Operasi varikokel atau varikokelektomi adalah tindakan bedah untuk mengikat atau menutup pembuluh vena yang melebar di skrotum (kantung zakar). Dengan begitu, darah dapat mengalir melalui vena lain yang masih normal. Varikokel sendiri adalah pelebaran pembuluh vena di sekitar testis, mirip dengan varises pada kaki.
Varikokel terjadi ketika aliran darah pada pembuluh vena di skrotum tidak berjalan dengan baik sehingga darah menumpuk dan menyebabkan pembuluh darah melebar. Penyebabnya berkaitan dengan gangguan fungsi katup pada pembuluh darah yang membantu mengatur aliran darah dari testis menuju tubuh.
Apa Itu Varikokelektomi?
Varikokelektomi adalah prosedur operasi untuk memperbaiki varikokel, yaitu pembesaran pembuluh darah vena di dalam skrotum atau kantung zakar. Pada varikokel, pembuluh darah di area tersebut mengalami pelebaran melebihi ukuran normal.
Setelah menjalani varikokelektomi, pasien dapat merasakan nyeri dengan tingkat sedang. Keluhan tersebut biasanya mulai berkurang setelah beberapa hari dan dapat mereda dengan konsumsi obat pereda nyeri.
Untuk nyeri yang lebih berat, dokter dapat memberikan obat sesuai kebutuhan.
Bila dilakukan sesuai indikasi, varikokelektomi dapat memperbaiki kualitas sperma dan meningkatkan peluang kehamilan alami. Meski begitu, hasilnya berbeda pada setiap pasangan.
Baca Juga: Vasektomi Kontrasepsi Pria untuk Mencegah Kehamilan
Kapan Operasi Varikokel Diperlukan?
Tidak semua varikokel perlu dioperasi. Dokter umumnya menyarankan varikokelektomi bila varikokel teraba saat pemeriksaan fisik, hasil analisis sperma tidak normal, dan pasangan belum berhasil hamil. Selain operasi, varikokel juga dapat ditangani dengan embolisasi, yaitu penutupan vena melalui kateter tanpa sayatan bedah.
Varikokelektomi juga dapat dipertimbangkan bila nyeri skrotum menetap atau pada remaja yang testisnya tampak mengecil. Sementara itu, varikokel yang hanya terlihat melalui USG umumnya tidak perlu dioperasi. Varikokel dengan hasil analisis sperma normal juga biasanya cukup dipantau.
Di Ciputra IVF, dokter spesialis andrologi akan menilai derajat varikokel dan hasil analisis sperma sebelum menentukan apakah operasi akan bermanfaat. Bila perlu, penilaian ini dilengkapi dengan tes fragmentasi DNA sperma (DFI).
Setelah operasi, analisis sperma diulang sekitar 3 dan 6 bulan kemudian. Bila kualitas sperma tidak membaik, dokter dapat membahas pilihan seperti inseminasi buatan (IUI) atau bayi tabung dengan penyuntikan sperma ke sel telur (ICSI). Jika usia atau kondisi kesuburan pasangan wanita tidak memungkinkan untuk menunggu hasil operasi, pilihan ini dapat dipertimbangkan sejak awal.
Proses Operasi Varikokel
Varikokelektomi merupakan tindakan operasi untuk menangani varikokel dengan cara memutus dan menutup pembuluh darah vena yang mengalami pelebaran. Setelah pembuluh tersebut dokter tutup, aliran darah akan dialihkan melalui pembuluh darah vena lain yang masih berfungsi normal.
Secara umum, terdapat tiga pendekatan dalam prosedur varikokelektomi, yaitu:
1. Open Surgery (Operasi Terbuka)
Pada operasi terbuka (open surgery), dokter melakukan sayatan untuk mencapai pembuluh darah yang mengalami varikokel. Setelah pembuluh darah ditemukan, dokter akan mengikatnya agar darah dapat mengalir melalui jalur pembuluh darah lain.
Beberapa teknik yang termasuk dalam operasi terbuka, yaitu:
- Inguinal ligation: Dokter akan membuat sayatan di area selangkangan untuk mencapai pembuluh darah yang mengalami varikokel. Teknik ini cocok untuk pasien dengan keluhan nyeri karena dokter dapat mengakses area saraf tertentu yang berkaitan dengan rasa nyeri.
- Subinguinal ligation: Tindakan dengan membuat sayatan yang letaknya sedikit lebih rendah daripada teknik inguinal ligation. Metode ini banyak dokter gunakan karena memiliki risiko efek samping dan kekambuhan yang lebih rendah, serta waktu pemulihan lebih cepat daripada operasi lainnya.
