Diet anti inflamasi untuk endometriosis adalah pola makan yang menganjurkan konsumsi makanan utuh, seperti ikan yang kaya omega 3, sayuran hijau, dan membatasi makanan yang dapat memicu peradangan, misalnya daging merah, makanan yang digoreng, dan makanan olahan. Selain itu, pola makan ini bertujuan membantu mengurangi peradangan, menjaga keseimbangan hormon, serta menekan produksi prostaglandin penyebab nyeri haid.
Pola makan menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kesehatan tubuh, termasuk pada wanita endometriosis. Memilih makanan yang tepat dapat membantu mendukung pengelolaan gejala sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi harian. Namun, pola makan sehat tetap perlu disertai dengan pengobatan dan penanganan yang sesuai dari dokter.
Apa Itu Diet Endometriosis?
Diet untuk endometriosis adalah pola makan yang bertujuan membantu meredakan gejala dengan mengurangi peradangan akibat endometriosis. Pada dasarnya, endometriosis merupakan kondisi yang berkaitan dengan peradangan.
Oleh karena itu, mengurangi peradangan menjadi salah satu hal yang dapat membantu meredakan gejala. Penderita endometriosis sering kali mendapat anggapan bahwa mereka dapat mengendalikan kondisinya hanya mengubah lifestyle dengan pola makan yang lebih sehat.
Padahal, meskipun diet dapat membantu mengurangi gejala, endometriosis tetap memerlukan pengobatan dan penanganan yang sesuai. Selain memengaruhi sistem reproduksi, endometriosis juga dapat memengaruhi berbagai kebutuhan tubuh, mulai dari keseimbangan hormon, kesehatan kulit, tingkat energi, kesehatan mental, pola makan, hingga kemampuan tubuh dalam mencerna, menyerap, dan memanfaatkan zat gizi.
Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa pola makan sehari-hari dapat memenuhi kebutuhan nutrisi, termasuk energi, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Meskipun banyak informasi mengenai diet endometriosis beredar di internet, hingga saat ini belum ada pola makan atau jenis makanan tertentu yang secara konsisten terbukti dapat mengobati maupun mengendalikan endometriosis.
Informasi yang keliru mengenai diet endometriosis juga dapat menimbulkan sejumlah dampak negatif. Misalnya, membatasi kelompok makanan tertentu, seperti biji-bijian, susu, atau daging, belum terbukti memberikan manfaat bagi endometriosis dan justru dapat meningkatkan risiko kekurangan nutrisi.
Pola makan yang terlalu membatasi juga umumnya sulit dipertahankan dalam jangka panjang sehingga dapat memunculkan rasa bersalah ketika seseorang tidak berhasil menjalaninya.
Baca Juga: Endometriosis dan Risiko Keguguran
Makanan yang Membantu Diet Endometriosis
Bila berencana melakukan diet anti inflamasi untuk endometriosis, berikut beberapa jenis makanan yang bisa Anda konsumsi:
1. Sayuran
Usahakan mengonsumsi minimal 4-5 porsi sayuran setiap hari (Satu porsi setara dengan sekitar 2 cangkir sayuran hijau untuk salad atau ½ cangkir sayuran yang telah matang). Hal ini karena sayuran kaya akan flavonoid dan karotenoid yang memiliki sifat antioksidan serta antiperadangan.
Selain itu, sayuran juga mengandung berbagai vitamin, seperti vitamin A, C, dan E yang diketahui cenderung lebih rendah pada penderita endometriosis.
Sumber:
- Sayuran hijau berdaun gelap (bayam, sawi, kale, dan Swiss chard)
- Sayuran silangan (brokoli, kubis, kubis Brussel, bok choy, dan kembang kol)
- Wortel
- Bit
- Bawang bombai
- Kacang polong
- Labu
- Sayuran hijau mentah untuk salad yang bersih
2. Buah
Anda dapat mengonsumsi 1-2 porsi buah setiap hari (Satu porsi setara dengan 1 buah berukuran sedang, ½ cangkir buah potong, atau ¼ cangkir buah kering). Selain sayuran, buah mengandung flavonoid dan karotenoid yang berperan sebagai antioksidan dan membantu mengurangi peradangan.
Pilihlah buah dengan warna yang beragam untuk memperoleh berbagai nutrisi, termasuk vitamin A, C, dan E. Selain itu, pilih buah organik untuk membantu mengurangi paparan residu pestisida yang berkaitan dengan gangguan keseimbangan hormon.
Sumber:
- Raspberry
- Blueberry
- Stroberi
- Persik
- Nektarin
- Jeruk
- Grapefruit merah muda
- Anggur merah
- Plum
- Delima
- Blackberry
- Ceri
- Apel
- Pir
3. Ikan dan Makanan Laut
Sebaiknya konsumsi ikan dan makanan laut sebanyak 3-5 porsi per minggu. Satu porsi setara dengan sekitar 113 gram (4 ons) ikan atau makanan laut.
Ikan merupakan sumber asam lemak omega-3 yang memiliki sifat anti peradangan. Oleh karena itu, pilihlah ikan laut dalam yang memiliki kadar lemak lebih tinggi.
Sumber:
- Salmon liar Alaska (wild Alaskan salmon)
- Herring
- Sarden
- Black cod
4. Daging Rendah Lemak, Unggas, dan Telur
Jenis makanan ini dapat Anda konsumsi sebanyak 3-5 porsi per minggu. Satu porsi setara dengan sekitar 85 gram (3 ons) daging tanpa kulit atau daging unggas. Di samping itu, daging rendah lemak mengandung lebih sedikit lemak jenuh sehingga dapat membantu menjaga kadar kolesterol.
Sumber:
- Daging unggas tanpa kulit berkualitas baik
- Daging kalkun
- Daging tanpa lemak dari ternak yang diberi pakan rumput (grass-fed lean meat)
- Telur ayam kampung
5. Kacang-Kacangan dan Legum
Kacang-kacangan dan legum bisa Anda konsumsi sebanyak 2-4 porsi per minggu. Satu porsi setara dengan ½ cangkir kacang atau legum yang matang.
Kacang-kacangan kaya akan asam folat, magnesium, kalium, serta serat larut. Selain itu, kacang-kacangan juga termasuk makanan dengan beban glikemik rendah (low glycemic load) sehingga dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil.
Sumber:
- Kacang hitam
- Kacang arab (chickpeas)
- Kacang tunggak (black-eyed peas)
- Lentil
6. Daging Merah
Batasi konsumsi daging merah hingga 1-2 porsi per minggu. Satu porsi setara dengan sekitar 85 gram (3 ons) daging yang telah matang.
Konsumsi daging merah jangan berlebihan karena dapat meningkatkan peradangan dan berpotensi memengaruhi keseimbangan hormon. Di samping itu, pilihlah daging yang diberi pakan rumput (grass-fed) atau daging organik.
Sumber:
- Daging sapi
- Steak
- Daging babi
- Daging sapi muda (veal)
Baca Juga: Gejala Endometriosis yang Perlu Diwaspadai
7. Minyak Nabati Hasil Cold-Pressed
Konsumsi 2-4 porsi minyak nabati setiap hari (Satu porsi setara 1 sendok teh minyak). Minyak ini mengandung asam lemak omega-3 dan antioksidan yang memiliki sifat antiperadangan.
Selain itu, minyak nabati juga kaya akan lemak tak jenuh tunggal yang dapat membantu meningkatkan kadar kolesterol baik (HDL) sekaligus menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL). Pilihlah minyak yang terproses dengan metode cold-pressed karena tidak diolah secara kimia dan diekstraksi pada suhu yang lebih rendah. Saat memasak, gunakan suhu yang lebih rendah karena terlalu tinggi dapat meningkatkan produksi lemak trans.
Sumber:
- Minyak zaitun extra virgin
- Minyak nabati
- Minyak kanola
- Minyak biji rami (flaxseed oil)
- Minyak berbahan dasar kacang-kacangan
8. Kacang-Kacangan dan Biji-Bijian
Kacang-kacangan dan biji-bijian dapat dikonsumsi sebanyak 1-2 porsi per hari (Satu porsi setara 2 kenari, 1 sendok makan biji rami, 1 ons alpukat, 1 sendok makan selai kacang). Makanan ini kaya akan asam lemak omega-3 yang memiliki sifat antiperadangan. Kacang-kacangan dan biji-bijian juga merupakan sumber vitamin B serta fosfor yang bermanfaat bagi tubuh.
Sumber:
- Almond
- Kenari
- Biji rami giling
- Kacang pecan
- Biji rami
- Alpukat
- Selai kacang alami
- Biji chia
9. Biji-Bijian Utuh
Konsumsi biji-bijian utuh sebanyak 3-5 porsi per hari (Satu porsi setara dengan ½ cangkir biji-bijian yang telah matang). Biji-bijian utuh mengandung vitamin B dan serat yang dapat meningkatkan saluran pencernaan serta mengurangi lonjakan kadar gula darah yang dapat memicu peradangan.
