Testosteron Rendah dan Kesuburan: Mengapa TRT Bisa Memperburuk Infertilitas?

testosteron dan kesuburan pria

Testosteron dan kesuburan pria merupakan dua hal yang berkaitan dalam fungsi reproduksi. Testosteron adalah hormon utama pada pria yang berperan dalam menjaga massa otot, kesehatan tulang, suasana hati, gairah seksual, dan fungsi seksual.

Namun, kadar testosteron yang terlalu tinggi justru bisa menurunkan produksi sperma, terutama pada pria yang menggunakan steroid atau suplemen testosteron. Sebaliknya, kadar testosteron rendah dapat menyebabkan keluhan seperti mudah lelah dan disfungsi ereksi. Penanganannya bisa dengan perubahan gaya hidup atau terapi penggantian testosteron (TRT) dalam bentuk suntikan, gel, atau implan.

Kadar Normal Hormon Testosteron pada Pria

Kadar testosteron normal pada pria berada dalam kisaran 300 hingga 1.000 nanogram per desiliter (ng/dL). Namun, tidak semua pria mengalami gejala pada kadar testosteron yang sama.

Sebagian pria bisa mulai merasakan perubahan ketika kadarnya berada di sekitar 250 ng/dL, sementara pria lainnya baru mengalami gejala ketika kadar testosteron turun hingga 150 atau bahkan 100 ng/dL. American Urological Association (AUA) menetapkan kadar testosteron rendah pada pria jika berada di bawah 300 ng/dL. Namun, beberapa lembaga medis lainnya menggunakan batas kadar testosteron rendah yang berbeda, yaitu antara 350 ng/dL hingga 200 ng/dL.

Baca Juga: Mengenal Peran Hormon Androgen terhadap Fungsi Seksual

Hubungan Testosteron Rendah dengan Kesuburan

Pria dewasa dengan kadar testosteron di bawah kisaran normal sekitar 270-1.070 nanogram per desiliter (ng/dL) bisa terkategorikan mengalami testosteron rendah. Namun, kadar testosteron normal bisa berbeda pada setiap individu.

Testosteron rendah juga dikenal sebagai hipogonadisme. Gangguan ini terjadi sejak perkembangan janin maupun muncul saat masa kanak-kanak. Pada pria dewasa, hipogonadisme menyebabkan perubahan fisik, seperti berkurangnya pertumbuhan rambut, serta mengganggu fungsi reproduksi.

Testosteron merupakan hormon seks pria (androgen) yang terproduksi oleh testis dan dibutuhkan untuk produksi sperma. Hormon ini juga berperan dalam fungsi seksual serta perkembangan otot, tulang, penis, dan testis.

Meski wanita juga memiliki testosteron, jumlahnya lebih tinggi pada pria. Penyebab utama kadar testosteron rendah adalah usia. Seiring bertambahnya usia, kadar testosteron pria secara alami menurun, yang umumnya mulai terjadi sejak usia paruh baya.

Sebagian dokter menganggap penurunan ini sebagai bagian dari proses penuaan sehingga tidak selalu memerlukan pengobatan. Namun, jumlah pria yang menjalani terapi untuk kadar testosteron rendah meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satu penyebabnya adalah semakin banyaknya pemasaran obat testosteron secara langsung kepada pria. Perlu Anda perhatikan, salah satu efek samping penting dari terapi penggantian testosteron (Testosterone Replacement Therapy/TRT) adalah gangguan kesuburan.

Terapi ini menurunkan produksi sperma karena ikut menekan kadar follicle-stimulating hormone (FSH), yaitu hormon yang merangsang pembentukan sperma. Pada banyak kasus, gangguan kesuburan akibat terapi testosteron bisa kembali membaik.

Karena itu, pria yang sedang merencanakan kehamilan bersama pasangan sebaiknya tidak menggunakan obat testosteron untuk mengatasi kadar testosteron rendah tanpa arahan dokter. Testosteron rendah tidak selalu menyebabkan infertilitas secara langsung.

Pria dengan kadar testosteron rendah masih bisa menghasilkan sperma sehat karena produksi sperma terpengaruhi oleh hormon lain. Namun, kadar testosteron yang rendah menyebabkan penurunan produksi sperma.

