Ciri-Ciri Ketuban Pecah Dini (KPD) yang Perlu Diwaspadai

Ciri-ciri Ketuban Pecah Dini

Ciri-Ciri Ketuban Pecah Dini (KPD) yang Perlu Diwaspadai

Ketuban pecah dini adalah kondisi ketika cairan ketuban keluar sebelum waktunya, yaitu sebelum persalinan dimulai. Ciri-ciri ketuban pecah dini meliputi keluarnya cairan bening dari vagina secara tiba-tiba atau perlahan, terasa hangat, tidak bisa terkendalikan, serta dapat disertai dengan nyeri atau tekanan di perut bawah.  

Banyak ibu hamil mungkin bertanya-tanya, “Bagaimana rasanya kalau ketuban pecah?” Tidak sedikit yang mengira ketuban pecah akan terasa seperti air yang mengalir deras, padahal kenyataannya bisa berbeda-beda.

Ada yang merasakan rembesan kecil, ada pula yang tiba-tiba merasa basah seperti buang air tanpa bisa terkendalikan. Kondisi ini disebut ketuban pecah dini yang bisa terjadi sebelum tanda-tanda persalinan muncul.

Lalu, bagaimana cara mengenali ciri-cirinya agar Anda bisa segera mengambil tindakan yang tepat? Yuk, simak lebih lanjut!

Apa Itu Ketuban Pecah Dini (KPD)?

Ketuban pecah dini adalah kondisi ketika air ketuban keluar sebelum waktunya, yaitu sebelum proses persalinan dimulai. Air ketuban ini berfungsi melindungi bayi di dalam kandungan dari infeksi, memberi ruang gerak yang nyaman, serta membantu perkembangan tubuhnya.

Jika ketuban pecah, cairan bisa keluar sedikit-sedikit atau langsung mengalir banyak dari vagina. Kondisi ini bisa berisiko menyebabkan infeksi, kelahiran prematur, atau masalah lainnya.

Bila ketuban pecah terjadi sebelum kehamilan mencapai 37 minggu, kondisi ini disebut ketuban pecah dini sebelum waktunya (PPROM). Dalam kasus ini, dokter akan menentukan apakah persalinan harus segera dilakukan atau bisa ditunda untuk menjaga kesehatan bayi.

Menunda persalinan bisa meningkatkan risiko infeksi, tetapi melahirkan terlalu cepat juga bisa berbahaya bagi bayi. Oleh karena itu, dokter akan mempertimbangkan langkah terbaik untuk keselamatan ibu dan bayi.

Penyebab ketuban pecah dini bisa beragam, mulai dari infeksi pada rahim atau vagina, tekanan berlebih pada kantung ketuban, kehamilan kembar, riwayat ketuban pecah dini sebelumnya, hingga kebiasaan merokok atau kondisi leher rahim yang lemah.

Baca Juga: Mengenal Kontraksi Sebelum Melahirkan

Apa Gejala Ketuban Pecah Dini? 

Ketuban pecah dini bisa terjadi tiba-tiba atau perlahan dan penting bagi Anda untuk mengenali tanda-tandanya agar bisa segera mengambil langkah yang tepat. Berikut cara mengetahui ketuban pecah dini yang perlu Anda waspadai:

1. Tiba-tiba Merasa Basah di Area Vagina

Ciri-ciri ketuban rembes paling umum adalah keluarnya cairan dari vagina secara tiba-tiba. Cairan ini bisa keluar dalam jumlah besar seperti air tumpah (gush), atau bisa juga merembes sedikit demi sedikit (trickle).

Rasa air ketuban pecah dapat berbeda pada setiap ibu hamil; sebagian merasakan sensasi seperti ada yang “meledak” di dalam perut sebelum cairan keluar, sementara sebagian lainnya hanya merasakan basah secara tiba-tiba tanpa tanda khusus.

2. Cairan yang Keluar Tidak Bisa Dikendalikan

Salah satu perbedaan utama antara ketuban pecah dan buang air kecil adalah Anda tidak bisa menahan keluarnya cairan ini. Jika ini adalah urine, Anda masih bisa mengontrol atau menahannya.

Namun, bila yang keluar adalah air ketuban, cairannya akan tetap mengalir meskipun Anda mencoba menghentikannya.

3. Perasaan Basah yang Berulang atau Terus-Menerus

Tanda ketuban pecah dini selanjutnya adalah perasaan basah yang berulang. Ketuban yang pecah tidak selalu menyebabkan cairan keluar dalam jumlah besar sekaligus.

Ada kasus di mana ketuban hanya bocor sedikit demi sedikit sehingga terasa seperti keputihan atau keringat yang membuat celana dalam basah terus-menerus. Jika Anda merasa harus sering mengganti celana dalam karena basah tanpa sebab yang jelas, bisa jadi ini tanda ketuban merembes.

4. Warna dan Bau Cairan yang Keluar Bisa Menjadi Petunjuk

Cairan ketuban umumnya bening atau sedikit kekuningan dan tidak berbau menyengat. Jika cairan yang keluar berwarna kehijauan atau kecoklatan, ini bisa menjadi tanda adanya masalah, seperti infeksi atau stres pada bayi.

