Dampak Autoimun pada Kesuburan, Bisakah Penderita Tetap Hamil?

Dampak Autoimun pada Kesuburan

Dampak Autoimun pada Kesuburan, Bisakah Penderita Tetap Hamil?

Autoimun dapat memengaruhi kesuburan karena sistem imun yang menyerang sel tubuh sendiri dapat mengganggu fungsi organ reproduksi. Dampak autoimun pada kesuburan bisa berupa gangguan ovulasi, penurunan kualitas sel telur atau sperma, serta peningkatan risiko keguguran.

Banyak pasangan yang berjuang mendapatkan momongan tanpa menyadari bahwa kondisi autoimun bisa menjadi salah satu penyebabnya. Penyakit autoimun terjadi ketika sistem imun menyerang jaringan tubuh sendiri, termasuk organ reproduksi yang bisa mengganggu keseimbangan hormon hingga menyebabkan peradangan kronis.

Hal ini dapat berdampak pada kesuburan, baik pada wanita maupun pria sehingga proses kehamilan menjadi lebih sulit. Lalu, bagaimana sebenarnya hubungan antara autoimun dan kesuburan? Yuk, simak penjelasannya lebih lanjut!

Hubungan Autoimun dan Kesuburan

Sistem imun dan kesuburan wanita saling berkaitan erat. Normalnya, sistem imun berfungsi melindungi tubuh dari ancaman seperti virus dan bakteri.

Namun, saat kehamilan, sistem imun harus beradaptasi agar tidak menyerang embrio yang sebagian berasal dari sel asing ayah. Jika sistem imun tidak bekerja dengan baik, tubuh bisa salah mengenali embrio sebagai ancaman dan justru menghambat proses kehamilan.  

Penyakit autoimun dapat berdampak pada kesuburan karena lebih sering wanita alami di usia reproduktif. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan pada ovulasi, sulit hamil, meningkatkan risiko keguguran, preeklampsia, kelahiran prematur, serta masalah lain yang menghambat kehamilan.

Selain itu, autoimun juga berkaitan dengan kondisi seperti endometriosis dan kegagalan ovarium prematur yang mempercepat penurunan kesuburan. Jika terdeteksi lebih awal, perencanaan seperti pembekuan sel telur bisa menjadi solusi bagi wanita yang ingin mempertahankan peluang kehamilan di masa depan.

Baca Juga: Jus untuk Autoimun: Meredakan Peradangan dan Meningkatkan Kualitas Hidup

Jenis Autoimun yang Memengaruhi Kesuburan

Dampak penyakit autoimun dapat meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan dan berdampak pada kesuburan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi ini bisa menyebabkan kesulitan hamil hingga kemandulan akibat gangguan pada sistem imun.

Wanita dengan penyakit autoimun lebih rentan mengalami penurunan fungsi ovarium lebih cepat yang dapat mengurangi peluang untuk memiliki anak, terutama bagi mereka yang menunda kehamilan. Selain itu, antibodi yang terbentuk dalam tubuh bisa menghambat proses pembuahan, implantasi embrio, hingga perkembangan plasenta.

Penyakit autoimun yang paling berpengaruh terhadap kesuburan dan kehamilan meliputi lupus, sindrom antifosfolipid, multiple sclerosis, rheumatoid arthritis, diabetes tipe 1, dan tiroiditis Hashimoto.

Berikut beberapa jenis autoimun yang memengaruhi kesuburan:

1. Lupus Eritematosus Sistemik (SLE)

SLE adalah penyakit autoimun kronis yang sering menyerang wanita usia subur dan dapat menyebabkan komplikasi kehamilan seperti preeklamsia, kelahiran prematur, gangguan pertumbuhan janin, hingga keguguran berulang. Antibodi pada penderita SLE juga bisa menembus plasenta dan memengaruhi kesehatan bayi.

Selain itu, beberapa obat untuk SLE, seperti siklofosfamid, dapat menurunkan cadangan ovarium dan meningkatkan risiko infertilitas.  

