Metode Bayi Tabung ICSI dan IMSI untuk Meningkatkan Peluang Kehamilan

Metode Bayi Tabung ICSI dan IMSI untuk Meningkatkan Peluang Kehamilan

Metode Bayi Tabung ICSI dan IMSI untuk Meningkatkan Peluang Kehamilan

Dukungan teknologi canggih yang inovatif selama program bayi tabung membantu pejuang garis dua untuk hamil. Pernah dengar metode bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF) menggunakan teknik ICSI dan IMSI? Apakah kedua metode tersebut dapat meningkatkan kesuksesan kehamilan selama menjalani prosedur bayi tabung? Daripada penasaran simak informasinya dalam ulasan berikut.

Baca Juga: Apa Saja Faktor Penentu Keberhasilan Bayi Tabung?

3 Jenis Metode Bayi Tabung atau IVF

Tingkat keberhasilan program bayi tabung dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti usia, kondisi kesehatan wanita, pola hidup, termasuk kualitas sperma seseorang. Satu sel sperma yang baik dapat menentukan kualitas embrio. Normalnya, sperma memiliki bentuk yang terstruktur dengan baik, termasuk kepala, leher, dan ekor yang proporsional.

Sperma dengan morfologi yang normal lebih mampu bergerak dengan baik dan mencapai sel telur untuk pembuahan. Oleh karena itu, penting mengetahui teknik pemilihan sperma terutama bagi pasangan suami istri yang menjalani program bayi tabung untuk mendapatkan buah hati.

Terkadang sperma tidak dapat menembus lapisan luar sel telur karena berbagai alasan, seperti sperma tidak bisa berenang, sel telur terlalu tebal atau sulit ditembus. Bahkan bentuk sperma abnormal salah satunya juga berpengaruh dalam proses pembuahan.

Sel sperma dengan bentuk (morfologi) yang sehat memiliki warna transparan, kepala berbentuk oval, ekor panjang tidak tergulung, inti sel tetap, serta tidak mengandung vakuola (rongga). Satu sperma yang baik dan sehat memiliki bentuk lengkap ada kepala, badan, dan ekor lebih mungkin untuk sampai ke sel telur.

Ahli embriologi akan membantu menyuntikkan sel sperma ke dalam sel telur untuk membantu proses pembuahan. Proses pengenalan dan penempatan sel sperma ke dalam sel telur biasanya dilakukan melalui beberapa teknik. Lantas, bagaimana sel sperma dipertemukan dan dimasukkan ke bagian dalam sel telur? Baca terus ulasan berikut.

1. In Vitro Fertilization (IVF) Konvensional

Salah satu metode dalam siklus alami In Vitro Fertilization (IVF) yang dapat dilakukan tanpa obat-obatan atau alat bantu tambahan. Dalam metode siklus alami IVF, sel sperma dan sel telur ditempatkan bersama dalam cawan petri untuk mencapai pembuahan secara alami.

Meskipun hanya satu sperma yang berhasil membuahi sel telur, tidak dapat dipastikan bahwa sel sperma akan berhasil mencapai sel telur dan terjadinya pembuahan. Sel sperma harus melewati lapisan luar sel telur untuk mencapai bagian dalam sel telur tempat terjadinya pembuahan.

Kemungkinan terjadinya kehamilan kembar dalam metode ini lebih kecil dibandingkan dengan metode IVF lainnya yang melibatkan transfer embrio lebih dari satu ke rahim. Namun, setiap pasien dan situasi dapat berbeda, dan rekomendasi dokter serta evaluasi individual akan menjadi faktor penentu dalam menentukan metode terbaik untuk setiap pasien.

2. Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI)

Metode kedua disebut Intracytoplasmic Sperm Injection (ICSI) adalah prosedur perawatan bayi tabung yang umum digunakan dalam kasus ketidakmampuan sperma untuk membuahi sel telur secara alami. Dalam prosedur ICSI, seorang ahli embriologi menggunakan mikroskop khusus untuk memperbesar gambar sperma hingga 400 kali.

