Hirsutisme adalah pertumbuhan rambut berlebih pada wanita yang disebabkan oleh kelebihan kadar hormon androgen pada tubuh. Hirsutisme berkaitan dengan PCOS atau (Polycystic Ovary Syndrome) karena ketidakseimbangan hormon pada penderita PCOS membuat ovarium memproduksi androgen secara berlebih. Pengobatan PCOS untuk mengatasi hirsutisme umumnya bisa berlangsung kira-kira selama 6 bulan hingga terlihat hasilnya. Pengobatan ini termasuk terapi hormonal, obat anti-androgen, hingga melakukan perawatan tubuh mandiri seperti waxing sampai terapi laser.
Apa Itu Hirsutisme dan Skor Ferriman–Gallwey?
Hirsutisme adalah kondisi ketika wanita mengalami pertumbuhan rambut yang berlebihan, tebal, kasar, dan berwarna gelap di area tubuh yang umumnya ditumbuhi rambut pada pria. Hirsutisme terbagi menjadi dua jenis, yaitu yang disebabkan oleh androgen dan yang tidak disebabkan oleh androgen.
PCOS merupakan penyebab umum hirsutisme akibat androgen, sedangkan hirsutisme idiopatik merupakan penyebab hirsutisme yang tidak berkaitan dengan androgen. Kedua kondisi tersebut mencakup sekitar 95% kasus hirsutisme.
Peningkatan kadar androgen juga dapat menyebabkan keluhan lain pada kulit dan rambut, seperti jerawat, produksi minyak berlebih, serta kerontokan rambut yang menyeluruh maupun hanya pada area tertentu. Oleh karena itu, pemeriksaan kondisi kulit perlu Anda lakukan
Hirsutisme juga dapat menimbulkan dampak psikologis pada wanita yang mengalaminya karena berisiko mengalami kecemasan dan depresi. Pada wanita dengan PCOS, hirsutisme juga menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap penurunan kualitas hidup serta menjadi perhatian dalam menjaga kesehatan wanita.
Sayangnya, masih banyak wanita maupun sebagian tenaga kesehatan yang menganggap hirsutisme hanya sebagai masalah penampilan. Akibatnya, banyak wanita yang lebih memilih konsultasi ke salon kecantikan atau ahli kosmetik daripada ke dokter.
Tingkat keparahan hirsutisme dapat berbeda-beda, mulai dari ringan hingga berat. Untuk menilainya, Ferriman dan Gallwey memperkenalkan sistem penilaian pada tahun 1961 yang menggunakan 11 area tubuh yang dipengaruhi hormon androgen, yaitu bibir, dagu, dada, perut bagian atas, perut bagian bawah, lengan atas, lengan bawah, paha, tungkai bawah, punggung bagian atas, dan punggung bagian bawah.
Pada sistem ini, setiap area tubuh diberi skor 0 (tidak tampak pertumbuhan rambut terminal yang berlebihan) hingga 4 (pertumbuhan rambut yang sangat banyak). Total skor maksimal adalah 36, sedangkan skor ≥ 8 umumnya menunjukkan hirsutisme. Namun, sistem penilaian ini memiliki keterbatasan karena penilaiannya bersifat subjektif dan sulit diterapkan pada wanita yang telah menghilangkan rambutnya melalui perawatan kosmetik.
Baca Juga: Efektivitas Suplemen Myo-Inositol untuk PCOS
Cara Mendiagnosis Hiperandrogenisme
Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk melihat tanda-tanda hiperandrogenisme, seperti pertumbuhan rambut berlebih. Selain itu, dokter juga akan menanyakan beberapa hal terkait riwayat kesehatan, antara lain:
- Usia saat payudara mulai berkembang
- Usia saat rambut kemaluan mulai tumbuh
- Usia saat pertama kali mengalami menstruasi
- Frekuensi, durasi, dan banyaknya perdarahan saat menstruasi
- Apakah pernah menggunakan steroid anabolik atau testosteron
Jika dokter mencurigai adanya hiperandrogenisme, pemeriksaan darah akan dilakukan untuk mengukur kadar hormon berikut:
- Testosteron total: Jumlah seluruh hormon testosteron dalam aliran darah. Kadar testosteron total biasanya sedikit meningkat pada penderita PCOS, sedangkan kadar yang sangat tinggi dapat mengarah pada tumor ovarium atau tumor testis.
