Round Spermatid Injection (ROSI) adalah teknik reproduksi berbantu yang menggunakan spermatid bulat, yaitu sel sperma belum matang untuk membuahi sel telur. Berbeda dengan IVF yang memakai sperma matang, ROSI untuk pria dengan azoospermia non-obstruktif yang tidak memiliki sperma matang sama sekali.
Round Spermatid Injection (ROSI) sebagai solusi bagi pasangan yang menghadapi tantangan dalam memiliki keturunan. Dalam prosedur ini, dokter mengambil sel sperma yang belum matang sepenuhnya yang disebut round spermatid langsung dari testis. Sel tersebut kemudian dokter suntikkan ke dalam sel telur untuk membantu proses pembuahan pada kasus yang sulit dengan metode IVF (In Vitro Fertilization) biasa.
Apa Itu Round Spermatid Injection (ROSI)?
ROSI atau Round Spermatid Injection adalah salah satu metode lanjutan dalam program bayi tabung untuk pria yang tidak memiliki sperma matang. Dalam prosedur ini, dokter mengambil sel sperma yang belum berkembang sepenuhnya (spermatid bulat) langsung dari jaringan testis, lalu menyuntikkannya ke dalam sel telur agar bisa terjadi pembuahan.
ROSI biasanya menjadi pilihan terakhir setelah metode pengambilan sperma lainnya tidak berhasil. Metode ini dapat menjadi pilihan bagi pasangan yang sulit memiliki anak secara biologis akibat masalah kesuburan pria yang berat.
Meski tingkat keberhasilan ROSI belum setinggi IVF atau ICSI, prosedur ini telah berhasil menghasilkan kehamilan dan kelahiran pada beberapa kasus. Hasilnya dapat terpengaruhi oleh kualitas spermatid, kondisi sel telur, dan keahlian tim medis yang menangani.
Baca Juga: Tingkat Keberhasilan Bayi Tabung (IVF) dan Faktor Penentunya
Perbedaan Teknik ROSI dan Metode IVF
Dalam tubuh pria, sperma tidak langsung terbentuk secara instan, tapi melalui beberapa tahap yang berlangsung selama kurang lebih 90 hari. Proses ini mulai dari:
- Spermatogonium, yaitu sel paling awal.
- Lalu berkembang menjadi spermatosit.
- Kemudian menjadi spermatid, yang hampir jadi sperma.
- Dan terakhir menjadi spermatozoa, yaitu sperma matang yang bisa membuahi sel telur.
Dari semua tahap, hanya sperma sudah matang yang punya kemampuan terbaik untuk membuahi sel telur. Namun, pada pria dengan azoospermia, sperma matang sering kali tidak ada.
Dokter dapat melakukan biopsi testis (TESE), yaitu mengambil sampel jaringan dari testis untuk mencari sperma matang. Jika sperma matang tidak ada, dokter dapat mencari sel sperma yang belum matang, seperti spermatid.
Spermatid belum dapat membuahi sel telur secara alami. Namun, melalui teknologi ROSI (Round Spermatid Injection), spermatid yang masih berbentuk bulat atau sedikit memanjang dapat dokter masukkan langsung ke dalam sel telur.
Sementara itu, IVF (bayi tabung) membutuhkan sperma yang sudah matang. Sperma diperoleh dari air mani, kemudian dokter pilih sperma yang terbaik untuk proses pembuahan.
Perbedaan ROSI dan IVF terletak pada jenis sperma yang digunakan. IVF membutuhkan sperma matang, biasanya dari ejakulasi, sedangkan ROSI dapat menggunakan spermatid dari jaringan testis ketika sperma matang tidak ditemukan.
Kapan ROSI Direkomendasikan?
Berikut beberapa kriteria yang dokter sarankan untuk melakukan ROSI:
- Tidak memiliki sperma sama sekali dalam air mani karena gangguan produksi, bukan karena sumbatan saluran.
- Proses pembentukan spermanya terhenti di tahap awal, jadi tidak pernah terbentuk sperma matang.
- Sudah pernah menjalani prosedur TESE atau Micro-TESE (pengambilan sperma dari testis) tapi hasilnya nihil.
- Mengalami kondisi genetik atau kelainan pada testis yang membuat sperma tidak berkembang dengan sempurna.
- Tetap ingin punya anak kandung meski menghadapi masalah infertilitas yang serius.
Sebelum menjalani ROSI, dokter perlu memeriksa apakah masih ada sel sperma muda (spermatid) di dalam jaringan testis. Bila ada dan sel tersebut bisa dokter gunakan, maka ROSI bisa menjadi pilihan.
Baca Juga: Program Bayi Tabung untuk Penderita Endometriosis
Prosedur Round Spermatid Injection
Prosedur ROSI (Round Spermatid Injection) melalui tahapan berikut:
- Dokter akan melakukan biopsi jaringan testis untuk memperoleh sel sperma muda yang disebut round spermatid.
- Embriolog berpengalaman akan mengidentifikasi spermatid yang masih hidup dan layak pakai menggunakan mikroskop dengan pembesaran tinggi.
- Setiap spermatid yang telah dokter pilih akan disuntikkan langsung ke dalam sel telur pasangan melalui teknik mikromanipulasi.
- Embrio yang terbentuk akan dipantau secara ketat untuk memastikan terjadinya pembuahan dan perkembangan awal.
- Embrio sehat akan dokter tanamkan ke dalam rahim pasien.
Teknik IVF lanjutan ini di laboratorium khusus dengan protokol yang ketat, mengingat penggunaan sel sperma yang belum matang memerlukan penanganan sangat hati-hati.
Efek Samping Round Spermatid Injection (ROSI)
Meskipun Round Spermatid Injection (ROSI) dapat menjadi harapan bagi pasangan yang tidak memiliki sperma matang, prosedur ini juga memiliki risiko efek samping yang perlu Anda pertimbangkan. Salah satu efek samping prosedur ROSI adalah adanya kemungkinan terjadi kelainan genetik atau epigenetik pada janin.
Sebab, sel sperma masih dalam tahap sangat awal (belum matang), proses pembentukan DNA bisa jadi belum sempurna. Hal ini meningkatkan risiko terjadinya kerusakan DNA yang dapat berujung pada kegagalan perkembangan embrio, cacat bawaan, hingga janin dengan kondisi kromosom mosaic, di mana tidak semua sel janin memiliki struktur genetik yang sama.
Dalam beberapa kasus, hal ini juga bisa menyebabkan keguguran atau kelainan berat pada bayi yang lahir. Oleh karena itu, penting bagi pasangan untuk berkonsultasi secara menyeluruh dengan dokter spesialis fertilitas sebelum memutuskan menjalani prosedur ROSI.
Baca Juga: Layanan ICSI di Ciputra IVF
Jika Anda ingin mengetahui lebih lanjut mengenai prosedur Round Spermatid Injection (ROSI) atau sedang merencanakan kehamilan, jangan ragu untuk berkonsultasi langsung di Ciputra IVF. Klinik fertilitas akan membantu menjelaskan setiap tahapan dengan jelas dan memberikan solusi terbaik sesuai kondisi kesehatan Anda dan pasangan.