2. Microsurgery (Operasi Varikokel Mikro)
Microsurgery adalah tindakan dengan bantuan mikroskop khusus agar pembuluh darah kecil di sekitar area operasi dapat terlihat lebih jelas. Teknologi tersebut membantu membedakan pembuluh darah yang perlu ditangani dan pembuluh darah yang tetap dipertahankan.
Prosedur menggunakan sayatan kecil di area sekitar selangkangan. Pembuluh darah yang mengalami varikokel kemudian diikat dan diperbaiki.
Tindakan membutuhkan waktu sekitar 45-60 menit jika varikokel hanya terjadi pada satu sisi skrotum. Perbaikan pada kedua sisi membutuhkan waktu lebih lama. Teknik inguinal ligation dan subinguinal ligation juga dapat dengan metode microsurgery.
3. Minimally Invasive Surgery (Operasi Minimal Invasif)
Operasi minimal invasif (minimally invasive surgery) melalui sayatan kecil dengan bantuan kamera dan alat bedah khusus. Kamera membantu dokter melihat pembuluh darah yang mengalami varikokel selama proses perbaikan.
Salah satu metode yang dokter gunakan adalah laparoskopi. Prosedur ini menggunakan kamera kecil dan alat bedah yang dimasukkan melalui area perut untuk mencapai pembuluh darah yang perlu diperbaiki.
Daripada operasi terbuka, metode minimal invasif umumnya menimbulkan rasa nyeri yang lebih ringan dan waktu pemulihan juga lebih singkat. Namun, laparoskopi memiliki risiko cedera pada organ di sekitar area operasi serta tingkat keberhasilan jangka panjang yang lebih rendah.
Fase Penyembuhan Setelah Operasi Varikokel (Varikokelektomi)
Berapa lama pemulihan setelah operasi varikokel? Pasien umumnya dapat kembali beraktivitas ringan dalam beberapa hari, sedangkan olahraga dan aktivitas berat biasanya baru dianjurkan sekitar 2–4 minggu setelah operasi varikokel.
Waktu pemulihan setelah varikokelektomi dapat berbeda pada setiap pasien. Umumnya, memar dan bengkak pada area selangkangan serta skrotum akan berangsur membaik dalam 3-4 minggu, sedangkan rasa nyeri atau tidak nyaman pada selangkangan dapat bertahan hingga 6 minggu.
Nyeri setelah varikokelektomi dapat mereda dengan obat pereda nyeri dari dokter, seperti parasetamol atau ibuprofen bila aman untuk kondisi pasien. Hindari minum aspirin sebagai pereda nyeri kecuali disarankan dokter. Pasien yang rutin minum obat pengencer darah perlu mengikuti arahan dokter tentang kapan obat tersebut dihentikan dan dimulai kembali. Dokter juga dapat meresepkan antibiotik atau obat lain bila perlu.
Selama masa pemulihan, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan agar proses penyembuhan berjalan dengan baik:
- Kompres es pada area yang mengalami nyeri atau bengkak selama maksimal 10 menit dan dapat Anda ulangi beberapa kali dalam sehari.
- Jaga kebersihan area bekas tindakan untuk menurunkan risiko infeksi. Cuci tangan dengan sabun dan air sebelum mengganti perban.
- Hindari berendam selama masa pemulihan. Sebaiknya mandi dengan pancuran dan bersihkan area bekas tindakan secara perlahan. Aktivitas berenang juga perlu Anda hindari.
- Hindari aktivitas berat yang dapat memberi tekanan pada area sayatan. Jangan mengangkat beban lebih dari 10 pon (sekitar 4,5 kg) selama minimal 2 minggu setelah operasi.
- Cegah sembelit dengan mengonsumsi makanan tinggi serat, seperti buah, sayuran, dan biji-bijian, serta mencukupi kebutuhan cairan. Mengejan saat buang air besar juga bisa memberi tekanan pada area sayatan sehingga penggunaan pelunak tinja dapat Anda pertimbangkan bila perlu.
- Tunda hubungan seksual dan masturbasi selama minimal 1 minggu setelah varikokelektomi karena aktivitas tersebut dapat memberi tekanan pada area sayatan.
Baca Juga: Prosedur Cek Sperma, Hasil, Biaya, dan Persiapannya
Efek Samping dan Risiko Operasi Varikokel
Setiap tindakan operasi memiliki risiko, termasuk varikokelektomi. Salah satu komplikasi yang paling sering terjadi adalah hidrokel, yaitu penumpukan cairan yang membentuk kantong di sekitar testis.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan pembengkakan, rasa nyeri, atau sensasi berat pada skrotum. Risiko hidrokel bergantung pada teknik operasinya. Pada bedah mikro yang mempertahankan pembuluh getah bening (limfe), risikonya rendah, sedangkan teknik tanpa mikroskop dapat memiliki risiko lebih tinggi.
