Cara mendiagnosis PCOS melalui kombinasi pemeriksaan USG, tes hormon, dan evaluasi gejala klinis sesuai Kriteria Rotterdam. Metode ini agar dokter dapat menilai kondisi pasien secara menyeluruh dan menentukan penyebab gangguan hormon dengan lebih tepat.
PCOS (Polycystic Ovary Syndrome) adalah gangguan hormon yang terjadi pada wanita usia reproduktif dan dapat memengaruhi siklus menstruasi, kesuburan, serta keseimbangan metabolisme tubuh. Kondisi ini sering ditandai dengan haid tidak teratur, jerawat, peningkatan hormon androgen, hingga pertumbuhan rambut berlebih pada area tertentu.
PCOS umumnya tidak dapat sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan yang tepat. Jika tidak terobati, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kesuburan, peningkatan risiko diabetes, hingga gangguan metabolik jangka panjang lainnya.
Diagnosis PCOS Berdasarkan Kriteria Rotterdam
Untuk memastikan diagnosis PCOS, dokter menggunakan standar yang disebut Rotterdam Criteria agar hasil pemeriksaan lebih akurat dan tidak tertukar dengan penyakit lain seperti gangguan tiroid atau kelainan hormon lainnya. Diagnosis PCOS ditegakkan berdasarkan tiga tanda utama yang berkaitan dengan siklus haid, tanda hiperandrogenisme, dan kondisi ovarium. Seseorang dinyatakan mengalami PCOS jika memenuhi minimal 2 dari 3 kriteria tersebut.
1. Gangguan Ovulasi (Oligo/Anovulasi)
Gangguan ovulasi terjadi ketika proses pelepasan sel telur dari ovarium tidak berlangsung secara teratur atau bahkan tidak terjadi sama sekali. Hal ini menyebabkan siklus haid menjadi tidak stabil, lebih jarang, atau dalam beberapa kasus berhenti dalam waktu yang lama.
Kondisi ini menjadi salah satu tanda utama PCOS karena berkaitan langsung dengan gangguan fungsi ovarium dalam memproduksi dan melepaskan sel telur. Jika ovulasi tidak terjadi secara rutin, peluang kehamilan juga menjadi lebih kecil karena tidak ada sel telur yang siap terbuahi.
- Siklus menstruasi lebih dari 35 hari atau sangat tidak teratur
- Tidak adanya ovulasi yang konsisten setiap bulan
- Haid bisa sangat jarang atau bahkan tidak datang sama sekali dalam beberapa bulan
- Kesulitan hamil karena sel telur tidak terlepaskan secara normal
- Pada pemeriksaan hormon tertentu dapat ditemukan tanda tidak terjadinya ovulasi
Baca Juga: Mengenal Lebih Jauh PCOS pada Remaja
2. Tanda Hormon Androgen Berlebih (Hiperandrogenisme)
Hiperandrogenisme adalah kondisi ketika hormon androgen atau hormon yang lebih dominan pada pria jumlahnya meningkat pada tubuh wanita. Kondisi ini dapat terlihat secara fisik maupun melalui pemeriksaan darah, dan menjadi salah satu ciri kuat PCOS.
Gejala ini bisa sangat mengganggu karena memengaruhi penampilan dan juga keseimbangan tubuh secara keseluruhan. Namun, tidak semua wanita dengan PCOS memiliki hasil laboratorium hormon yang tinggi sehingga diagnosis tetap bisa dokter tegakkan berdasarkan gejala klinis.
- Jerawat yang membandel dan sulit sembuh
- Pertumbuhan rambut berlebih di area wajah, dada, perut, atau punggung
- Rambut kepala menipis atau mengalami pola kerontokan seperti pria
- Dalam kasus berat bisa terjadi perubahan fisik yang lebih jelas
- Pemeriksaan darah dapat menunjukkan peningkatan hormon androgen, tetapi tidak selalu pada semua pasien
- Pada beberapa kasus, gejala klinis saja sudah cukup untuk menegakkan diagnosis meskipun hasil laboratorium normal
3. Gambaran Ovarium Polikistik pada USG
Pada pemeriksaan USG, ovarium pada wanita dengan PCOS biasanya menunjukkan banyak folikel kecil yang belum matang dan tertahan di dalam ovarium. Kondisi ini terjadi karena gangguan proses pematangan sel telur sehingga tidak terjadi ovulasi normal.