Sumber:
- Beras merah
- Beras basmati
- Wild rice
- Gandum hitam,
- Quinoa
- Oat
- Mie atau pasta bebas gluten
10. Susu Rendah Lemak atau Alternatif Susu
Kebutuhan produk olahan susu rendah lemak atau alternatif susu dapat dipenuhi sebanyak 3 porsi per hari (Satu porsi setara dengan 1 ons keju, 8 ons susu atau susu bebas susu, 1 cangkir yogurt). Kandungan vitamin D dalam makanan ini terbukti dapat membantu menurunkan kadar sitokin proinflamasi yang diduga berperan dalam proses peradangan pada endometriosis. Karena itu, pilih produk susu organik untuk mengurangi paparan hormon tambahan pada makanan.
Sumber:
- Keju rendah lemak (Swiss, mozzarella, parmesan)
- Yogurt tanpa lemak
- Cottage cheese
- Susu skim atau susu rendah lemak 1%
- Alternatif susu bebas produk susu (dairy-free)
11. Hindari Konsumsi Alkohol, Kafein, Makanan Olahan, dan Makanan Manis
Konsumsi alkohol, kafein, makanan olahan, dan makanan manis sebaiknya dibatasi hingga 1-2 porsi per minggu. Jenis makanan dan minuman ini tidak memiliki nilai gizi dan mengandung tambahan gula yang dapat menghambat penyerapan berbagai nutrisi penting.
Selain itu, kafein dan alkohol dapat mengganggu fungsi ovarium, memperburuk gejala sindrom pramenstruasi (PMS), serta berdampak negatif terhadap kesuburan. Makanan manis juga memiliki sifat proinflamasi sehingga sebaiknya dibatasi.
Sumber:
- Makanan olahan
- Makanan yang digoreng
- Makanan cepat saji
- Minuman berkafein, seperti soda atau minuman manis
- Minuman beralkohol
Sementara itu, alternatif yang lebih sehat:
- Dark chocolate dalam porsi kecil
- Buah kering
- Frozen yogurt
- Sorbet buah
12. Air Putih
Kebutuhan cairan sebaiknya dipenuhi dengan minum sekitar 8 gelas air putih per hari atau sekitar 1,9 liter. Di samping itu, air putih sangat penting untuk kesehatan tubuh secara keselutuhan dan membuang sisa-sisa hasil metabolisme.
Sumber:
- Air putih
- Teh
- Air dengan lemon
Makanan yang Sebaiknya Dibatasi
Adapun beberapa makanan yang sebaiknya Anda batasi, seperti:
1. Makanan Olahan Tinggi
Makanan olahan dan makanan kemasan bukanlah pilihan yang baik untuk kesehatan. Pada penderita endometriosis, mengurangi konsumsi makanan tersebut dapat membantu meredakan gejala.
Di sisi lain, makanan olahan merupakan produk kemasan dengan berbagai bahan tambahan dan daftar komposisi yang cukup panjang. Selain itu, jenis makanan ini umumnya memiliki kandungan vitamin serta mineral yang lebih rendah dibandingkan makanan segar.
Di samping itu, makanan olahan dapat memperburuk peradangan sehingga gejala endometriosis berpotensi menjadi lebih berat. Beberapa kandungan yang sering ditemui dalam makanan olahan, seperti:
- Karbohidrat sederhana
- Gula
- Garam
- Lemak jenuh
- Pengawet
- Pewarna makanan
- Sering mengonsumsi makanan seperti keripik, biskuit, atau makanan siap saji dapat meningkatkan asupan bahan-bahan yang memicu peradangan.
2. Kurangi Makanan yang Dapat Memicu Gejala
Beberapa penderita endometriosis melaporkan bahwa makanan atau minuman tertentu dapat memperburuk gejala. Sebaiknya, buat jurnal makanan agar dokter dapat mengetahui makanan pemicu tersebut.
Catat apa yang Anda makan dan gejala apa yang dialami. Cara ini bisa Anda diskusikan saat kontrol sehingga Anda dapat menemukan pola serta mempertimbangkan sebagai rencana perawatan.
Berikut beberapa jenis makanan yang biasanya dapat memicu gejala endometriosis antara lain:
- Alkohol
- Kafein
- Gluten
- Produk susu
- Makanan tinggi gula
Baca Juga: Nyeri Haid Karena Endometriosis vs Kram Menstruasi Biasa
Pengobatan Endometriosis di Ciputra IVF
Selain mengatur pola makan, bagi Anda yang mengalami endometriosis dan sedang merencanakan kehamilan, pemeriksaan kesuburan juga menjadi bagian penting dalam menentukan penanganan yang tepat. Melalui tes kesuburan, dokter dapat menilai kondisi sistem reproduksi sekaligus menentukan langkah penanganan yang sesuai dengan kebutuhan Anda.
Di Ciputra IVF, pasien akan menjalani konsultasi untuk menentukan pilihan terapi yang paling sesuai, baik untuk mengatasi gejala endometriosis maupun membantu meningkatkan peluang kehamilan sesuai kondisi masing-masing.









