Lean PCOS adalah salah satu jenis sindrom ovarium polikistik (PCOS) yang terjadi pada wanita dengan berat badan normal atau kurus. Gejalanya dapat berupa gangguan ovulasi, tanda atau kadar androgen yang meningkat, serta gambaran ovarium polikistik pada pemeriksaan USG.
Cara mendeteksi lean PCOS umumnya menggunakan kriteria Rotterdam, yaitu gangguan ovulasi, polycystic ovarian morphology (PCOM) pada USG, serta tanda klinis atau hasil laboratorium yang menunjukkan hiperandrogenisme. Dokter juga perlu memastikan tidak ada kondisi lain dengan gejala serupa sebelum menetapkan diagnosis PCOS.
Apa Itu Lean PCOS?
PCOS adalah gangguan kesehatan wanita akibat ketidakseimbangan hormon, terutama antara hormon androgen dan hormon lainnya. Gangguan tersebut dapat terjadi pada wanita dan remaja putri pada usia reproduksi.
Androgen, seperti testosteron termasuk hormon yang berperan dalam perkembangan sistem reproduksi pria. Wanita sehat juga memiliki hormon androgen dalam jumlah kecil.
Pada penderita PCOS, keseimbangan hormon tersebut terganggu sehingga produksi androgen meningkat. Insulin menjadi faktor utama yang mendorong peningkatan produksi androgen.
Penyebab pasti ketidakseimbangan hormon pada PCOS hingga kini masih belum tahu. Sebagian besar wanita dengan PCOS mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, tetapi PCOS juga dapat terjadi pada wanita dengan berat badan normal atau rendah.
PCOS pada wanita dengan kondisi tersebut sering disebut lean PCOS. Istilah lean PCOS untuk menggambarkan PCOS pada wanita dengan berat badan normal atau rendah, bukan merupakan jenis PCOS yang berbeda.
Baca Juga: Efektivitas Suplemen Myo-Inositol untuk PCOS
Penyebab PCOS pada Wanita Kurus
Penyebab lean PCOS belum tahu secara pasti. Tetapi, sejumlah faktor bisa menyebabkan sebagian wanita dengan PCOS tetap memiliki berat badan normal atau di bawah normal.
1. Perbedaan Metabolisme Tubuh
Mekanisme yang menyebabkan sebagian wanita dengan PCOS tetap memiliki berat badan normal atau rendah belum sepenuhnya dipahami. Faktor genetik, distribusi lemak tubuh, sensitivitas insulin, hormon reproduksi, dan faktor lingkungan diduga berperan.
2. Ketidakseimbangan Hormon
Gangguan tiroid dapat menyebabkan gangguan menstruasi yang menyerupai PCOS sehingga perlu evaluasi diagnosis.
Gejala Lean PCOS
Gejala lean PCOS mirip dengan PCOS pada umumnya, antara lain:
- Siklus menstruasi yang tidak teratur
- Pertumbuhan rambut berlebih pada area tertentu, seperti wajah (hirsutisme)
- Jerawat
- Rambut menipis.
- Ditemukan acanthosis nigricans atau skin tag
- Area kulit yang menghitam, misalnya di lipatan leher, selangkangan, atau bawah payudara
Resistensi Insulin pada Lean PCOS
Resistensi insulin terjadi ketika sel-sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik sehingga penggunaan glukosa terganggu. Gangguan ini dapat terjadi pada semua jenis PCOS, termasuk lean PCOS.
Meskipun memiliki kadar lemak tubuh yang rendah, penderita lean PCOS tetap dapat mengalami kadar insulin yang tinggi dan resistensi insulin. Angka kejadian resistensi insulin pada lean PCOS cenderung lebih rendah daripada PCOS karena kelebihan berat badan atau obesitas.
Dalam salah satu penelitian, resistensi insulin terjadi pada 83,3% wanita dengan lean PCOS daripada 93,1% pada kelompok PCOS dengan overweight. Namun, angka tersebut berasal dari populasi penelitian tertentu dan tidak dapat digeneralisasikan ke seluruh wanita dengan lean PCOS.
Hubungan antara lean PCOS dan resistensi insulin masih memerlukan penelitian lebih lanjut. Hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah resistensi insulin pada lean PCOS terjadi dengan tingkat yang sama seperti pada PCOS yang disertai kelebihan berat badan atau obesitas.
Apakah PCOS dan Lean PCOS Berbeda?
Gejala PCOS dapat berbeda pada setiap wanita, terlepas dari berat badan. Misalnya, ada yang mengalami menstruasi dan pertumbuhan rambut berlebih, sementara yang lain mengalami gangguan kesuburan atau diabetes.
Bahkan, wanita dengan indeks massa tubuh (IMT) yang berbeda dapat mengalami gejala yang sama. Variasi gejala ini membuat PCOS sering tidak terdiagnosis, terutama pada wanita dengan lean PCOS. Daripada PCOS yang disertai kelebihan berat badan atau obesitas, diabetes dan resistensi insulin pada lean PCOS cenderung lebih ringan.
Penanganan untuk mengatasi gangguan ovulasi dan masalah kesuburan juga umumnya memberikan hasil yang lebih baik. Meski gejalanya cenderung lebih ringan, lean PCOS tetap dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular sehingga tidak boleh Anda anggap sepele.
Penelitian lebih lanjut masih perlu untuk mengetahui perbedaan lean PCOS dan PCOS yang disertai kelebihan berat badan atau obesitas. Hal ini karena karakteristik PCOS dapat berbeda pada setiap penderita.
Baca Juga: Adakah Hubungan PCOS dan Berat Badan?