Gambaran ini sering disebut seperti “rantai mutiara” karena banyaknya folikel kecil yang tersusun di pinggir ovarium. Selain itu, ukuran ovarium juga bisa lebih besar dari normal akibat penumpukan folikel yang tidak berkembang.
- Terdapat ≥20 folikel kecil berukuran 2–9 mm pada salah satu atau kedua ovarium
- Ovarium terlihat membesar dibanding ukuran normal
- Tampilan khas seperti “string of pearls” atau rantai mutiara
- Folikel tidak berkembang menjadi sel telur matang
- Ovarium dapat tampak aktif tetapi tidak terjadi ovulasi normal
- Jika penghitungan folikel sulit, ukuran ovarium >10 mL juga dapat menjadi acuan
Pemeriksaan USG untuk PCOS
USG transvaginal digunakan untuk melihat kondisi ovarium secara lebih detail pada pasien yang dicurigai mengalami PCOS. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai struktur ovarium dan mendeteksi adanya perubahan khas yang berkaitan dengan gangguan ovulasi.
Pada PCOS, hasil USG biasanya menunjukkan beberapa temuan berikut:
- ≥20 folikel kecil berukuran 2–9 mm pada salah satu atau kedua ovarium: Menandakan banyaknya folikel yang tidak berkembang menjadi sel telur matang.
- Volume ovarium >10 mL: Ovarium tampak membesar akibat penumpukan folikel kecil.
- Gambaran “string of pearl”: Folikel kecil tersusun di tepi ovarium seperti rangkaian mutiara.
Pemeriksaan Hormon pada PCOS
PCOS merupakan gangguan hormon yang cukup kompleks sehingga tidak bisa terdiagnosis hanya dari keluhan saja. Dokter perlu melakukan pemeriksaan darah, USG, serta melihat riwayat kesehatan pasien untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap.
Pemeriksaan hormon ini penting karena membantu dokter memastikan apakah gejala yang muncul benar akibat PCOS atau karena adanya penyakit lain. Selain itu, hasil pemeriksaan juga membantu menentukan penanganan yang paling sesuai untuk setiap pasien.
1. LH dan FSH
LH dan FSH adalah hormon yang berperan dalam mengatur siklus menstruasi dan proses ovulasi. Kedua hormon ini terproduksi oleh otak dan bekerja untuk membantu pematangan sel telur setiap bulan.
Pada kondisi normal, LH dan FSH biasanya seimbang agar ovulasi berjalan dengan baik. Namun pada PCOS, LH sering lebih tinggi daripada FSH sehingga keseimbangannya terganggu.
Ketidakseimbangan ini dapat menyebabkan sel telur tidak matang dengan sempurna. Akibatnya, siklus haid menjadi tidak teratur atau bahkan tidak terjadi ovulasi.
Perubahan rasio LH dan FSH ini sering menjadi petunjuk awal adanya gangguan hormon pada PCOS. Meskipun rasio LH yang tinggi sering terjadi pada PCOS, pemeriksaan ini tidak lagi wajib sebagai acuan utama untuk menegakkan diagnosis karena hasilnya dapat berbeda pada setiap pasien.
2. Testosteron Total & Free
Testosteron adalah hormon pada wanita dalam jumlah kecil. Hormon ini terbagi menjadi testosteron total dan testosteron bebas yang lebih aktif dalam tubuh.
Pada PCOS, kadar testosteron sering meningkat dan menyebabkan gejala seperti jerawat, rambut berlebih, dan gangguan haid. Bahkan peningkatan kecil saja bisa memengaruhi keseimbangan hormon.
Testosteron total menunjukkan jumlah keseluruhan hormon dalam darah. Sementara itu, testosteron bebas menunjukkan hormon yang benar-benar aktif bekerja di dalam tubuh.
Pemeriksaan ini sangat penting karena peningkatan testosteron merupakan salah satu tanda utama PCOS. Namun, tidak semua pasien menunjukkan hasil yang tinggi di laboratorium.
3. DHEA-S
DHEA-S adalah hormon androgen yang terproduksi oleh kelenjar adrenal di atas ginjal. Hormon ini berperan dalam pembentukan hormon seks lain seperti testosteron dan estrogen.
Pada wanita dengan PCOS, kadar DHEA-S sering lebih tinggi dari normal. Kondisi ini dapat memperkuat gejala seperti jerawat dan pertumbuhan rambut berlebih.
Peningkatan hormon ini menunjukkan adanya aktivitas androgen yang berlebihan dalam tubuh. Namun, tingkat kenaikannya bisa berbeda pada setiap pasien.