- Testosteron bebas: Testosteron yang tidak terikat pada protein dan hanya merupakan sebagian kecil dari total testosteron. Kadarnya dapat meningkat pada penderita PCOS.
- Androstenedion: Hormon steroid yang bekerja menyerupai hormon androgen di dalam tubuh. Kadar yang meningkat dapat mengindikasikan PCOS.
- Dehydroepiandrosterone sulfate (DHEAS): Kadar DHEAS yang sedikit meningkat sering terjadi pada penderita PCOS, sedangkan kadar yang sangat tinggi dapat mengindikasikan tumor adrenal.
- 17 hidroksiprogesteron: Tes ini untuk menyaring kemungkinan hiperplasia adrenal kongenital non-klasik.
Dokter juga dapat melakukan pemeriksaan darah tambahan untuk mencari kemungkinan penyebab lain dari gejala yang Anda alami. Dokter dapat menyarankan pemeriksaan pencitraan, seperti:
- USG panggul untuk melihat adanya kista atau tumor ovarium
- CT scan atau MRI untuk melihat adanya tumor pada kelenjar adrenal
Cara Mengatasi Hirsutisme
Pengobatan hirsutisme tergantung gejala dan kondisi pasien. Berikut beberapa pengobatan yang umum dokter lakukan:
1. Pil KB (Kontrasepsi Oral)
Pil KB merupakan obat yang paling sering orang gunakan untuk mengatasi hirsutisme. Obat ini bekerja dengan menurunkan kadar androgen, mengatur siklus menstruasi, dan mencegah kehamilan.
Efek samping yang dapat terjadi meliputi nyeri atau pembengkakan pada payudara, sakit kepala, mudah marah atau perubahan suasana hati, mual, serta perdarahan di luar jadwal menstruasi.
2. Obat Penurun Androgen
Obat-obatan seperti spironolakton (Aldactone®), finasteride (Proscar®), dan flutamide (Eulexin®) dapat membantu mengatasi hirsutisme ringan dengan menurunkan jumlah androgen yang terproduksi tubuh. Efek samping dari obat-obatan ini meliputi kulit kering, mulas, perdarahan di luar jadwal menstruasi, pusing, mudah lelah, dan kerusakan hati.
3. Obat Steroid Dosis Rendah
Jika hirsutisme karena adanya kelenjar adrenal yang terlalu aktif, dokter dapat meresepkan obat steroid dosis rendah. Kelenjar adrenal adalah kelenjar kecil yang terletak di atas masing-masing ginjal dan menghasilkan hormon seks , termasuk adrenalin serta kortisol.
Obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti peningkatan nafsu makan, kenaikan berat badan, perubahan suasana hati, dan penglihatan kabur.
Baca Juga: Resistensi Insulin dan PCOS: Hubungan dan Cara Mengatasinya
4. Obat Penurun Kadar Insulin
Obat-obatan seperti metformin (Glucophage®) dan golongan thiazolidinedione, misalnya pioglitazone (Actos®) dapat menurunkan kadar insulin dan androgen dalam darah. Penggunaan obat ini masih menjadi perdebatan dan tidak dianjurkan sebagai pilihan pengobatan pertama karena memiliki efek samping.
Efek sampingnya, seperti reaksi alergi, gangguan pernapasan, detak jantung lambat atau tidak teratur, darah dalam urine, serta tanda dan gejala gula darah rendah (hipoglikemia).
5. Agonis Gonadotropin-Releasing Hormone (GnRH)
Obat golongan agonis GnRH bekerja dengan mengurangi produksi androgen di ovarium. Terapi ini dokter berikan melalui suntikan, biayanya relatif mahal, dan manfaatnya tidak lebih baik dibandingkan pil KB. Efek samping obat ini, yaitu sensasi panas, kenaikan berat badan, retensi cairan, dan penurunan gairah seksual (hipogonadisme).