Sperma yang dipilih kemudian diambil dengan hati-hati dan disuntikkan langsung ke dalam sel telur menggunakan jarum khusus. Tujuan dari teknik ini untuk memastikan bahwa sperma dapat membuahi sel telur secara efektif, bahkan jika ada masalah dengan kualitas atau gerakan sperma.

Prosedur ICSI biasanya digunakan jika ada faktor-faktor tertentu yang menghalangi pembuahan alami, seperti jumlah sperma yang rendah, gerakan sperma yang terbatas, atau adanya masalah morfologi (struktur) pada sperma. Metode ini telah terbukti berhasil dalam banyak kasus dan telah membantu banyak pasangan yang mengalami kesulitan dalam kehamilan.

Baca Juga: Ingin Tahu Tanda-Tanda Hamil 1 Hari? Cek di Sini

3. Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection (IMSI)

Metode ketiga, Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection (IMSI) merupakan perawatan bayi tabung yang melibatkan mikroskop khusus untuk memilih sperma dengan pembesaran gambar sangat tinggi (lebih dari 6000 kali). Teknik IMSI lebih canggih daripada ICSI, struktur sperma akan terlihat lebih jelas sehingga risiko kelainan pada bagian sperma dapat terdeteksi. Setelah itu, sel sperma akan disuntikkan ke dalam satu sel telur menggunakan jarum khusus.

Metode ketiga disebut Intracytoplasmic Morphologically Selected Sperm Injection (IMSI) merupakan perkembangan lebih lanjut dari teknik ICSI. Dalam prosedur IMSI, menggunakan mikroskop khusus dengan pembesaran gambar yang sangat tinggi, biasanya lebih dari 6000 kali, yang memungkinkan ahli embriologi melihat struktur detail sperma dengan lebih jelas. Dengan tingkat pembesaran yang lebih tinggi, kelainan pada bagian sperma dapat terdeteksi dengan lebih akurat.

Setelah memilih sperma yang memiliki struktur yang baik dan normal, sperma tersebut kemudian disuntikkan ke dalam sel telur menggunakan jarum khusus, serupa dengan prosedur ICSI. Metode IMSI digunakan terutama untuk pasangan yang mengalami masalah kesuburan yang signifikan, seperti kelainan morfologi sperma yang parah.

Dengan melihat struktur sperma dengan lebih detail, ahli embriologi dapat memilih sperma yang paling sehat dan memiliki potensi pembuahan yang lebih baik. Meskipun teknik IMSI lebih canggih daripada ICSI, tidak semua pasangan membutuhkan metode ini. Keputusan penggunaan metode IMSI harus dibuat berdasarkan evaluasi dokter.

Metode Bayi Tabung ICSI dan IMSI untuk Meningkatkan Peluang Kehamilan

Ahli embriologi memasukkan sampel ke dalam centrifuge di laboratorium.

Mengapa Perlu Dilakukan ICSI?

ICSI dianggap diperlukan dalam gangguan kesuburan pria dengan analisis sperma yang abnormal. Selain alasan infertilitas faktor pria, ICSI juga digunakan untuk gangguan kesuburan lainnya. Adapun gangguan kesuburan yang diindikasikan untuk ICSI meliputi:

1. Jumlah Sperma yang Rendah (Oligospermia)

Jumlah sperma yang rendah berarti cairan sperma (air mani) yang keluar saat ejakulasi mengandung lebih sedikit sperma. Jumlah sperma dikategorikan sedikit dari biasanya jika kurang dari 15 juta sperma per mililiter air mani.

2. Tidak Ada Sel Sperma dalam Sperma (Azoospermia)

Azoospermia menyebabkan infertilitas pria. Kondisi ini terjadi karena tidak ada sperma dalam ejakulasi pria. Penyebab azoospermia termasuk penyumbatan sepanjang saluran reproduksi, masalah hormonal, masalah ejakulasi atau masalah struktur fungsi testis.