Kadar testosteron di dalam testis, tempat sperma produksi juga jauh lebih tinggi dibandingkan kadar testosteron dalam darah. Dampaknya terhadap kesuburan juga terjadi secara tidak langsung.

Kadar testosteron rendah dapat menurunkan gairah seksual dan menyebabkan disfungsi ereksi, seperti berkurangnya frekuensi ereksi atau ereksi yang tidak sekuat sebelumnya. Hal ini membuat pria lebih sulit mencapai orgasme atau melakukan hubungan seksual dengan frekuensi yang cukup untuk mendukung kehamilan.

Hubungan Testosteron Tinggi dengan Kesuburan

Testosteron dan kesuburan pria juga terpengaruhi oleh kadar testosteron yang terlalu tinggi. Banyak orang menganggap bahwa kadar testosteron yang lebih tinggi berarti kesuburan pria juga semakin baik.

Namun, hormon membutuhkan kadar yang seimbang agar bisa bekerja dengan optimal. Sebaliknya, kadar testosteron yang terlalu tinggi justru bisa menyebabkan gangguan kesuburan pada pria. Kondisi ini karena adanya beberapa faktor medis, seperti:

  • Tumor jinak maupun ganas pada testis
  • Infeksi
  • Gangguan pada ginjal dan hati
  • Gangguan autoimun
  • Kelainan genetik
  • Cedera

Peningkatan testosteron yang tidak normal juga bisa terjadi akibat penggunaan steroid atau suplemen testosteron, termasuk resep dokter. Beberapa gejala yang muncul meliputi:

  • Perilaku lebih agresif
  • Tekanan darah tinggi
  • Peningkatan gairah seksual
  • Jerawat
  • Pertumbuhan rambut berlebih
  • Jumlah sperma rendah hingga infertilitas

Testosteron yang terlalu tinggi justru bisa menurunkan produksi sperma, terutama pada pria yang menggunakan steroid atau suplemen testosteron. Salah satu penelitian menunjukkan bahwa 88,4% pria yang mengonsumsi suplemen testosteron tanpa indikasi medis mengalami azoospermia, yaitu tidak adanya sperma dalam cairan ejakulasi.

Baca Juga: Kapan Sih Masa Subur Pria? Ini Ciri-Ciri dan Cara Hitungnya

Testosterone Replacement Therapy (TRT) untuk Mengatasi Testosteron Rendah

Terapi penggantian testosteron (Testosterone Replacement Therapy atau TRT) menjadi salah satu pilihan penanganan bagi pria dengan kadar testosteron rendah akibat hipogonadisme. Terapi ini menggunakan testosteron buatan untuk membantu meningkatkan kadar hormon dalam tubuh.

Manfaat dan risiko TRT perlu Anda pertimbangkan sebelum menjalani terapi ini untuk memastikan apakah sesuai dengan kondisi pasien. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyetujui penggunaan TRT pada pria dengan kadar testosteron rendah karena kondisi medis tertentu, seperti hipogonadisme.

Hipogonadisme dapat terjadi akibat gangguan atau kerusakan pada organ yang berperan dalam produksi testosteron, seperti:

  • Testis
  • Kelenjar pituitari
  • Hipotalamus

Gangguan tersebut terjadi akibat beberapa hal, seperti kemoterapi, terapi radiasi, atau kelainan genetik tertentu yang memengaruhi fungsi organ tersebut. FDA tidak menyetujui penggunaan TRT untuk pria yang mengalami penurunan testosteron tanpa adanya kondisi medis yang mendasari.

Hingga tahun 2025, terapi ini juga belum disetujui untuk pria yang mengalami penurunan testosteron secara alami akibat proses penuaan. TRT juga tidak cocok untuk semua pria. Beberapa kondisi kesehatan tertentu, seperti kanker prostat dan gagal jantung, membuat terapi ini tidak aman untuk digunakan.

