Apa Itu Kista Dermoid dan Dampaknya pada Kesuburan

kista dermoid adalah

Kista dermoid ovarium merupakan salah satu jenis kista ovarium yang cukup sering ditemukan pada Wanita. Meskipun umumnya bersifat jinak, kista ini tetap perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan komplikasi jika ukurannya semakin besar.

Apa Itu Kista Dermoid?

Kista dermoid ovarium adalah kantong berisi cairan yang di dalamnya mengandung jaringan seperti rambut, kulit, gigi, atau bagian tubuh lainnya. Berbeda dengan sebagian besar kista ovarium yang terbentuk akibat perubahan selama siklus menstruasi, kista dermoid tidak berkaitan dengan siklus haid.

Tumor jinak ini terbentuk ketika jaringan tubuh yang telah berkembang sempurna tumbuh atau berkumpul di lokasi yang tidak semestinya, seperti di dalam ovarium. Meski bersifat jinak, ukurannya yang semakin besar dapat menyebabkan berbagai komplikasi.

Kista dermoid ovarium juga dikenal dengan istilah mature cystic teratoma. Siapa pun yang memiliki ovarium dapat mengalami jenis tumor ini.

Pertumbuhan tersebut kemungkinan sudah ada sejak lahir, tetapi sering kali baru pasien ketahui saat menjalani pemeriksaan pencitraan, seperti USG saat hamil. Jenis ini termasuk tumor sel germinal ovarium jinak.

Sekitar sepertiga dari seluruh tumor ovarium jinak yang didiagnosis pada ibu hamil adalah kista dermoid ovarium. Pada sekitar 10-15% kasus, pertumbuhan ini dapat muncul pada kedua ovarium sekaligus.

Baca Juga: Kenali Penyakit Kista dan Pengobatannya

Penyebab Kista Dermoid

Kista dermoid ovarium sebenarnya sudah mulai terbentuk sejak seseorang masih berada dalam kandungan. Pada kondisi ini, sebagian sel yang seharusnya berkembang menjadi kulit, rambut, sistem saraf, atau jaringan tubuh lainnya justru tumbuh di dalam ovarium sehingga membentuk penyakit ini.

Sampai saat ini, para ilmuwan belum dapat memastikan penyebab pertumbuhan sel tersebut terjadi. Seiring waktu, sel-sel tersebut berkembang menjadi jaringan yang sudah matang, seperti kulit, rambut, gigi, saraf, bahkan dapat ditemukan jaringan yang menyerupai jaringan otak.

Kumpulan jaringan inilah yang kemudian membentuk benjolan jinak di dalam ovarium. Di dalam kista juga dapat terbentuk jaringan kelenjar keringat.

Kelenjar ini menghasilkan sebum, yaitu minyak alami yang menyebabkan penyakit ini semakin bertumbuh. Penumpukan sebum dapat membuat ukuran bertambah secara perlahan. Umumnya, kista dermoid tumbuh perlahan dan lebih sering mengalami pertumbuhan selama masa reproduksi wanita.

Gejala Kista Dermoid

Sebagian besar kista dermoid ovarium tidak menimbulkan gejala, kecuali terjadi komplikasi. Namun, gejala yang paling umum terjadi adalah nyeri perut bagian bawah.

Seiring bertambah besarnya ukuran tumor jinak ini, penderita juga dapat merasakan perut membesar muncul gejala saluran kemih maupun saluran pencernaan. Jika sudah berukuran besar, gejala yang dapat muncul meliputi:

  • Nyeri perut hebat
  • Perdarahan vagina yang tidak normal
  • Penurunan berat badan tanpa penyebab yang jelas
  • Kista yang tumbuh di ovarium juga dapat menyebabkan gejala berikut:
  • Rasa tertekan pada perut
  • Perut kembung
  • Pembengkakan pada perut
  • Nyeri pada bagian bawah perut

Selain itu, meskipun lebih jarang terjadi, penderita juga dapat mengalami:

  • Nyeri pada area panggul
  • Nyeri di punggung bawah dan paha
  • Sulit mengosongkan kandung kemih atau buang air besar hingga tuntas
  • Berat badan bertambah tanpa penyebab yang jelas
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Sering buang air kecil
  • Nyeri saat menstruasi
  • Perdarahan vagina atipikal (di luar jadwal menstruasi
  • Nyeri payudara

Apakah Kista Dermoid Berbahaya?

Kista dermoid ovarium umumnya bersifat jinak. Sebagian besar kasus juga tidak menimbulkan masalah yang serius. Namun, jika ukurannya terus membesar atau tidak tertangani dengan baik, penyakit ini dapat memicu berbagai komplikasi, seperti torsi ovarium hingga ruptur.

  • Ruptur (Kista Pecah): Meskipun jarang terjadi, kista dermoid ovarium bisa pecah. Jika isi di dalamnya keluar ke rongga peritoneum (perut), hal tersebut bisa menyebabkan peritonitis kronis yaitu peradangan pada lapisan dinding perut. Selain itu, bila isi tersebut bocor ke usus atau rectum, isinya dapat keluar melalui anus.
  • Torsin ovarium: Kondisi saat kista memutar ligamen yang berfungsi menopang ovarium sehingga ovarium ikut terpelintir. Hal ini dapat memutuskan aliran darah ke ovarium dan tuba fallopi.
  • Infeksi: Kemungkinan infeksi terjadi sekitar 1-4%. Dalam kasus yang parah, kondisi ini dapat menyebabkan kista pecah.
  • Perubahan menjadi ganas: Umumnya penyakit ini bersifat jinak. Namun, dalam kasus yang sangat jarang, kista juga dapat menjadi ganas.

Apabila terjadi torsi ovarium, penderita akan mengalami gejala:

  • Nyeri perut yang muncul tiba-tiba dan parah
  • Mual
  • Muntah

Baca Juga: Penyebab Kista Ovarium: Mengapa Bisa Terjadi

Pilihan Pengobatan untuk Mengatasi Kista Dermoid

Pengobatan kista dermoid ovarium umumnya dokter sesuaikan dengan ukuran, gejala, dan apakah menyebabkan komplikasi. Berikut beberapa pilihan pengobatan meliputi:

  • Observasi: Jika berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala, dokter biasanya akan menyarankan pemantauan secara berkala.
  • Operasi: Apabila berukuran besar, bergejala, atau dicurigai ganas, dokter umumnya akan menyarankan tindakan operasi untuk mengangkat kista. Prosedur operasi yang dapat dokter lakukan dengan cara laparoskopi, yaitu prosedur operasi minimal invasif yang memungkinkan kista diangkat melalui sayatan yang lebih kecil. Kedua, dengan laparotomi, yaitu operasi yang lebih invasif dan mungkin diperlukan untuk kista yang berukuran besar atau jika telah terjadi komplikasi.

Belum ada perubahan gaya hidup tertentu yang dapat mencegah penyakit ini. Namun, menjaga kesehatan wanita dengan pola makan sehat dan rutin berolahraga dapat membantu menjaga kesehatan reproduksi.

Terapi alternatif, seperti akupunktur atau pengobatan herbal juga dapat membantu meredakan gejala. Namun, penggunaannya sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu dengan dokter.

Apakah Penderita Kista Dermoid Bisa Hamil?

Penderita kista dermoid tetap bisa hamil. Sebuah penelitian Archives of Gynecology and Obstetrics mengatakan bahwa kehamilan pada wanita dengan kista dermoid maupun kista ovarium jinak lainnya umumnya berlangsung dengan baik, termasuk hasil perinatal atau kondisi ibu dan bayi di sekitar waktu persalinan.

Jika memungkinkan, penyakit ini tidak perlu langsung dioperasi, tetapi cukup dipantau secara rutin melalui pemeriksaan USG selama kehamilan karena komplikasinya sangat jarang terjadi. Operasi tidak berdampak pada kesuburan selama prosedurnya dilakukan dengan benar.

Kerusakan pada cadangan ovarium akibat operasi laparoskopi maupun operasi terbuka tergolong terbatas. Hal ini berbeda dengan kerusakan yang dapat terjadi akibat endometrioma.

Hormon Anti-Müllerian (AMH) telah lama diketahui berkaitan dengan cadangan ovarium. Setelah operasi endometrioma, kadar AMH biasanya mengalami penurunan yang menandakan berkurangnya cadangan ovarium.

Namun, beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa keberadaan kista cokelat itu sendiri dapat menyebabkan kadar AMH menurun. Hingga saat ini, baru ada dua penelitian yang secara khusus membahas perubahan kadar AMH setelah operasi.

Penelitian dari Swedia menunjukkan bahwa penurunan kadar AMH setelah operasi lebih besar pada pasien dengan endometrioma dibandingkan pasien dengan kista dermoid. Sementara itu, penelitian dari Iran menemukan bahwa kadar AMH kembali mencapai sekitar 62% pada akhir bulan ketiga setelah pengangkatan kista dermoid.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa usia pasien dan ukuran kista merupakan faktor yang berperan. Pada pasien berusia di bawah 30 tahun, kadar AMH tidak banyak terpengaruh setelah operasi. Sebaliknya, penurunan kadar AMH lebih banyak ditemukan pada pasien berusia di atas 30 tahun. Selain itu, pengangkatan kista dermoid berukuran lebih dari 9 cm dapat memberikan dampak yang kurang baik terhadap cadangan ovarium.

Penelitian mengenai pengaruh operasi kista dermoid terhadap kesuburan dan peluang kehamilan masih terbatas. Oleh karena itu, masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk memperoleh kesimpulan yang lebih pasti.

Baca Juga: Jenis-Jenis Kista Ovarium: Dari Fungsional hingga Patologis 

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksa ke dokter apabila kista menyebabkan gejala, seperti nyeri pada bagian bawah perut. Gejala yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Nyeri perut yang muncul secara tiba-tiba dan terasa sangat hebat
  • Mual
  • Muntah

FAQ

Apakah kista dermoid ovarium merupakan janin?

Tidak. Kista dermoid ovarium bukanlah janin. Kista ini memang sudah ada sejak lahir karena berkembang seiring pertumbuhan embrio. Penyakit ini merupakan kista jinak yang dapat berisi sebum serta jaringan yang sudah berkembang sempurna, seperti rambut, lemak, dan gigi.

Apakah kista dermoid ovarium selalu perlu diangkat?

Tidak selalu. Jika ukuran kista masih kecil dan tidak menimbulkan gejala, dokter dapat menyarankan pemantauan secara berkala sebagai pilihan penanganan. Namun, bila kista membesar, menimbulkan gejala, atau menyebabkan komplikasi, dokter biasanya akan menyarankan tindakan operasi.

Mengapa kista dermoid memiliki rambut dan gigi?

Kista dermoid terbentuk dari sel germinal, yaitu sel yang nantinya berkembang menjadi sel telur atau sel sperma. Sel-sel ini memiliki tiga lapisan yang akan membentuk berbagai jaringan, organ, dan sistem tubuh selama perkembangan janin di dalam kandungan. Jika proses perkembangannya tidak berjalan normal, berbagai jaringan tersebut dapat berkumpul dan membentuk kista dermoid.

Apakah kista dermoid bisa hilang tanpa pengobatan?

Tidak. Beberapa jenis kista ovarium memang dapat menghilang dengan sendirinya, tetapi kista dermoid akan tetap ada kecuali jika diangkat.

Cek kondisi kesuburan dalam 1 menit

Jawab beberapa pertanyaan singkat dan dapatkan hasil personal dari tim dokter kesuburan

Cek Kesuburan Anda

Gunakan tools interaktif kami untuk memahami kondisi kesuburan Anda.

Bergabung dengan 2rb+ Pasien

“Tim Ciputra IVF mendampingi kami setiap hari. Persiapan yang mereka berikan sangat membantu mental kami.”

— Sarah & Andi