Pada sebagian kasus, hidrokel dapat hilang dengan sendirinya, tetapi ada juga yang memerlukan tindakan pengeluaran cairan atau operasi. Komplikasi lain yang jarang terjadi setelah varikokelektomi meliputi:
- Perdarahan
- Infeksi
- Penggumpalan darah pada kaki
- Cedera pada testis
- Pengecilan ukuran testis (atrofi)
- Nyeri yang berlangsung lama
Varikokelektomi juga memiliki risiko yang berkaitan dengan penggunaan anestesi. Meski varikokelektomi berfungsi untuk mengatasi varikokel, pembuluh darah yang melebar masih dapat kembali muncul setelah operasi. Angka kekambuhannya sekitar 1-15%, tergantung teknik operasi, dan paling rendah pada bedah mikro.
Banyak pria yang memenuhi indikasi operasi mengalami perbaikan kualitas sperma setelah varikokelektomi. Namun, tindakan ini tidak selalu dapat mengatasi infertilitas pada pria.
Segera konsultasikan ke dokter apabila setelah operasi muncul keluhan seperti:
- Tanda infeksi di sekitar bekas sayatan
- Demam dengan suhu 38 derajat Celsius atau lebih
- Nyeri atau pembengkakan yang tidak membaik
- Nyeri atau pembengkakan pada kaki
- Mual dan muntah yang terus terjadi
Pada kondisi yang jarang terjadi, vas deferens bisa mengalami cedera saat operasi karena letaknya berdekatan dengan pembuluh darah. Vas deferens merupakan saluran yang membawa sperma dari testis menuju cairan semen saat ejakulasi.
Jika salah satu vas deferens mengalami cedera, pria masih memiliki saluran lainnya yang terhubung dengan testis sehat sehingga tidak langsung menyebabkan infertilitas. Namun, jumlah sperma dapat menurun dan memengaruhi peluang memiliki keturunan.
Baca Juga: Mengenal Anatomi Sistem Reproduksi Pria
Kapan Harus ke Dokter?
Lakukan kontrol kembali sesuai jadwal. Pemeriksaan ini bermanfaat untuk melihat kondisi bekas sayatan dan melepas selang drainase jika masih terpasang.
Segera periksa ke dokter jika muncul keluhan setelah operasi, seperti:
- Perdarahan banyak pada area sayatan
- Demam dengan suhu 38 derajat Celsius atau lebih
- Tanda-tanda infeksi
- Nyeri yang semakin berat
Anda bisa berkonsultasi dan menjalani varikokelektomi melalui layanan operasi varikokel di Ciputra IVF.
FAQ
Apakah operasi varikokel sakit?
Operasi varikokel umumnya tidak menimbulkan nyeri berat karena dilakukan dengan bantuan anestesi umum atau lokal. Namun, selama masa pemulihan, pasien dapat merasakan nyeri ringan hingga sedang, rasa pegal, atau tidak nyaman pada area selangkangan dan skrotum.
Berapa lama pemulihan operasi varikokel?
Masa pemulihan operasi varikokel biasanya membutuhkan waktu sekitar 2-4 minggu hingga pasien dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari. Proses penyembuhan sepenuhnya dan izin untuk melakukan aktivitas fisik berat dapat membutuhkan waktu hingga 6 minggu.
Kapan kualitas sperma membaik setelah operasi varikokel?
Perbaikan kualitas sperma umumnya mulai terlihat sekitar 3-6 bulan setelah operasi varikokel. Waktu tersebut dibutuhkan karena tubuh memerlukan sekitar 74 hari untuk membentuk sperma baru hingga mencapai tahap matang.
Apakah varikokel bisa kambuh?
Ya. Varikokel masih dapat muncul kembali setelah menjalani pengobatan. Angka kekambuhan berkisar 1-15%, tergantung pada metode penanganan yang dilakukan.
Apakah operasi varikokel pasti bisa hamil?
Operasi varikokel tidak menjamin kehamilan secara langsung. Namun, bila dilakukan sesuai indikasi, tindakan ini dapat memperbaiki kualitas sperma dan meningkatkan peluang kehamilan alami. Hasilnya sangat bergantung pada kondisi pria, usia dan kesuburan pasangan wanita, serta sudah berapa lama mencoba hamil.
Apa bedanya operasi mikro dan laparoskopi pada operasi varikokel?
Operasi mikro dan laparoskopi sama-sama digunakan untuk menangani varikokel, tetapi memiliki perbedaan pada lokasi sayatan, alat yang digunakan, serta risiko kekambuhan atau efek samping. Operasi mikro menggunakan mikroskop khusus melalui sayatan kecil di area selangkangan, sedangkan laparoskopi menggunakan kamera dan alat bedah kecil yang dimasukkan melalui sayatan di area perut.