Potensi Risiko Efek Samping TRT

Terapi testosteron perlu Anda perhatikan pada beberapa kondisi kesehatan karena bisa memperburuk keluhan yang sudah ada, seperti:

1. Benign Prostatic Hyperplasia (BPH)

Testosteron merangsang pertumbuhan prostat. Seiring bertambahnya usia, prostat pada sebagian pria bisa membesar.

Prostat yang membesar dapat menekan uretra, yaitu saluran yang membawa urine, sehingga menyebabkan kesulitan buang air kecil. Pada pria dengan BPH, penggunaan TRT bisa memperburuk gejala.

2. Kanker Prostat

Testosteron dapat merangsang pertumbuhan kanker prostat. Karena itu, skrining kanker prostat biasanya sebelum memulai terapi penggantian testosteron.

Pria dengan kanker prostat atau kadar prostate-specific antigen (PSA) yang tinggi sebaiknya menghindari terapi testosteron.

3. Sleep Apnea

Sleep apnea terkadang sulit penderita sadari. Pemeriksaan tidur (polysomnography) mungkin diperlukan untuk memastikan diagnosis.

4. Gumpalan Darah

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa testosteron bisa meningkatkan risiko deep vein thrombosis (DVT) dan emboli paru, yaitu kondisi ketika gumpalan darah menyumbat pembuluh darah.

5. Gagal Jantung Kongestif

Pria dengan gagal jantung kongestif berat umumnya tidak dokter anjurkan menjalani terapi penggantian testosteron karena dapat memperburuk kondisi tersebut.

6. Efek Lainnya

Efek samping yang sering muncul selama menjalani TRT meliputi:

  • Ruam, gatal, atau iritasi pada area kulit tempat testosteron dioleskan
  • Jerawat atau kulit berminyak
  • Pembesaran payudara
  • Pembengkakan pada pergelangan kaki
  • Ukuran testis mengecil
  • Penurunan jumlah sperma
  • Peningkatan jumlah sel darah merah yang meningkatkan risiko pembekuan darah
  • Peningkatan kadar prostate-specific antigen (PSA). TRT tidak menyebabkan kanker prostat, tetapi dapat mempercepat pertumbuhan kanker prostat yang sudah ada

TRT vs Steroid

Sebagian binaragawan dan atlet menggunakan steroid anabolik secara ilegal untuk meningkatkan massa otot atau kemampuan fisik. Steroid ini biasanya mengandung testosteron atau zat lain yang bekerja menyerupai testosteron.

Meski sama-sama berkaitan dengan testosteron, penggunaan steroid anabolik berbeda dengan terapi penggantian testosteron (TRT). Perbedaan utamanya terletak pada dosis.

TRT menggunakan dosis testosteron yang sesuai untuk membantu mengembalikan kadar hormon ke rentang normal dalam darah. Sebaliknya, sebagian atlet menggunakan dosis yang jauh lebih tinggi bahkan bisa mencapai 10 hingga 100 kali daripada dosis medis.

Steroid anabolik juga sering dikombinasikan dengan zat lain, seperti stimulan, obat pereda nyeri, dan hormon pertumbuhan untuk meningkatkan efek pembentukan otot. Penyalahgunaan steroid anabolik dapat menimbulkan beberapa efek samping, seperti:

  • Peningkatan agresivitas (roid rage)
  • Perubahan suasana hati
  • Episode psikosis
  • Peningkatan kadar kolesterol dan tekanan darah
  • Gangguan pada hati
  • Gangguan pertumbuhan pada remaja
  • Jerawat dan masalah kulit lainnya

Penggunaan steroid anabolik bisa menyebabkan ketergantungan, meskipun zat ini tidak menimbulkan efek “high” seperti beberapa jenis zat lainnya.

Apakah Testosterone Replacement Therapy Bisa Dihentikan Perawatannya?

Terapi penggantian testosteron (TRT) bisa dihentikan, tetapi gejala testosteron rendah kemungkinan bisa kembali muncul. Sebuah penelitian meneliti 151 pria selama 6 bulan setelah berhenti menjalani TRT.

