidup cukup lama untuk membuahi sel telur
- Kondisi medis tertentu: Gangguan kesehatan, seperti penyakit diabetes, autoimun, fibrosis kistik dan infeksi lain
- Penggunaa obat-obatan: Penggunaan obat-obatan tertentu dapat memengaruhi produksi dan fungsi sperma, seperti obat kanker, radang sendi (artritis), dan lainnya
- Varikokel: pembengkakan pembuluh darah vena pada kantong zakar yang menyebabkan kualitas dan kuantitas sperma buruk
- Kebiasaan tidak sehat: Penggunaan rokok, alkohol atau obat-obatan terlarang
- Gangguan hormonal: Gangguan kelenjar hipofisis atau hipotalamus dapat memengaruhi kesuburan pria
- Kelebihan berat badan (obesitas)
- Testis yang terlalu sering terpapar suhu panas
- Riwayat testis tidak turun sejak lahir
- Riwayat vasektomi atua operasi besar di area perut
Baca Juga: Rahasia Kesuksesan Program Kehamilan dengan Akupunktur
Tes untuk Mendiagnosis Infertilitas pada Pria
Jika pasangan kesulitan hamil, sekitar 50% kemungkinan pria mengalami masalah kesuburan. Pemeriksaan fisik lengkap dan tes dokter lakukan untuk mengetahui penyebab infertilitas, seperti:
1. Analisis Air Mani
Tes pertama yang Anda lalui, yakni analisis sperma. Anda dapat memberikan sampel sperma ke dalam botol kaca steril untuk dianalisis. Gunanya untuk memberi tahu tentang kuantitas dan kualitas air mani dan sperma yang terkandung. Beberapa hal yang diukur meliputi:
- Berapa banyak volume air mani pria
- Jumlah total sperma dalam sampel
- Jumlah sperma dalam setiap mililiter air mani
- Presentase sperma yang bergerak
- Bentuk sperma apakah benar atau tidak
Pemberian sampel biasanya dilakukan di rumah sakit atau klinik khusus. Anda mungkin perlu melakukan dua kunjungan untuk memberikan sampel pada dua hari yang berbeda lebih dari dua minggu terpisah karena sampel dari orang yang sama dapat berbeda dalam waktu lain. Sebelum pemberian sampel, Anda akan untuk tidak melepaskan sperma atau ejakulasi selama 2-5 hari sebelum memberikan sampel.
2. Kadar Hormon dan Reproduksi
Ada 2 hormon penting reproduksi, yakni hormon perangsang folikel dan testosteron. Hormon tersebut dapat mengontrol produksi sperma, memengaruhi minat seks dan kemampuan untuk berhubungan seks.
Jika ada ketidakseimbangan dalam hormon ini dapat menyebabkan masalah. Dokter akan melihat jumlah yang tepat dari hormon reproduksi pria termasuk memeriksa hormon luteinizing (LH), estradiol, dan prolaktin.
3. Pengujian Lain (Jarang Diperlukan)
Tes ini mungkin tidak perlu pada kebanyakan pria. Sayangnya bila hasil tes air mani tidak normal, Anda perlu mengikuti banyak tes dan mungkin dokter akan merujuk ke ahli urologi. Fungsi tes ini untuk menunjukkan:
- Mengetahui cukup sperma dalam sampel air mani masih hidup (“Vital staining” test)
- Mengetahui antibodi telah melekat pada sperma sehingga sulit bagi sperma untuk bergerak dengan benar (“antisperm antibodies” test)
- Mengetahui infeksi atau peradangan yang memengaruhi air mani (“peroxidase staining” and “semen culture”)
4. Lebih Banyak Tes (Jarang Diperlukan)
Tes ini biasanya tidak akan untuk kebanyakan pria. Jika Anda sudah menjalani tes, tetapi dokter belum mengetahui masalah kesuburan Anda. Dokter akan menyarankan tes tambahan yang berguna sebagai berikut:
- Mengetahui lapisan sperma rusak atau utuh (hypo-osmotic swelling test)
- Mengetahui sperma bergerak sebagaimana mestinya (computer assisted semen analysis)
- Mengetahui terlalu banyak sperma yang rusak atau DNA rapuh (sperm DNA testing)
Sementara bila hasil sperma sedikit atau tidak menghasilkan sperma, dokter Anda akan melakukan tes genetik untuk melihat apakah ada sesuatu yang abnormal dengan gen Anda. Tes-tes ini juga berguna untuk memberikan informasi terkait:
- Jumlah kromosom yang benar dalam sperma (sperm aneuploidy testing)
- Cacat kromosom (chromosome analysis and Y- chromosome deletion testing)
- Sperma tidak ada yang terlihat (determine if the sperm tubes are intact or perform biopsy of the testicles)
Baca Juga: Manfaat Likopen untuk Kesuburan Pria Menurut Medis
Pengobatan Infertilitas Pria
Penanganan infertilitas pria dilakukan berdasarkan penyebab. Beberapa pilihan yang bisa dokter lakukan meliputi:
1. Perubahan Gaya Hidup
Beberapa perubahan kebiasaan sehari-hari bisa membantu meningkatkan produksi sperma yang sehat. Langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Menjaga berat badan tetap sehat
- Mengonsumsi lebih banyak buah dan sayuran
- Melakukan aktivitas fisik secara rutin, seperti berjalan kaki, jogging, bersepeda, menari, atau latihan angkat beban
- Mengelola stres
- Berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, serta menghindari penggunaan obat terlarang atau obat tanpa resep
- Tidak menggunakan pelumas saat berhubungan seksual
2. Obat-obatan
Terapi hormon untuk membantu mengatur kadar hormon yang terlalu tinggi atau rendah dan berpengaruh terhadap kualitas sperma. Pada beberapa kondisi, dokter juga bisa menyarankan penghentian atau penggantian obat tertentu yang mungkin memengaruhi kesuburan, seperti:
- Antidepresan trisiklik
- Calcium channel blockers
- Anti androgen
3. Operasi
Tindakan operasi untuk menangani beberapa penyebab infertilitas pria. Jenis prosedur yang mungkin dilakukan meliputi:
- Vasektomi Reversal: Prosedur ini dengan menyambungkan kembali saluran vas deferens setelah vasektomi, sehingga sperma bisa kembali masuk ke dalam cairan semen.
- Vasoepididymostomy: Operasi untuk mengatasi sumbatan pada epididimis, yaitu saluran tempat sperma mengalami pematangan sebelum masuk ke cairan semen.
- Pengambilan Sperma (Sperm Retrieval): Dokter mengambil sperma melalui biopsi dari testis atau epididimis.
- Varikokelektomi: Tindakan operasi untuk mengatasi varikokel, yaitu penumpukan darah pada testis akibat pelebaran pembuluh darah di skrotum. Operasi ini bisa membantu memperbaiki kualitas sperma pada beberapa kasus.
4. Teknologi Reproduksi Berbantu
Teknologi reproduksi berbantu dengan mengambil sel telur dari ovarium pasangan wanita, kemudian menggabungkannya dengan sperma di laboratorium. Beberapa prosedur dalam teknologi reproduksi berbantu meliputi:
- Intracytoplasmic sperm injection (ICSI): Pada prosedur ini, satu sperma akan dimasukkan langsung ke dalam sel telur menggunakan bantuan alat khusus.
- In vitro fertilization (IVF): Dalam proses IVF, pasangan wanita diberikan obat kesuburan untuk membantu pematangan beberapa sel telur. Sel telur yang sudah matang kemudian diambil dan dipertemukan dengan sperma di laboratorium hingga terbentuk embrio. Embrio tersebut selanjutnya ditempatkan ke dalam rahim.
Kapan Harus ke Dokter?
Jika Anda dan pasangan belum berhasil mendapatkan kehamilan setelah satu tahun mencoba, sebaiknya lakukan konsultasi dengan dokter. Selain itu, beberapa tanda berikut juga perlu diperhatikan karena bisa menunjukkan adanya masalah pada kesuburan pria, yaitu:
- Penurunan gairah seksual
- Gangguan ejakulasi atau ereksi
- Nyeri berat pada testis
- Pembengkakan atau rasa nyeri saat disentuh pada testis
- Benjolan pada testis, skrotum, atau penis
- Infeksi pada prostat
Anda bisa konsultasi ke Ciputra IVF karena menyediakan layanan penanganan infertilitas pria dengan pemeriksaan dan perawatan yang disesuaikan berdasarkan penyebab serta kondisi masing-masing pasien. Yuk, konsultasikan masalah kesuburan bersama dokter spesialis fertilitas Ciputra IVF!