2. Sindrom Antifosfolipid (APS)

APS muncul dengan antibodi antifosfolipid dalam darah yang meningkatkan risiko keguguran berulang dan pembekuan darah saat hamil. Penderita APS lebih rentan mengalami preeklamsia, pertumbuhan janin terhambat, dan kelahiran prematur.

Untuk mengurangi risiko, dokter biasanya meresepkan aspirin dosis rendah dan heparin selama kehamilan.

3. Multiple Sclerosis (MS)

MS adalah penyakit autoimun yang menyerang saraf, lebih sering terjadi pada wanita usia subur, dan bisa menyebabkan infertilitas atau keterlambatan memiliki anak. Ciri autoimun ini meliputi kelemahan otot, kesemutan, gangguan mobilitas, dan penglihatan menurun.

Meski belum terbukti langsung memengaruhi kesuburan, wanita dengan MS yang tidak terkontrol mungkin memiliki cadangan ovarium lebih rendah. Kehamilan dapat mengurangi kekambuhan, tetapi risikonya meningkat lagi setelah melahirkan.

Jika ingin program hamil, pasien MS disarankan dalam kondisi stabil dan tetap mengikuti pengobatan dokter.  

Baca Juga: 5 Tes Kesuburan Pria yang Harus Diketahui untuk Program Hamil

4. Rheumatoid Arthritis (RA)

RA merupakan peradangan sendi kronis yang sering menyerang usia produktif dan dapat mengganggu kesuburan, baik karena penyakitnya sendiri maupun efek obat seperti NSAID dan kortikosteroid. Pada pria, RA bisa menurunkan kadar testosteron dan kualitas sperma, berisiko menyebabkan infertilitas.

Gejalanya umumnya membaik saat hamil, tetapi beberapa pasien tetap mengalami peradangan aktif yang meningkatkan risiko komplikasi seperti preeklamsia, persalinan prematur, dan operasi caesar.

5. Diabetes Tipe 1

Diabetes tipe 1 terjadi akibat kerusakan sel penghasil insulin di pankreas, menyebabkan kadar gula darah tinggi. Pada pria, kondisi ini dapat menurunkan kualitas sperma dan memicu ejakulasi retrograde yang berisiko menyebabkan infertilitas.

Pada wanita, diabetes tipe 1 bisa mengganggu ovulasi, mempercepat menopause, serta meningkatkan risiko preeklamsia, kelainan janin, hingga kematian bayi saat lahir. Oleh karena itu, ibu hamil dengan kondisi ini perlu pemantauan khusus.

6. Tiroiditis Hashimoto

Tiroiditis Hashimoto adalah gangguan autoimun yang menyerang kelenjar tiroid, menyebabkan produksi hormon tiroid menurun. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita dan dapat mengganggu ovulasi.

Meski tidak menghambat implantasi embrio, gangguan tiroid ini meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, serta gangguan perkembangan janin. Pengobatan dengan hormon tiroid dapat membantu meningkatkan peluang kehamilan dan mengurangi risiko komplikasi.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Wanita dengan autoimun disarankan merencanakan kehamilan saat kondisinya stabil. Jika mengalami Antiphospholipid Syndrome (APLS), dokter biasanya meresepkan obat pengencer darah seperti aspirin atau heparin untuk mencegah pembekuan.

Pengawasan medis rutin sangat penting. Bila pengobatan belum berhasil, pasangan bisa mempertimbangkan metode seperti inseminasi buatan (IUI) atau bayi tabung (IVF) untuk meningkatkan peluang kehamilan.

Baca Juga: Olahraga untuk Program Hamil, Meningkatkan Kesuburan dan Peluang Hamil

Kehamilan pada penderita autoimun memerlukan pemantauan ketat karena kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin sehingga penting untuk memeriksakan kesuburan atau konsultasi program kehamilan di Ciputra IVF untuk mendapatkan penanganan terbaik.

Telah direview oleh dr. Adrian Setiawan, Sp.OG.

Source:

Tags: