Azoospermia: Penyebab, Jenis (Obstruktif vs Non-Obstruktif), dan Penanganan

Azoospermia Adalah

Pria umumnya memiliki sekitar 100-300 juta sperma dalam cairan semen. Azoospermia merupakan kondisi ketika tidak ditemukan sperma dalam cairan semen.

Tanpa adanya sperma, kehamilan tidak dapat terjadi. Saat ejakulasi, sperma bergerak dari testis menuju prostat dan bercampur dengan cairan yang membentuk semen. Selanjutnya, semen bergerak melalui vas deferens menuju penis, lalu kontraksi otot penis membantu mengeluarkan semen dari tubuh.

Apa Itu Azoospermia?

Azoospermia adalah kondisi ketika tidak ditemukan sperma dalam cairan ejakulasi. Ciri-ciri azoospermia biasanya diketahui melalui pemeriksaan sperma.

Kondisi ini terjadi pada sekitar 1% pria di populasi umum dan sekitar 15% pria dengan infertilitas. Berbeda dengan azoospermia, aspermia terjadi saat tidak ada cairan semen yang keluar saat ejakulasi. Seseorang dinyatakan mengalami azoospermia apabila pemeriksaan mikroskopis pada dua sampel semen terpisah yang telah dikonsentrasikan tidak menemukan adanya sperma.

Baca Juga: Daftar Makanan yang Menjadi Pantangan untuk Kesuburan Pria

Jenis Azoospermia

Azoospermia terbagi menjadi tiga jenis, yaitu:

  • Azoospermia Post-testikular (Obstruktif): Jenis ini terjadi ketika adanya sumbatan atau gangguan pada saluran reproduksi yang menyebabkan sperma tidak dapat keluar saat ejakulasi. Pada kondisi ini, testis tetap menghasilkan sperma, tetapi sperma terhambat untuk keluar.
  • Azoospermia Testikular (Non-Obstruktif): Terdapat gangguan atau kerusakan pada struktur maupun fungsi testis yang menyebabkan produksi sperma rendah atau tidak terjadi produksi sperma.
  • Azoospermia Pre-testikular: Testis dan saluran reproduksi tampak normal, tetapi tidak mendapatkan stimulasi hormon yang cukup untuk menghasilkan sperma. Kondisi ini dapat terjadi setelah kemoterapi atau akibat ketidakseimbangan hormon. Jenis ini juga termasuk dalam azoospermia non obstruktif.

Penyebab Azoospermia Berdasarkan Jenisnya

Penyebab tidak ada sperma adanya sumbatan pada saluran reproduksi maupun faktor lain seperti kelainan genetik atau gangguan hormon. Berdasarkan penyebabnya, azoospermia dibagi menjadi dua jenis, yaitu azoospermia obstruktif dan non-obstruktif.

1. Azoospermia Post-testikular (Obstruktif)

Penyebab azoospermia obstruktif berkaitan dengan saluran sperma tersumbat atau adanya gangguan pada saluran reproduksi yang menghambat keluarnya sperma dari testis. Sumbatan paling sering ditemukan pada epididimis, vas deferens, atau saluran ejakulasi yang menjadi jalur keluarnya sperma.

Beberapa penyebabnya meliputi:

  • Cedera atau trauma pada testis
  • Infeksi seperti epididimitis
  • Peradangan
  • Ejakulasi retrograde
  • Riwayat operasi di area panggul
  • Kista atau pertumbuhan jaringan
  • Vasektomi
  • Mutasi gen fibrosis kistik yang menyebabkan vas deferens tidak terbentuk atau terjadi penumpukan cairan kental yang menghambat saluran tersebut

2. Azoospermia Pre-testikular dan Testikular (Non-Obstruktif)

Azoospermia nonobstruktif tidak berkaitan dengan sumbatan, tetapi disebabkan oleh gangguan produksi sperma akibat faktor genetik atau gangguan hormon. Beberapa penyebabnya meliputi:

  • Kelainan genetik tertentu seperti sindrom Kallmann, sindrom Klinefelter, atau penghapusan kromosom Y
  • Ketidakseimbangan hormon dan gangguan endokrin seperti testosteron rendah, hiperprolaktinemia, dan gangguan androgen
  • Varikokel
  • Reaksi terhadap obat tertentu yang dapat mengganggu produksi sperma
  • Terapi radiasi, kemoterapi, atau paparan logam berat maupun racun
  • Tidak memiliki testis atau kondisi testis tidak turun (undescended testicles)
  • Orkitis
  • Faktor gaya hidup seperti penyalahgunaan obat atau alkohol, serta terlalu sering menghabiskan waktu di sauna atau kolam air panas

Cara Mendiagnosis Azoospermia

Diagnosis azoospermia bertujuan mengetahui penyebab. Pemeriksaan mencakup beberapa tahapan, mulai dari analisis sampel sperma hingga pemeriksaan tambahan. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Menentukan Tipe Azoospermia

Dokter akan menentukan jenis azoospermia yang dialami, yaitu:

  • Azoospermia Obstruktif: Sperma tetap diproduksi, tetapi mengalami hambatan pada saluran reproduksi sehingga tidak dapat keluar.
  • Azoospermia Non Obstruktif: Produksi sperma mengalami gangguan.

Jenis azoospermia yang dialami akan menentukan pilihan penanganan. Jumlah sperma yang dibutuhkan untuk proses pembuahan juga berbeda, yaitu:

  • 10-20 juta sperma bergerak untuk pembuahan alami tanpa bantuan
  • 3-5 juta sperma untuk prosedur inseminasi intrauterin (IUI)
  • 1 juta sperma untuk program bayi tabung (IVF)
  • 1-20 sperma untuk prosedur injeksi sperma intracytoplasmic (ICSI)

Baca Juga: Morfologi Sperma: Bentuk Normal yang Mempengaruhi Kesuburan

2. Pemeriksaan Sampel Sperma

Hasil tes sperma azoospermia diketahui melalui pemeriksaan dua sampel sperma yang dikumpulkan pada waktu berbeda untuk memperhitungkan variasi alami. Pemeriksaan dilakukan untuk melihat apakah terdapat sperma dalam cairan semen.

Adapun hal yang perlu diperhatikan:

  • Sampel harus dibawa dalam waktu kurang dari satu jam
  • Wadah sampel harus tetap berada pada suhu tubuh, misalnya disimpan di dalam saku
  • Tidak melakukan ejakulasi selama 2-5 hari sebelum pengambilan sampel agar tubuh memiliki waktu untuk memproduksi kembali sperma

Pemeriksaan diawali dengan analisis sampel. Jika sperma tidak ditemukan, sampel kemudian diproses menggunakan sentrifugasi untuk menghasilkan endapan (pellet) yang kemudian diperiksa lebih lanjut guna mencari kemungkinan adanya sperma yang tersembunyi (cryptospermia).

3. Perbedaan Azoospermia dan Oligospermia

Sebagian pria yang menjalani pemeriksaan mungkin tidak mengalami azoospermia, melainkan oligospermia, yaitu jumlah sperma yang lebih rendah dari normal. Penanganan bisa dilakukan melalui program pengobatan kesuburan pria.

4. Pemeriksaan Penunjang Lain

Selain pemeriksaan sperma, diagnosis azoospermia juga dapat mencakup beberapa pemeriksaan tambahan, seperti:

  • Riwayat kesehatan menyeluruh, termasuk catatan medis yang sudah ada
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemeriksaan hormon
  • Pemeriksaan genetik
  • Pemeriksaan pencitraan saluran reproduksi menggunakan USG, MRI, atau CT scan

Cara Mengatasi Azoospermia

Pilihan penanganan azoospermia pada program IVF bergantung pada jenis azoospermia yang dialami.

1. Azoospermia Obstruktif (OA)

Pada azoospermia obstruktif, terdapat sumbatan yang menghambat keluarnya sperma, sementara produksi sperma di dalam testis sering kali tetap normal. Pengambilan sperma langsung dari saluran reproduksi atau testis menjadi salah satu metode yang dapat dilakukan.

