Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil: Jenis, Gejala, dan Risiko

Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil: Jenis, Gejala, dan Risiko

Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil: Jenis, Gejala, dan Risiko

Infeksi saluran kemih (ISK) atau urinary tract infection (UTI) adalah infeksi yang menyerang sistem saluran kemih. Infeksi saluran kemih bisa menyerang siapapun, terutama wanita. Sekitar 1 dari 2 wanita dan 1 dari 20 pria memiliki kemungkinan terkena infeksi saluran kemih. Pada wanita, uretra pendek, dan lurus sehingga memudahkan bakteri masuk ke kandung kemih. Sebagian besar infeksi saluran kemih terbatas pada organ kandung kemih, ureter, dan ginjal, Biasanya, gejala yang ditimbulkan tidak terlalu serius atau mengancam nyawa. Namun, apakah akan berbahaya jika terjadi pada ibu hamil? Simaklah penjelasan terkait infeksi saluran kemih pada ibu hamil berikut!

Wajarkah Ibu Hamil Mengalami Infeksi Saluran Kemih?

Fakta menunjukkan bahwa infeksi saluran kemih (ISK) cenderung lebih umum terjadi pada wanita hamil, yang dimulai pada minggu ke-6 hingga minggu ke-24 kehamilan. Hal ini disebabkan oleh adanya perubahan pada sistem saluran kemih akibat posisi rahim yang berada tepat di atas kandung kemih. Bakteri seperti Escherichia coli (E. coli) dapat dengan mudah menyebar ke uretra dan menempel pada lapisan kemih sehingga terjadilah infeksi. Bakteri lainnya, seperti Mycoplasma, dan Chlamydia juga dapat menyebabkan urethritis pada pria dan wanita yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. 

Baca Juga: Rahasia Kesuksesan Program Kehamilan dengan Akupunktur

Jenis Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil

Jenis infeksi saluran kemih pada ibu hamil seringkali disebabkan oleh bakteri. Ada tiga jenis infeksi saluran kemih, meliputi: 

  • Cystitis

Cystitis atau Sistitis merupakan Radang Kandung Kemih yang paling umum terjadi pada Wanita. Wanita memiliki rentang yang lebih luas pada saat mengalami siklus menstruasi, masa kehamilan, menopause, dan histerektomi total. Gejala utama yang ditimbulkan oleh Sistitis, yaitu demam, rasa sakit di atas tulang kemaluan, urin berbau, berdarah, sakit dan nyeri di bagian bawah perut, buang air kecil dalam insensitas yang sering, serta merasa sakit hingga terbakar saat kencing. Penyebab Sistitis berasal dari bakteri yang masuk ke Uretra saat berhubungan seks. Jika Sistitis tidak segera diobati, maka dapat menimbulkan penyakit lainnya, seperti kerusakan ginjal.

  • Urethritis

Urethritis atau uretritis adalah peradangan uretra, terutama pada pria. Pada banyak kasus, organisme penyebab uretritis tidak dapat terdeteksi. Infeksi dapat dengan mudah menyebar melalui hubungan seksual vaginal atau tanpa adanya hubungan seksual sekali pun. Gejala cenderung sangat ringan dan bahkan tidak terdeteksi. Gejala akan muncul dua hingga empat minggu setelah infeksi, seperti muncul cairan bening dari penis atau vagina dengan sensasi terbakar hingga rasa sakit dan pembengkakan pada buah zakar. Jika tidak diobati dapat menyebabkan infeksi prostat, infertilitas, dan penyakit radang panggul pada wanita.

Baca Juga: Proses Fertilisasi dan Kehamilan

  • Pyelonephritis

Pyelonephritis atau pielonefritis adalah infeksi saluran kemih yang menyerang kedua organ ginjal. Pada beberapa kasus, infeksi ginjal ini jarang terjadi pada wanita maupun pria. Gejala infeksi ginjal dapat bervariasi tergantung pada usia penderita. Gejala umum yang muncul, seperti menggigil, demam, dan buang air kecil yang menyakitkan. Infeksi disebabkan oleh bakteri atau virus yang menginfeksi kandung kemih dan bergerak ke atas menuju ke salah satu atau kedua ginjal. Dokter biasanya akan memberikan obat antibiotik untuk mengurangi infeksi yang terjadi.

Infeksi Saluran Kemih pada Ibu Hamil: Jenis, Gejala, dan Risiko

Nyeri di punggung menjadi salah satu gejala infeksi saluran kemih pada ibu hamil

Tanda Gejala Infeksi Saluran Kemih Pada Ibu Hamil

Tanda dan gejala infeksi saluran kemih pada ibu hamil maupun penderita lainnya akan sama. Tanda dan gejala infeksi saluran kemih yang umum terjadi, meliputi:

  • Perubahan pola buang air kecil

Ibu hamil atau penderita infeksi saluran kemih memiliki intensitas buang air kecil yang lebih sering. Kandung kemih pun akan selalu terasa penuh. Mereka juga akan merasakan sensasi, seperti terbakar atau tidak nyaman ketika buang air kecil. Selain itu, muncul rasa nyeri di area atas tulang kemaluan wanita maupun pria.

  • Perubahan urin

Urin yang keluar cenderung mengeluarkan bau yang tidak enak, berbusa, atau bahkan berdarah. Darah pada urin bisa berwarna merah, merah terang, atau bahkan kecoklatan. Urin cenderung keluar dalam jumlah kecil. Namun, menimbulkan rasa nyeri dan sensasi terbakar.

  • Reaksi pada tubuh

Selain perubahan urin dan pola buang air kecil, tubuh juga menimbulkan reaksi yang berbeda. Tubuh akan menggigil, demam, nyeri pada bagian punggung, mual, dan muntah. Bagian bawah perut akan merasakan sakit yang cukup sering dan kuat. Sering terbangun saat tidur hanya untuk kencing.

Baca Juga: Kontraksi Adalah: Kontraksi pada Kehamilan

Risiko Bila Ibu Hamil Mengalami Infeksi Saluran Kemih

Salah satu jenis infeksi saluran kemih,  pyelonephritis yang dapat menimbulkan risiko pada ibu hamil, seperti persalinan prematur, sindrom gangguan pernapasan, anemia, dan infeksi jangka panjang. Tekanan darah tinggi juga dapat meningkat. Gejala yang berkaitan harus dibicarakan dengan dokter untuk mencegah risiko dan komplikasi yang lebih parah pada ibu dan bayi.

Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri, salah satunya bakteri E.Coli. Infeksi saluran kemih terbagi menjadi tiga jenis, yaitu cystitis, urethritis, dan pyelenophritis. Infeksi saluran kemih menyerang organ uretra, kandung kemih, hingga ginjal. Gejala yang ditimbulkan berupa demam, sering buang air kecil, nyeri pada bagian perut bawah dan alat kelamin, urin berbau hingga berubah warna. Ibu hamil yang mengalami infeksi saluran kemih dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti kelahiran prematur dan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi.  Jika merasakan gejala yang tidak nyaman pada tubuh segeralah periksa ke dokter.

Telah direview oleh dr. Sony Prabowo

Source:

Tim Konten Medis
Terakhir diperbarui pada 22 November, 2023
Dipublisikan 5 September, 2023