Proses pengambilan sperma untuk cek kesuburan bisa secara medis dan non-medis. Cara pengambilan sperma bedah medis umumnya melalui prosedur TESA, TESE, dan MESA/PESA. Sedangkan non-medis melalui masturbasi di klinik hingga penggunaan kondom khusus. Tindakan ini bertujuan untuk menganalisis semen yang bermanfaat dalam proses bayi tabung atau ICSI.
Jenis Prosedur Pengambilan Sperma Bedah
Pengambilan sperma melalui tindakan bedah dilakukan pada pria dengan sumbatan saluran reproduksi maupun gangguan produksi sperma. Pada pria dengan produksi sperma normal tetapi mengalami sumbatan, sperma diambil melalui prosedur aspirasi.
Sementara itu, gangguan produksi sperma membutuhkan metode yang lebih kompleks, seperti MicroTESE, yaitu prosedur pengambilan sperma dari jaringan testis menggunakan bantuan mikroskop operasi. Mikroskop membantu dokter menemukan bagian testis yang kemungkinan mengandung sperma.
Jaringan yang dokter ambil kemudian diperiksa di laboratorium IVF untuk memastikan keberadaan sperma. Beberapa prosedur pengambilan sperma meliputi:
1. Testicular Sperm Aspiration (TESA)
TESA menggunakan jarum khusus yang dokter masukkan ke dalam testis untuk mengambil jaringan dan sperma. Pengambilan sperma dengan metode ini untuk pria dengan azoospermia obstruktif, seperti setelah vasektomi dalam program IVF/ICSI.
Prosesnya menggunakan anestesi lokal dan sesuai dengan jadwal pengambilan sel telur pasangan wanita. Jika jaringan atau sperma yang dokter peroleh belum mencukupi, akan melakukan biopsi testis terbuka.
Baca Juga: Cara Membedakan Sperma Subur dan Tidak Beserta Gejalanya
2. Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration (PESA)
PESA mengambil sperma langsung dari epididimis menggunakan jarum. Metode tersebut untuk pria dengan azoospermia obstruktif akibat vasektomi sebelumnya atau infeksi.
Pengambilan sperma menggunakan anestesi lokal dan waktunya sesuai dengan jadwal pengambilan sel telur pasangan wanita untuk IVF/ICSI.
3. Testicular Sperm Extraction (TESE)
TESE adalah prosedur dengan membuat sayatan kecil pada testis untuk mengambil jaringan dan mencari keberadaan sperma. Pelaksanaannya bisa dokter jadwalkan sebelumnya atau sesuai dengan waktu pengambilan sel telur pasangan wanita.
TESE biasanya menggunakan obat penenang di ruang operasi, tetapi bisa juga memakai anestesi lokal. Sperma yang dokter temukan akan tersimpan melalui proses pembekuan untuk kebutuhan IVF/ICSI berikutnya.
4. Microepididymal Sperm Aspiration (MESA)
MESA mengambil sperma dari epididimis menggunakan mikroskop operasi. Teknik tersebut untuk pria dengan sumbatan vas deferens (saluran sperma) atau epididimis, seperti setelah vasektomi maupun kelainan bawaan berupa tidak terbentuknya kedua vas deferens.
MESA dokter lakukan di ruang operasi dengan anestesi umum dan bantuan mikroskop operasi. Sperma yang dokter peroleh biasanya disimpan melalui proses pembekuan untuk kebutuhan IVF/ICSI di masa mendatang.
Daripada teknik lainnya, MESA memungkinkan pengambilan sperma matang dalam jumlah lebih banyak. Metode tersebut menjadi pilihan bagi pria dengan kelainan bawaan tidak terbentuknya kedua vas deferens (saluran sperma) karena tidak memengaruhi produksi hormon steroid dari testis.
5. Microdissection Testicular Sperm Extraction (MicroTESE)
Micro-TESE untuk pria dengan gangguan produksi sperma yang mengalami azoospermia. Jenis ini menggunakan mikroskop operasi untuk membantu dokter mencari bagian testis yang kemungkinan mengandung sperma.
Pelaksanaannya berlangsung di ruang operasi dengan anestesi umum dan biasanya terjadwalkan satu hari sebelum pengambilan sel telur pasangan wanita. Pada beberapa kasus, sperma donor dokter siapkan sebagai cadangan apabila sperma tidak ada dari pihak pria.
MicroTESE meningkatkan peluang pengambilan sperma pada pria dengan azoospermia dan mengurangi jumlah jaringan testis yang dokter ambil. Sperma yang berhasil kemudian dokter simpan melalui proses pembekuan untuk kebutuhan IVF/ICSI di masa mendatang.
Baca Juga: Varikokel dan Kualitas Sperma: Bagaimana Pengaruhnya
Orang yang Direkomendasikan untuk Melakukan Prosedur Pengambilan Sperma Bedah
PESA, MESA, TESA, atau TESE dapat menjadi pilihan bagi pria yang tidak menemukan sperma dalam cairan ejakulasi akibat adanya sumbatan pada saluran reproduksi (azoospermia obstruktif). Penyebabnya bisa meliputi:
- Riwayat vasektomi
- Infeksi menular seksual seperti klamidia
Prosedur pengambilan sperma tersebut juga bisa Anda pertimbangkan bila mengalami gangguan ejakulasi, seperti ejakulasi retrograde atau anejakulasi. Sementara itu, MicroTESE untuk pria yang tidak menemukan sperma dalam cairan ejakulasi akibat gangguan produksi sperma (azoospermia non obstruktif).