Beberapa prosedur pengambilan sperma meliputi:

  • Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration (PESA): Pengambilan sperma dari epididimis menggunakan jarum halus.
  • Testicular Sperm Aspiration (TESA): Pengambilan sperma langsung dari jaringan testis menggunakan jarum.
  • Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration (MESA): Prosedur bedah menggunakan mikroskop untuk menemukan dan mengambil sperma dari epididimis.
  • Vasectomy Reversal: Operasi untuk menyambungkan kembali saluran sperma yang sebelumnya diputus atau ditutup saat vasektomi. Tindakan ini bertujuan agar sperma dapat kembali mengalir dan keluar saat ejakulasi.

Sperma yang berhasil diperoleh kemudian digunakan dalam prosedur Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI). Teknik ini dilakukan dengan menyuntikkan satu sperma langsung ke dalam setiap sel telur untuk membantu proses pembuahan. Embrio yang terbentuk kemudian dipindahkan ke rahim pasangan wanita.

Baca Juga: Meningkatkan Kualitas Sperma dengan Cara Medis dan Alami

2. Azoospermia Non Obstruktif (NOA)

Pada azoospermia non obstruktif (NOA), produksi sperma mengalami gangguan. Meski demikian, beberapa bagian di dalam testis masih mungkin mengandung sperma yang dapat diambil.

Salah satu teknik yang digunakan adalah:

  • Microdissection Testicular Sperm Extraction (Micro-TESE): Prosedur pengambilan sperma dari jaringan testis menggunakan mikroskop operasi. Dokter mencari bagian testis yang lebih mungkin mengandung sperma untuk diambil.
  • Terapi Hormon: Pada beberapa kasus NOA akibat gangguan hormon, obat hormon tertentu dapat diberikan untuk membantu merangsang produksi sperma. Tingkat keberhasilannya dapat berbeda pada setiap kasus.

Seperti pada azoospermia obstruktif, sperma yang berhasil diperoleh dari kasus NOA kemudian digunakan dalam prosedur ICSI untuk membuahi sel telur. Embrio yang terbentuk selanjutnya dipindahkan ke rahim pasangan wanita.

FAQ

Apakah azoospermia bisa punya anak?

Ya, pria dengan azoospermia masih bisa memiliki anak. Kehamilan alami biasanya sulit terjadi karena tidak ada sperma dalam cairan ejakulasi, tetapi teknologi reproduksi dan teknik pengambilan sperma bisa membantu mendapatkan sperma yang dibutuhkan.

Beda azoospermia obstruktif dan non-obstruktif?

Azoospermia obstruktif terjadi ketika testis tetap menghasilkan sperma, tetapi sperma tidak dapat keluar karena adanya sumbatan pada saluran reproduksi. Sementara itu, azoospermia nonobstruktif terjadi ketika tubuh mengalami gangguan dalam memproduksi sperma sehingga jumlahnya sangat sedikit atau tidak ada sama sekali.

Apa penyebab tidak ada sperma?

Tidak adanya sperma dalam cairan ejakulasi disebut azoospermia. Penyebabnya secara umum terbagi menjadi dua, yaitu adanya sumbatan yang menghalangi keluarnya sperma atau gangguan yang membuat tubuh tidak memproduksi sperma.

Apakah azoospermia bisa disembuhkan?

Pemulihan azoospermia tergantung penyebabnya. Azoospermia bisa sembuh bila adanya sumbatan atau gangguan hormon. Sedangkan, azoospermia yang disebabkan oleh kerusakan berat pada testis atau kelainan genetik tertentu tidak dapat diperbaiki.

Apakah hormon bisa memulihkan produksi sperma?

Terapi hormon tertentu bisa membantu memulihkan produksi sperma jika penyebabnya berasal dari gangguan hormon. Namun, penggunaan testosteron pengganti seperti TRT atau steroid anabolik justru dapat menghentikan produksi sperma. Sementara itu, obat yang bekerja merangsang hormon seperti Clomid atau hCG dapat membantu meningkatkan kembali produksi sperma.

Cek kondisi kesuburan dalam 1 menit

Jawab beberapa pertanyaan singkat dan dapatkan hasil personal dari tim dokter kesuburan

Cek Kesuburan Anda

Gunakan tools interaktif kami untuk memahami kondisi kesuburan Anda.

Bergabung dengan 2rb+ Pasien

“Tim Ciputra IVF mendampingi kami setiap hari. Persiapan yang mereka berikan sangat membantu mental kami.”

— Sarah & Andi