3. Pergerakan Sperma/Motilitas yang Buruk (Asthenozoospermia)

Asthenozoospermia merupakan penurunan kualitas sperma dari pergerakan atau motilitas. Sperma tidak dapat bergerak efisien sehingga menyebabkan sperma tidak dapat mencapai sel telur dan membuahinya. Kondisi ini menghambat kemungkinan seseorang untuk hamil karena pergerakan sperma tidak maksimal menuju rahim atau sel telur wanita.

4. Teratozoospermia

Teratozoospermia berkaitan dengan bentuk atau morfologi sperma yang abnormal. Ketika presentase sperma berbentuk abnormal lebih dari 96% dari sampel cairan ejakulasi dapat dikategorikan sebagai teratozoospermia.

Selain itu, indikasi perlu dilakukan ICSI kareva alasan lain termasuk:

  • Riwayat kegagalan dengan IVF konvensional
  • Pria yang telah menjalani vasektomi atau penyakit infeksi, seperti HIV dan Hepatitis
  • Pria yang spermanya dibekukan sebelum menjalani terapi kanker
  • Pria yang tidak dapat melakukan ejakulasi secara normal.

Baca Juga: Ciri-Ciri Hamil Muda yang Sehat Bumil

Mengapa Perlu Dilakukan IMSI?

IMSI merupakan teknik ICSI yang lebih canggih di mana, sebelum injeksi, seleksi sperma dipilih melalui pembesaran gambar lebih tinggi. Dengan demikian, kualitas sperma dapat dievaluasi lebih detail. Indikasi dengan metode IMSI biasanya ditujukan untuk pasien gangguan kesuburan pria yang parah dan pasien dengan riwayat kegagalan ICSI berulang. IMSI juga dapat digunakan untuk beberapa kondisi berikut:

  • Kualitas embrio yang buruk
  • Infertilitas yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya
  • Kegagalan implantasi
  • Kurangnya jumlah sperma yang berat

IMSI menunjukkan lebih unggul dari ICSI dikaitkan dengan tingkat kehamilan dan persalinan yang lebih tinggi. Prosedur IMSI memerlukan waktu lebih lama ketimbang IVF konvensional atau ICSI dan mengorbankan biaya lebih mahal. Tak heran bila IMSI tidak dilakukan rutin pada kebanyakan klinik bayi tabung atau labortorium IVF.

Peluang Keberhasilan ICSI dan IMSI

Perbandingan angka kesuksesan teknik ICSI dan IMSI melalui tabel berikut:

Tolak UkurICSIIMSI
Tingkat kelahiran klinis32%35-44%
Tingkat kelahiran hidup25%20-32%
Risiko keguguran7%5-10%

*Sumber: Literatur medis Chocrane (2019)

Sekilas IMSI terlihat unggul daripada ICSI. Meskipun begitu, belum ada bukti cukup mendukung karena jumlah sampel dalam penelitian masih sedikit sehingga hasil penelitian belum konsisten. Keterbatasan studi hingga ketidakkonsistenan hasil belum bisa menjadi pernyataan rekomendasi.

Kesimpulan Metode Bayi Tabung ICSI dan IMSI

Dalam teknologi reproduksi program kesuburan, metode bayi tabung dengan teknik ICSI dan IMSI berguna membantu sperma dengan mudah membuahi sel telur. ICSI menjadi metode berbantuan terbanyak digunakan pada pria dengan infertilitas. Sementara IMSI menjadi teknik yang efektif untuk meningkatkan angka atau peluang kehamilan pada pria dengan infertilitas berat.

Dalam semua metode di atas, tujuannya adalah untuk mempertemukan sel sperma dengan sel telur agar terjadi pembuahan. Setelah pembuahan terjadi, embrio yang berkembang akan dipindahkan ke rahim wanita untuk menempel dan berkembang lebih lanjut.

Penting untuk dicatat bahwa teknik yang digunakan tergantung pada kondisi individu dan rekomendasi dari ahli embriologi atau dokter kesehatan reproduksi. Setiap prosedur memiliki keunggulan dan pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam konteks setiap kasus yang berbeda.

Telah direview oleh dr. Sony Prabowo

Source:

Tim Konten Medis
Terakhir diperbarui pada 5 Desember, 2023
Dipublisikan 5 Juli, 2023