6. Krim Kulit Eflornithine
Krim eflornithine (Vaniqa®) adalah obat yang dioleskan pada area yang mengalami pertumbuhan rambut berlebih. Cara ini tidak menghilangkan rambut, tetapi membantu memperlambat pertumbuhannya.
Hasil penggunaan biasanya mulai terlihat setelah 6-8 minggu. Jika penggunaan krim Anda hentikan, rambut akan kembali tumbuh dengan kecepatan seperti sebelum menggunakan krim.
Efek samping yang bisa terjadi meliputi reaksi alergi, benjolan pada folikel rambut, perubahan warna kulit menjadi merah, ungu, atau cokelat, serta rasa perih atau terbakar.
7. Elektrolisis
Elektrolisis menggunakan jarum kecil dan aliran listrik ringan untuk menghancurkan akar rambut satu per satu. Setiap folikel rambut harus tertangani satu per satu sehingga metode ini kurang praktis digunakan pada area tubuh yang luas.
Efek sampingnya jarang terjadi, tetapi dapat berupa perubahan warna kulit ringan (merah, ungu, atau cokelat), bintik-bintik gelap sementara, serta sensasi kesemutan ringan.
8. Penghilang Bulu dengan Laser
Metode ini menggunakan panas dari sinar laser untuk menghancurkan sel yang mengandung banyak pigmen (warna). Rambut yang berwarna gelap memiliki lebih banyak pigmen sehingga menyerap panas lebih banyak. Panas tersebut kemudian diteruskan ke folikel rambut sehingga folikel rusak dan rambut tidak dapat tumbuh kembali.
Efek samping dari prosedur ini antara lain lepuh, luka bakar, bekas luka, kulit menjadi lebih gelap (hiperpigmentasi), atau kulit menjadi lebih terang (hipopigmentasi).
9. Mencukur
Mencukur merupakan cara menghilangkan rambut yang paling umum. Metode ini sederhana dan aman, tetapi perlu Anda lakukan secara rutin agar tidak muncul bulu pendek setelah dicukur. Efek samping mencukur dapat berupa luka dan rambut yang tumbuh ke dalam kulit.
Baca Juga: Adakah Hubungan PCOS dan Berat Badan?
10. Pemutihan (Bleaching)
Bleaching untuk mencerahkan warna rambut yang tidak Anda inginkan. Namun, beberapa produk bleaching dapat menyebabkan iritasi kulit jika Anda biarkan terlalu lama di kulit.
11. Waxing dan Mencabut Rambut dengan Pinset
Waxing atau mencabut rambut dengan pinset dapat menghilangkan rambut hingga ke akarnya, tetapi dapat menimbulkan rasa nyeri. Beberapa efek samping yang mungkin muncul antara lain iritasi kulit dan rambut yang tumbuh ke dalam kulit.
FAQ
Apakah Hirsutisme Bisa Hilang?
Hirsutisme bisa dikurangi atau dihilangkan dengan pengobatan sesuai penyebabnya. Penanganan dapat berupa terapi hormonal, obat anti androgen, atau perawatan untuk menghilangkan rambut berlebih.
PCOS Adalah Gangguan Akibat Kelebihan Hormon Apa?
PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) terjadi akibat kelebihan hormon androgen. Peningkatan kadar androgen dapat menyebabkan berbagai gejala, seperti pertumbuhan rambut berlebih (hirsutisme), jerawat, dan gangguan siklus menstruasi.
Apakah Menderita Hirsutisme Berarti Saya Mengidap PCOS?
Belum tentu. Meskipun PCOS merupakan penyebab tersering hirsutisme akibat kelebihan androgen, hirsutisme juga dapat disebabkan oleh kondisi lain, seperti hirsutisme idiopatik, gangguan pada kelenjar adrenal atau penyebab lainnya.








