PCOS setelah usia 35 tahun umumnya berkaitan dengan perubahan pola menstruasi, peningkatan risiko gangguan metabolik, serta tantangan kesuburan akibat penurunan kualitas sel telur seiring bertambahnya usia. Namun, banyak wanita dengan PCOS tetap memiliki peluang untuk hamil.
Banyak wanita baru mengetahui dirinya mengalami PCOS setelah menjalani pemeriksaan karena sulit hamil. Padahal, siklus menstruasi yang tidak teratur, sulit hamil, pertumbuhan rambut berlebih, jerawat yang menetap, hingga kenaikan berat badan atau kesulitan mempertahankan berat badan sehat dapat terjadi pada sebagian wanita dengan PCOS.
Dampak PCOS pada Kualitas Sel Telur
Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) adalah gangguan hormonal yang dialami sekitar 10% wanita usia reproduksi. Gangguan tersebut muncul dengan siklus menstruasi yang tidak teratur, kadar hormon androgen yang tinggi, serta adanya banyak kista kecil pada ovarium.
PCOS berisiko memengaruhi kualitas sel telur melalui beberapa mekanisme, yaitu:
- Gangguan pematangan folikel sehingga sel telur tidak berkembang secara optimal dan kemampuan untuk dibuahi menjadi berkurang.
- Resistensi insulin mengganggu keseimbangan hormon dan berdampak pada kualitas sel telur.
- Ketidakseimbangan hormon terutama peningkatan hormon LH dan androgen yang bisa mengganggu proses ovulasi serta menurunkan viabilitas sel telur.
- Anovulasi kronis yaitu kondisi ketika ovulasi jarang terjadi atau tidak terjadi sama sekali. Akibatnya, kesempatan memperoleh sel telur yang berkualitas selama program bayi tabung (IVF) menjadi lebih sedikit.
Meskipun PCOS umumnya tidak mengurangi jumlah sel telur, kualitas sel telur tetap menurun, terutama jika tidak tertangani dengan baik. Kondisi ini juga dapat meningkatkan risiko gangguan kehamilan sehingga perlu perencanaan dan penanganan kesuburan yang tepat.
Baca Juga: Efektivitas Suplemen Myo-Inositol untuk PCOS
Menderita PCOS Usia 35 Tahun Apakah Berpengaruh pada Kesuburan?
Pada wanita dengan PCOS, peluang kehamilan tidak hanya berpengaruh oleh gangguan ovulasi. Memasuki usia 35 tahun, penurunan kualitas sel telur akibat pertambahan usia juga mulai berperan terhadap kesuburan. Beberapa hal yang perlu Anda perhatikan antara lain:
- Kualitas sel telur menurun seiring bertambahnya usia: Wanita dengan PCOS sering memiliki jumlah folikel antral (AFC) dan kadar AMH yang lebih tinggi. Namun, banyaknya jumlah sel telur tidak mencegah penurunan kualitas sel telur yang terjadi secara alami akibat pertambahan usia.
- Gangguan metabolik dapat semakin memburuk: Resistensi insulin yang sering terjadi pada wanita dengan PCOS cenderung menjadi lebih nyata seiring bertambahnya usia. Jika tidak tertangani dengan baik, gangguan ini memengaruhi proses ovulasi maupun keberhasilan implantasi embrio.
- Waktu untuk merencanakan kehamilan menjadi lebih terbatas: Memasuki usia 35 tahun, dokter spesialis fertilitas umumnya menyarankan wanita dengan PCOS untuk mulai merencanakan kehamilan lebih awal dan tidak menunda pemeriksaan maupun penanganan kesuburan.
PCOS tidak berarti cadangan sel telur telah habis. Banyak wanita dengan PCOS justru merespons terapi kesuburan dengan baik. Namun, pada sebagian kasus, respons terhadap pengobatan bisa sangat tinggi sehingga dokter perlu memilih terapi yang sesuai dan melakukan pemantauan secara berkala.
Apakah Masih Bisa Hamil Jika PCOS pada Usia 35 Tahun?
Hingga saat ini belum ada angka pasti mengenai peluang kehamilan pada wanita dengan PCOS karena kondisi setiap pasien berbeda. Meskipun demikian, banyak wanita dengan PCOS tetap bisa hamil secara alami.
Pada wanita berusia di bawah 35 tahun, perubahan gaya hidup membantu meningkatkan peluang kehamilan. Peluang tersebut umumnya menjadi lebih baik jika melakukan penanganan atau terapi kesuburan.
Wanita dengan PCOS yang berusia di atas 35 tahun juga masih memiliki peluang untuk hamil, terutama jika mendapatkan penanganan kesuburan yang sesuai.
Perawatan Penderita PCOS di Usia 35 Tahun untuk Hamil
Penanganan PCOS setelah usia 35 tahun tidak sama pada setiap wanita. Dokter akan menyesuaikan terapi berdasarkan usia, kondisi hormonal, lama menjalani program hamil, serta penyebab gangguan kesuburan yang terjadi. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan:
1. Perbaikan Gaya Hidup, Tetapi Jangan Menunda Pengobatan
Perubahan pola makan dan aktivitas fisik secara teratur membantu meningkatkan sensitivitas insulin sehingga ovulasi pada sebagian wanita dengan PCOS dapat kembali terjadi. Pada beberapa kasus, dokter juga memberikan metformin untuk mendukung pengobatan.
Namun, apabila Anda berusia di atas 35 tahun dan telah mencoba hamil selama 6 bulan atau lebih tanpa hasil, jangan hanya mengandalkan perubahan gaya hidup. Pada usia ini, waktu menjadi faktor penting sehingga perubahan gaya hidup sebaiknya dilakukan bersamaan dengan penanganan medis.
2. Induksi Ovulasi
Pada wanita yang mengalami ovulasi tidak teratur, dokter akan memberikan obat, seperti letrozole untuk merangsang ovulasi. Pengobatan ini umumnya disertai pemantauan melalui USG serta penentuan waktu hubungan intim atau inseminasi intrauterin (IUI) agar peluang kehamilan lebih optimal.
Pada wanita berusia di atas 35 tahun dengan PCOS, dokter umumnya tidak akan mengulang pengobatan yang belum berhasil. Jika perlu, dokter akan segera mempertimbangkan penanganan lain yang lebih sesuai.
Baca Juga: Mengenal Lebih Jauh PCOS pada Remaja
3. Program Bayi Tabung (IVF)
Program bayi tabung (IVF) umumnya dokter sarankan jika terapi belum berhasil, terdapat penyebab infertilitas lain, atau usia sehingga membuat dokter perlu segera memilih penanganan yang lebih efektif. Pada wanita dengan PCOS, jumlah folikel antral yang umumnya lebih banyak memungkinkan dokter memperoleh lebih banyak sel telur selama proses pengambilan. Kondisi ini memberikan lebih banyak pilihan embrio untuk dipertimbangkan sebelum proses transfer.
4. Waspadai Risiko Sindrom Hiperstimulasi Ovarium (OHSS)
Wanita dengan PCOS memiliki risiko lebih tinggi mengalami ovarian hyperstimulation syndrome (OHSS) selama proses stimulasi ovarium pada program IVF. Untuk mengurangi risiko tersebut, dokter akan menyesuaikan protokol pengobatan, misalnya dengan menggunakan protokol antagonis, pemberian trigger shot yang sesuai, serta strategi freeze-all, yaitu membekukan seluruh embrio terlebih dahulu sebelum dipindahkan pada siklus berikutnya setelah kondisi tubuh pulih.
5. Pemeriksaan Genetik Embrio Setelah Usia 36 Tahun
Pada wanita berusia 37 tahun atau lebih, sebagian dokter spesialis fertilitas menyarankan Preimplantation Genetic Testing (PGT-A) untuk mendeteksi kelainan kromosom pada embrio sebelum proses transfer. Pemeriksaan ini membantu memilih embrio yang memiliki peluang berkembang lebih baik sehingga berpotensi mengurangi risiko kegagalan transfer maupun keguguran.
Baca Juga: AMH Tinggi pada PCOS: Apa Artinya untuk Kesuburan?
6. Menjaga Kesehatan Emosional
Program hamil pada wanita berusia di atas 35 tahun dengan PCOS tidak hanya memberikan tantangan secara fisik, tetapi juga emosional. Gangguan hormonal dan bertambahnya usia sering kali menimbulkan tekanan selama menjalani proses memperoleh kehamilan.
Menjalani program hamil sering kali terasa lebih ringan ketika Anda memiliki rencana penanganan yang jelas dan didampingi oleh tim medis yang memahami kondisi Anda.
FAQ
Apakah lebih sulit hamil pada usia 35 tahun jika mengalami PCOS?
Ya, wanita dengan PCOS berusia 35 tahun menghadapi dua tantangan, yaitu gangguan ovulasi akibat PCOS dan penurunan kualitas sel telur karena bertambahnya usia. Meski demikian, wanita dengan PCOS umumnya masih memiliki cadangan sel telur yang lebih baik dibandingkan wanita seusianya tanpa PCOS.
Apakah kadar AMH yang tinggi berarti masih memiliki waktu lebih lama untuk hamil?
Tidak. Kadar AMH memberikan gambaran mengenai jumlah folikel atau cadangan sel telur dan dapat membantu memperkirakan respons ovarium terhadap stimulasi. Namun, kadar AMH tidak menunjukkan kualitas sel telur. Seiring bertambahnya usia, kualitas sel telur tetap dapat menurun meskipun jumlah folikel masih tersedia.
Berapa lama wanita dengan PCOS usia 36 tahun sebaiknya mencoba hamil secara alami sebelum berkonsultasi ke dokter?
Pada usia 35 tahun ke atas, evaluasi kesuburan umumnya disarankan setelah 6 bulan mencoba hamil secara alami. Namun, wanita dengan PCOS yang mengalami siklus menstruasi sangat tidak teratur atau terdapat dugaan gangguan ovulasi, pemeriksaan dapat dilakukan lebih awal karena kondisi tersebut memengaruhi peluang terjadinya kehamilan.
Apakah PCOS akan semakin parah setelah usia 35 tahun?
Tidak selalu. Setelah usia 35 tahun, sebagian wanita justru mengalami berkurangnya gejala PCOS, seperti jerawat atau pertumbuhan rambut berlebih, karena kadar hormon androgen mulai menurun. Perubahan yang lebih berpengaruh adalah penurunan kualitas sel telur akibat pertambahan usia, sedangkan PCOS umumnya tidak memburuk secara drastis.
Sebaiknya menjalani persiapan selama 90 hari atau langsung ke klinik fertilitas?
Tidak perlu menunggu 90 hari untuk memeriksakan kesuburan. Evaluasi fertilitas dan perbaikan gaya hidup dapat dilakukan secara bersamaan agar persiapan kehamilan bisa berjalan lebih optimal.
Apakah letrozole termasuk program bayi tabung (IVF)?
Tidak. Letrozole adalah obat minum yang digunakan untuk merangsang ovulasi pada wanita dengan PCOS dan bukan bagian dari prosedur IVF. Obat ini biasanya dikonsumsi selama 5 hari pada awal siklus menstruasi. Setelah ovulasi terjadi, kehamilan masih dapat berlangsung secara alami atau melalui inseminasi intrauterin (IUI) jika diperlukan.
Apakah wanita berusia 39 tahun dengan PCOS harus langsung menjalani IVF?
Tidak selalu. Pilihan antara induksi ovulasi, IUI, atau IVF ditentukan secara individual berdasarkan beberapa faktor, seperti usia, cadangan ovarium (ovarian reserve), kondisi ovulasi, kondisi tuba falopi, hasil analisis sperma pasangan, serta riwayat terapi yang sudah dijalani.