Hasilnya, sebanyak 92 pria (61%) tidak lagi mengalami efek lanjutan dari terapi, sedangkan 59 pria (39%) masih merasakan manfaat terapi. Peneliti menemukan bahwa pria dalam kelompok yang masih merasakan efek TRT sebelumnya menjalani terapi lebih lama dibandingkan kelompok lainnya (10,7 bulan daripada 5 bulan) dan juga rutin berolahraga.

Jika ingin menghentikan TRT, sebaiknya tidak dilakukan secara tiba-tiba. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter agar dosis dapat dikurangi secara bertahap. Selama menjalani TRT, tubuh akan mengurangi produksi testosteron alami sehingga diperlukan waktu agar tubuh kembali memproduksi hormon tersebut.

Baca Juga: Mengenal Anatomi Sistem Reproduksi Pria

Perubahan Gaya Hidup untuk Memperbaiki Kadar Testosteron

Testosteron dan kesuburan pria sangat penting, maka perlu menjaga kesehatan testis dengan memastikan suhu di area testis dan skrotum tetap sejuk. Hindari kebiasaan yang membuat area tersebut terlalu panas, seperti terlalu sering menggunakan jacuzzi atau sauna.

Selain itu, hindari meletakkan laptop langsung di pangkuan. Beberapa kebiasaan lain yang bisa membantu menjaga kadar testosteron, yaitu:

  • Berhenti merokok: Merokok berkaitan dengan kadar beberapa hormon yang lebih rendah, termasuk testosteron.
  • Menurunkan berat badan: Pria dengan berat badan berlebih cenderung memiliki kadar testosteron yang lebih rendah.
  • Menjaga pola makan dan rutin berolahraga: Menjaga pola makan bergizi dan rutin berolahraga juga membantu meningkatkan kadar testosteron.

FAQ

Apakah suntik testosteron bikin mandul?

Ya, suntik testosteron bisa menurunkan produksi sperma bahkan menghentikannya untuk sementara waktu. Akibatnya, pria bisa mengalami gangguan kesuburan selama menggunakan terapi tersebut.

Bisakah sperma pulih setelah berhenti TRT?

Produksi sperma bisa kembali setelah menghentikan TRT, tetapi membutuhkan waktu. Sebagian besar pria mengalami pemulihan produksi sperma alami dalam waktu sekitar 6-12 bulan, meskipun pada beberapa kasus bisa membutuhkan waktu hingga 24 bulan. Dokter juga dapat memberikan obat tertentu, seperti hCG atau clomiphene untuk membantu mempercepat proses pemulihan.

Apa pengganti testosteron untuk yang ingin punya anak?

TRT bekerja dengan menekan produksi sperma sehingga bukan pilihan utama bagi pria yang sedang merencanakan memiliki anak. Sebagai gantinya, dokter dapat menggunakan obat yang membantu tubuh memproduksi testosteron alami sekaligus mendukung produksi sperma.

Apakah steroid gym memengaruhi kesuburan?

Ya, steroid anabolic androgenik yang digunakan untuk meningkatkan massa otot dapat memengaruhi kesuburan pria. Penggunaan testosteron dari luar atau steroid sintetis dapat membuat otak mengurangi sinyal hormon ke testis. Akibatnya, produksi sperma menurun, jumlah sperma bisa menjadi rendah atau tidak ditemukan, serta ukuran testis dapat mengecil.

Testosteron rendah harus diobati bagaimana?

Penanganan testosteron rendah bergantung pada penyebab, tingkat gejala, serta apakah pria masih ingin mempertahankan kesuburan. Pilihan terapi bisa berupa perubahan gaya hidup, obat alternatif, atau terapi penggantian testosteron (TRT) dalam bentuk gel, suntikan, plester kulit, maupun implan pelepasan hormon secara bertahap.

Cek kondisi kesuburan dalam 1 menit

Jawab beberapa pertanyaan singkat dan dapatkan hasil personal dari tim dokter kesuburan

Cek Kesuburan Anda

Gunakan tools interaktif kami untuk memahami kondisi kesuburan Anda.

Bergabung dengan 2rb+ Pasien

“Tim Ciputra IVF mendampingi kami setiap hari. Persiapan yang mereka berikan sangat membantu mental kami.”

— Sarah & Andi