Beberapa penyebabnya meliputi:
- Riwayat kemoterapi atau radioterapi yang menyebabkan fungsi kesuburan belum kembali normal
- Kelainan genetik yang memengaruhi kesuburan
- Riwayat pengangkatan testis, misalnya sebagai bagian dari pengobatan kanker
- Riwayat operasi untuk menurunkan testis yang tidak turun (undescended testis)
Potensi Risiko Pengambilan Sperma Bedah
Efek samping dari pengambilan sperma melalui tindakan bedah jarang terjadi. Namun, perdarahan dan infeksi tetap bisa muncul setelah prosedur.
Sebagian kecil pria mengalami penurunan kadar testosteron setelah pengambilan sperma. Hal tersebut bisa memengaruhi fungsi seksual, tidur, kekuatan otot, dan meningkatkan rasa cemas.
Apabila mengalami efek samping setelah tindakan, segera hubungi klinik. Pria dengan gangguan kesuburan juga memiliki risiko sedikit lebih tinggi terkena kanker testis. Pemeriksaan testis secara rutin penting Anda lakukan, terutama untuk mendeteksi adanya benjolan.
Hal yang Perlu Diperhatikan Sebelum Melakukan Tes Kesuburan Sperma
Analisis sperma dokter lakukan sesuai dengan tujuan pemeriksaannya. Sebelum tes kesuburan, dokter akan melihat riwayat kesehatan dan melakukan pemeriksaan fisik, termasuk pemeriksaan area genital.
Setelah itu, dokter akan memberikan petunjuk mengenai persiapan dan pengambilan sampel sperma. Sebelum memberikan sampel, pria perlu menghindari aktivitas seksual selama 2-7 hari, termasuk hubungan seksual dan masturbasi.
Jeda tersebut membantu menjaga jumlah sperma agar hasil pemeriksaan lebih akurat. Pemeriksaan sperma setelah vasektomi biasanya 8-12 minggu setelah tindakan.
Setelah vasektomi, pria sebaiknya ejakulasi beberapa kali melalui masturbasi atau hubungan seksual menggunakan pengaman untuk membantu mengeluarkan sisa sperma dari saluran reproduksi.
Baca Juga: Mengenal Proses Spermatogenesis pada Sistem Reproduksi Pria
Cek Kesuburan Sperma di Ciputra IVF
Bagi Anda yang sedang merencanakan program kehamilan dan ingin mengetahui kondisi kesuburan pria, pemeriksaan sperma menjadi salah satu langkah penting. Ciputra IVF menyediakan layanan pemeriksaan serta penanganan masalah kesuburan pria, termasuk prosedur pengambilan sperma melalui metode PESA, MESA, TESA, dan TESE.
Prosedur tersebut untuk membantu mendapatkan sperma pada pria yang mengalami azoospermia, yaitu kondisi ketika sperma tidak ada dalam cairan ejakulasi. Pemilihan metode akan dokter sesuaikan dengan penyebabnya, seperti adanya sumbatan saluran reproduksi atau gangguan produksi sperma.
Biaya prosedur pengambilan sperma seperti MESA, PESA, TESA, dan TESE di Ciputra IVF mulai dari Rp15 juta hingga Rp18 juta. Besarnya biaya bisa berbeda pada setiap pasien, tergantung jenis tindakan yang dibutuhkan, tingkat kompleksitas prosedur, penggunaan anestesi, pemeriksaan laboratorium, serta kebutuhan penanganan tambahan selama proses fertilitas.
Untuk menentukan metode yang sesuai, Anda perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter spesialis fertilitas di Ciputra IVF.
FAQ
Apa beda MESA, PESA, TESA, TESE?
Beda MESA, PESA, TESA, TESE terletak pada lokasi pengambilan sperma dan teknik yang digunakan. MESA dan PESA mengambil sperma dari epididimis, sedangkan TESA dan TESE ambil sperma dari testis. Tingkat tindakan yang dilakukan juga berbeda, mulai dari penggunaan jarum hingga pengambilan jaringan melalui prosedur bedah.
Mana yang untuk azoospermia non-obstruktif?
Pada azoospermia nonobstruktif (NOA), metode yang sering digunakan untuk mencari sperma adalah MicroTESE (Microdissection Testicular Sperm Extraction). Prosedur tersebut menggunakan mikroskop operasi untuk membantu dokter menemukan bagian kecil dalam testis yang masih memiliki aktivitas produksi sperma.
Apakah pengambilan sperma sakit?
Selama prosedur, pasien tidak akan merasakan nyeri karena dokter menggunakan anestesi lokal, obat mati rasa, atau obat penenang. Setelah efek obat berkurang, area skrotum mungkin terasa nyeri ringan, sensitif, atau mengalami memar selama beberapa hari.
Berapa tingkat keberhasilan prosedur MESA, PESA, TESA, TESE?
Peluang keberhasilan pengambilan sperma berbeda-beda, tergantung jenis azoospermia yang dialami. Pada azoospermia obstruktif (OA), tingkat keberhasilan pengambilan sperma tergolong tinggi, yaitu sekitar 80% hingga 100% untuk berbagai metode seperti MESA, PESA, TESA, dan TESE. Sementara pada azoospermia nonobstruktif (NOA), peluang keberhasilan lebih rendah dan berkisar sekitar 10% hingga 50%, tergantung metode yang digunakan.
Apakah prosedur MESA, PESA, TESA, TESE bisa langsung digabung ICSI?
Ya, sperma yang diperoleh melalui MESA, PESA, TESA, dan TESE dapat digunakan langsung dalam prosedur ICSI. ICSI dipilih karena jumlah sperma yang diperoleh melalui pengambilan bedah biasanya terbatas atau kemampuan geraknya kurang optimal. Dalam prosedur ini, satu sperma akan disuntikkan langsung ke dalam sel telur untuk membantu proses pembuahan.