Pemeriksaan DHEA-S membantu dokter mengetahui apakah sumber hormon berlebih berasal dari ovarium atau kelenjar adrenal.
Baca Juga: PCOS: Penyebab, Gejala, dan Apakah Bisa Sembuh?
4. Prolaktin
Prolaktin adalah hormon yang berperan dalam produksi ASI setelah melahirkan. Pada wanita yang tidak hamil, kadar hormon ini biasanya rendah dan stabil.
Pada PCOS, prolaktin umumnya masih dalam batas normal, tetapi tetap perlu dokter periksa. Hal ini untuk menyingkirkan penyakit lain yang bisa menyebabkan gangguan haid.
Jika prolaktin terlalu tinggi, bisa terjadi gangguan siklus menstruasi yang mirip PCOS. Kondisi ini juga bisa menandakan adanya gangguan pada kelenjar otak.
Karena itu, pemeriksaan prolaktin penting untuk memastikan diagnosis yang tepat dan tidak tertukar dengan penyakit lain.
5. TSH (Fungsi Tiroid)
TSH adalah hormon yang mengatur kerja kelenjar tiroid di leher. Kelenjar ini sangat berperan dalam mengatur metabolisme tubuh.
Pada PCOS, kadar TSH biasanya normal, tetapi tetap harus dokter periksa. Gangguan tiroid juga bisa menyebabkan haid tidak teratur seperti PCOS.
Jika fungsi tiroid terganggu, gejala yang muncul bisa sangat mirip dengan PCOS. Karena itu, pemeriksaan ini penting untuk membedakan penyebabnya.
Tes TSH membantu dokter memastikan apakah masalah utama berasal dari hormon reproduksi atau dari kelenjar tiroid.
6. Insulin & Gula Darah Puasa
Insulin adalah hormon yang membantu tubuh mengatur penggunaan gula sebagai energi. Pada PCOS, sering terjadi resistensi insulin sehingga tubuh sulit mengolah gula dengan baik.
Kondisi ini dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dan meningkatkan risiko diabetes. Selain itu, resistensi insulin juga dapat memperburuk ketidakseimbangan hormon.
Pemeriksaan gula darah puasa untuk melihat kadar gula dalam kondisi tidak makan. Hasil ini membantu menilai apakah tubuh mengalami gangguan metabolisme.
Pemeriksaan insulin dan gula darah sangat penting karena banyak wanita dengan PCOS juga memiliki masalah metabolik. Dengan hasil ini, dokter bisa memberikan penanganan yang lebih tepat untuk kesehatan wanita.
Peran AMH dalam Diagnosis PCOS
AMH atau Anti-Müllerian Hormone adalah hormon yang terproduksi oleh sel di sekitar sel telur di dalam ovarium. Hormon ini berperan penting dalam menilai cadangan sel telur seorang wanita atau yang sering disebut ovarian reserve.
Pada wanita dengan PCOS, kadar AMH sering lebih tinggi dari normal karena jumlah folikel kecil di ovarium lebih banyak dari biasanya. Kondisi ini membuat AMH juga sering tergunakan sebagai salah satu penanda untuk membantu mendeteksi kemungkinan PCOS.
1. AMH Sebagai Penanda Cadangan Sel Telur
AMH menunjukkan jumlah folikel kecil di ovarium yang masih berisi sel telur yang belum matang. Semakin banyak folikel, biasanya semakin tinggi kadar AMH yang terdeteksi dalam darah.
Folikel ini berkembang sepanjang siklus menstruasi dan menghasilkan hormon AMH dari sel di sekitarnya. Karena sifatnya stabil, AMH dianggap sebagai indikator yang cukup akurat untuk melihat jumlah cadangan sel telur.
Pemeriksaan AMH membantu dokter memahami kondisi kesuburan seorang wanita. Hasil ini sering dokter gunakan sebagai bagian dari evaluasi kesuburan dan kesehatan ovarium.
2. Pemeriksaan AMH Melalui Darah
Kadar AMH dapat melalui tes darah sederhana yang dokter lakukan di laboratorium. Pemeriksaan ini tidak bergantung pada hari siklus menstruasi sehingga bisa kapan saja.
Hal ini berbeda dengan beberapa hormon lain yang harus dokter periksa pada waktu tertentu dalam siklus haid. Karena stabil, hasil AMH dianggap lebih praktis untuk penilaian awal.
Tes ini sering digunakan untuk melihat apakah jumlah folikel dalam ovarium normal atau tidak. Hasilnya kemudian akan dianalisis bersama pemeriksaan lain.
3. Kadar AMH Normal dan Tidak Normal
Kadar AMH dapat berbeda pada setiap wanita tergantung usia dan kondisi ovarium. Umumnya, kadar AMH akan tinggi di usia muda dan menurun seiring bertambahnya usia.
Rentang normal biasanya berada di sekitar 1,0 hingga 3,0 ng/mL, meskipun bisa berbeda tergantung laboratorium. Nilai di atas atau di bawah rentang ini dapat menunjukkan kondisi tertentu.
AMH yang terlalu tinggi bisa mengarah pada kemungkinan PCOS. Sementara AMH yang terlalu rendah bisa menunjukkan penurunan cadangan sel telur.
4. Hubungan AMH Tinggi dengan PCOS
Pada PCOS, ovarium biasanya memiliki banyak folikel kecil yang belum matang. Kondisi ini menyebabkan produksi AMH menjadi lebih tinggi dari normal.
AMH tinggi sering menjadi salah satu petunjuk awal adanya PCOS pada wanita usia subur. Namun, hasil ini tetap perlu terkonfirmasi dengan pemeriksaan lain.
Tingginya AMH juga bisa berhubungan dengan gangguan ovulasi. Hal ini membuat sel telur sulit terlepaskan secara normal setiap bulan.
5. Peran AMH dalam Membantu Diagnosis PCOS
AMH tidak hanya sebagai penanda cadangan sel telur, tetapi juga semakin berperan dalam membantu diagnosis PCOS. Berdasarkan panduan internasional terbaru, kadar AMH yang tinggi sekarang dapat dokter gunakan untuk menggantikan pemeriksaan USG dalam melihat tanda ovarium polikistik, terutama jika pemeriksaan USG transvaginal tidak memungkinkan untuk dilakukan.
Meskipun demikian, dokter tetap perlu melihat gejala pasien, pemeriksaan hormon lain, dan kondisi klinis secara menyeluruh agar diagnosis PCOS lebih akurat.
Baca Juga: Haid Tidak Teratur Karena PCOS: Penyebab dan Solusinya
Diagnosis Banding PCOS (Tiroid, Prolaktinoma, dan NCCAH)
Dalam proses diagnosis PCOS, dokter perlu memastikan bahwa gejala yang muncul tidak disebabkan oleh penyakit lain yang memiliki tampilan serupa. Hal ini penting karena beberapa gangguan hormon lain dapat meniru gejala PCOS seperti haid tidak teratur, jerawat, atau gangguan ovulasi.
Beberapa kondisi yang sering memiliki gejala mirip dengan PCOS antara lain:
- Gangguan tiroid (thyroid disorder): Kelainan fungsi hormon tiroid, baik hipotiroid maupun hipertiroid, dapat menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur, perubahan berat badan, kelelahan, dan gangguan ovulasi yang mirip dengan PCOS.
- Prolaktinoma: Merupakan tumor jinak pada kelenjar hipofisis yang menyebabkan peningkatan hormon prolaktin. Kondisi ini dapat memicu gangguan menstruasi, tidak terjadinya ovulasi, hingga keluarnya ASI di luar kehamilan.
- Non-Classic Congenital Adrenal Hyperplasia (NCCAH): Merupakan gangguan hormonal bawaan yang muncul di usia remaja atau dewasa. Kondisi ini dapat menyebabkan peningkatan hormon androgen yang ditandai dengan jerawat berat, pertumbuhan rambut berlebih, dan gangguan siklus haid. Untuk membantu menegakkan diagnosis NCCAH, dokter biasanya juga memeriksa kadar hormon 17-hydroxyprogesterone (17-OHP).
Karena gejalanya yang mirip, pemeriksaan lanjutan seperti tes hormon dan evaluasi klinis sangat diperlukan untuk membedakan PCOS dengan kondisi-kondisi tersebut secara tepat.
FAQ
PCOS didiagnosis melalui kombinasi pemeriksaan USG, tes hormon, dan evaluasi gejala sesuai kriteria Rotterdam.
Tidak. USG hanya menunjukkan gambaran ovarium, tetapi diagnosis PCOS harus dikombinasikan dengan gejala dan hasil tes hormon.
Biasanya diperiksa LH, FSH, testosteron, DHEA-S, prolaktin, TSH, serta insulin dan gula darah puasa.
Tidak. Ovarium polikistik bisa ditemukan pada wanita tanpa PCOS, sehingga perlu evaluasi lengkap.