Cara Mendeteksi PCOS pada Wanita Kurus
Diagnosis PCOS perlu dipastikan terlebih dahulu sebelum menentukan pengobatan yang tepat. Salah satu pedoman yang sering digunakan adalah kriteria Rotterdam yang dikembangkan oleh European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) dan American Society for Reproductive Medicine (ASRM).
Berdasarkan kriteria Rotterdam, diagnosis PCOS dapat ditegakkan apabila terdapat setidaknya dua dari tiga kriteria berikut:
- Ovarium polikistik pada pemeriksaan USG
- Anovulasi (tidak terjadi pelepasan sel telur dari ovarium) atau oligoovulasi (menstruasi tidak teratur atau jarang terjadi)
- Tanda klinis atau hasil pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan kadar hormon androgen tinggi, seperti pertumbuhan rambut berlebih di wajah, jerawat, atau rambut rontok
Apa pun jenisnya, diagnosis PCOS juga perlu memastikan tidak ada gangguan endokrin lain yang menjadi penyebab gejala tersebut, seperti sindrom Cushing atau gangguan fungsi tiroid.
Bagaimana Cara Mengatasi Lean PCOS?
Berikut beberapa cara mengatasi lean PCOS yang bisa Anda lakukan:
1. Menjaga Pola Makan dan Berat Badan yang Sehat
Pada wanita dengan berat badan rendah, dokter dapat merekomendasikan peningkatan asupan energi secara bertahap sesuai kebutuhan individu.
2. Melakukan Olahraga
- Lakukan latihan kekuatan 2-3 kali per minggu, seperti squat, deadlift, dan push-up untuk membantu meningkatkan massa otot.
- Lakukan aktivitas fisik secara teratur sesuai kondisi dan tujuan kesehatan. Latihan aerobik dan latihan kekuatan sama-sama dapat menjadi bagian dari pola aktivitas fisik yang sehat.
- Istirahat 1-2 hari setiap minggu untuk membantu pemulihan otot dan menjaga keseimbangan hormon.
3. Mengatasi Gangguan Hormon dan Metabolisme
- Jaga kadar gula darah tetap stabil dengan mengonsumsi karbohidrat bersama protein atau lemak.
- Lakukan pemeriksaan fungsi tiroid sesuai anjuran dokter termasuk pemeriksaan TSH, free T4, dan free T3 memastikan tidak ada hipertiroidisme atau gangguan tiroid lainnya.
- Kelola stres melalui meditasi, latihan pernapasan, atau yoga.
- Tidur selama 7-9 jam setiap malam untuk membantu mengatur nafsu makan dan mendukung pemulihan otot.
4. Terapi Penggantian Hormon Bioidentik
Sebagian wanita memilih terapi penggantian hormon (Hormone Replacement Therapy/HRT) untuk membantu mengatasi ketidakseimbangan hormon. Salah satu hormon yang berperan dalam mengatur siklus menstruasi dan kehamilan adalah progesteron.
Berdasarkan penelitian wanita dengan PCOS dapat mengalami resistensi terhadap progesteron sehingga jaringan tubuh menjadi kurang responsif terhadap hormon tersebut. Akibatnya, gejala seperti siklus menstruasi yang tidak teratur dapat terjadi.
HRT dapat membantu mengatasi ketidakseimbangan hormon tersebut. Namun, jenis hormon juga perlu diperhatikan.
HRT konvensional menggunakan hormon sintetis dan beberapa penelitian mengaitkannya dengan peningkatan risiko jenis kanker tertentu serta penyakit kardiovaskular. Bioidentical Hormone Replacement Therapy (BHRT) juga menggunakan hormon yang berasal dari tumbuhan.
Hormon ini memiliki struktur kimia yang sama seperti hormon alami di dalam tubuh sehingga menghasilkan lebih sedikit produk sampingan yang berpotensi merugikan.
Baca Juga: Mengenal Lebih Jauh PCOS pada Remaja
5. Herbal dan Suplemen
Beberapa herbal dan suplemen alami berpotensi membantu meredakan gejala lean PCOS, di antaranya:
- Inositol: Membantu mengatur kadar gula darah sekaligus meningkatkan sensitivitas insulin. Inositol juga bisa mengatur siklus menstruasi dan meningkatkan ovulasi pada wanita dengan PCOS.
- Berberine: Suplemen alami ini meningkatkan sensitivitas insulin, mengurangi lemak viseral, serta membantu meningkatkan kesuburan dan angka kelahiran hidup pada wanita dengan PCOS.
- Reishi: Selain dikenal karena manfaatnya terhadap sistem imun, penelitian pada hewan menunjukkan reishi juga dapat menghambat perubahan testosteron menjadi DHT, yaitu bentuk testosteron yang lebih aktif.
- White peony: Penelitian laboratorium menunjukkan kandungan paeoniflorin di dalam white peony dapat menghambat produksi testosteron sekaligus membantu mengubah testosteron menjadi estrogen.
- Probiotik: Ketidakseimbangan bakteri usus bisa berkaitan dengan PCOS. Probiotik dapat meningkatkan sensitivitas insulin berdasarkan beberapa penelitian.
- Vitamin termetilasi: Pada sebagian wanita, PCOS dapat berkaitan dengan mutasi gen MTHFR yang memengaruhi proses pemanfaatan folat. Dalam kondisi ini, methylated folate dan nutrisi lain, seperti zinc dapat dipertimbangkan sesuai anjuran dokter.
Respons setiap orang terhadap herbal dan suplemen bisa berbeda. Karena itu, konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsinya. Pemeriksaan fungsi tiroid dan kadar zat besi juga dokter anjurkan karena beberapa suplemen dapat memperburuk gejala apabila terdapat gangguan pada kedua kondisi tersebut.