Bila Anda mencium bau yang tidak biasa atau melihat warna cairan yang tidak normal, segera periksakan diri ke dokter atau bidan.

5. Merasa Ada Tekanan di Perut atau Panggul

Beberapa ibu hamil juga merasakan tekanan yang lebih kuat di bagian bawah perut atau panggul setelah ketuban pecah. Hal ini karena kepala bayi mulai turun lebih rendah ke jalan lahir akibat berkurangnya cairan ketuban yang sebelumnya berfungsi sebagai bantalan dan kondisi tersebut termasuk salah satu ciri-ciri KPD (Ketuban Pecah Dini) yang perlu Anda waspadai.

Baca Juga: Perdarahan Post partum, Ketika Perdarahan Hebat Setelah Melahirkan

Apa yang Harus Dilakukan?

Ketuban pecah dini adalah kondisi ketika air ketuban keluar sebelum waktunya, baik sebelum persalinan dimulai maupun saat usia kehamilan masih terlalu muda. Ini bisa menjadi tanda bahwa persalinan akan segera terjadi, tetapi juga bisa berisiko bagi ibu dan bayi, terutama jika terjadi terlalu cepat. Karena itu, penting untuk segera ke rumah sakit agar dokter bisa melakukan pemeriksaan dan memberikan perawatan yang sesuai dengan usia kehamilan.

Setelah tiba di rumah sakit, dokter akan memastikan apakah ketuban benar-benar pecah dengan beberapa tes sederhana. Mereka juga akan memeriksa apakah leher rahim sudah mulai terbuka. Tindakan yang akan dokter lakukan tergantung pada usia kehamilan saat ketuban pecah.

Berikut ketuban pecah dini apa yang perlu dipersiapkan agar tetap aman:

1. Jika Ketuban Pecah Setelah 37 Minggu

Jika usia kehamilan sudah lebih dari 37 minggu, berarti bayi sudah cukup matang untuk lahir. Dalam kondisi ini, persalinan perlu segera mulai karena semakin lama menunggu, semakin besar risiko infeksi.

Ada dua pilihan:

  • Menunggu sebentar hingga kontraksi terjadi secara alami. Namun, jika dalam waktu tertentu tidak ada tanda-tanda persalinan, dokter mungkin akan menyarankan induksi.
  • Melakukan induksi dengan obat untuk merangsang kontraksi dan mempercepat persalinan. Ini sering kali untuk mengurangi risiko infeksi, karena semakin lama air ketuban pecah tanpa persalinan, semakin tinggi risiko bakteri masuk ke dalam rahim.

2. Jika Ketuban Pecah di Usia 34–37 Minggu

Pada usia kehamilan ini, bayi memang belum sepenuhnya matang, tetapi dalam banyak kasus sudah cukup kuat untuk lahir. Dokter biasanya akan merekomendasikan induksi untuk mempercepat persalinan karena menunggu terlalu lama bisa meningkatkan risiko infeksi yang lebih berbahaya daripada melahirkan lebih awal.

Meskipun bayi lahir prematur, dokter akan memastikan bayi mendapatkan perawatan terbaik setelah lahir, seperti pemantauan di ruang neonatal jika dibutuhkan.

3. Jika Ketuban Pecah Sebelum 34 Minggu

Ketuban pecah sebelum 34 minggu merupakan kondisi yang lebih serius karena organ bayi, terutama paru-paru, masih dalam tahap perkembangan. Jika tidak ada tanda-tanda infeksi, dokter mungkin akan mencoba menunda persalinan agar bayi bisa bertumbuh lebih lama di dalam rahim.

Beberapa tindakan yang bisa dokter lakukan adalah:

  • Istirahat total (bed rest) untuk mengurangi risiko kontraksi dan persalinan prematur.
  • Pemberian steroid untuk mempercepat perkembangan paru-paru bayi agar lebih siap untuk bernapas saat lahir.
  • Antibiotik untuk mencegah infeksi yang bisa membahayakan ibu dan bayi.
  • Pemantauan ketat di rumah sakit untuk memastikan kondisi ibu dan bayi tetap stabil.

Dokter juga akan melakukan tes untuk mengecek apakah paru-paru bayi sudah cukup matang. Jika paru-paru dokter anggap sudah siap, persalinan akan segera dilakukan dengan induksi atau operasi caesar, tergantung kondisi ibu dan bayi.

Baca Juga: 12 Tanda-Tanda Mau Melahirkan yang Perlu Ibu Hamil Ketahui

Jika memiliki pertanyaan lebih lanjut mengenai ketuban pecah dini atau ingin berkonsultasi seputar kehamilan maupun program hamil, Anda dapat mengunjungi Ciputra IVF. Dengan tim dokter spesialis yang berpengalaman dan fasilitas medis modern, Ciputra IVF siap membantu Anda mendapatkan perawatan terbaik untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi.

Telah direview oleh dr. Novitrian Eka Putra, SpOG, SubsFER, MH, DMAS, FIVF

Source:

Tim Konten Medis
Terakhir diperbarui pada 25 Februari, 2026
Dipublikasikan 25 Februari, 2026