Ciputra IVF menyelenggarakan roadshow bayi tabung bertajuk “Meningkatkan Peluang Kehamilan dengan Program Bayi Tabung” pada Minggu, 13 September 2026, pukul 10.00-13.00 WIB di Serang. Kegiatan ini dihadiri oleh 29 pasangan suami istri yang merencanakan kehamilan dengan menghadirkan dr. Adrian Setiawan, Sp.OG sebagai narasumber.
Workshop tersebut menjadi sarana edukasi bagi pasangan yang ingin memahami berbagai pilihan penanganan gangguan kesuburan, mulai dari inseminasi intrauterin atau intrauterine insemination (IUI) hingga fertilisasi in vitro atau program bayi tabung (IVF).
Dalam pemaparannya, dr. Adrian menjelaskan bahwa keberhasilan program kehamilan dipengaruhi oleh banyak faktor, seperti usia pasangan, kondisi saluran tuba, cadangan dan kualitas sel telur, kualitas sperma, riwayat kesehatan, serta respons tubuh terhadap stimulasi ovarium.
Oleh karena itu, metode penanganan tidak dapat disamaratakan untuk setiap pasangan.
“Setiap pasangan memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Penentuan metode yang paling tepat perlu dilakukan berdasarkan hasil pemeriksaan menyeluruh terhadap pihak istri maupun suami,” jelas dr. Adrian.
Pemilihan Program Harus Berdasarkan Kondisi Pasangan
Salah satu pembahasan dalam workshop adalah pemilihan metode untuk pasangan dengan satu saluran tuba yang masih terbuka dan kondisi oligozoospermia atau jumlah sperma di bawah nilai rujukan.
Pada kondisi tersebut, IUI maupun IVF dapat menjadi pilihan, tetapi keputusan harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan terbaru. IUI masih mungkin dilakukan apabila saluran tuba yang tersisa berfungsi dengan baik dan kualitas sperma memenuhi kriteria yang diperlukan.
Pemeriksaan sperma ulang diperlukan karena hasil analisis sperma dapat berubah. Bila ditemukan penurunan kualitas atau jumlah sperma, dokter akan mengevaluasi kembali kelayakan IUI dan mempertimbangkan metode lain. Pemeriksaan lebih lanjut juga dapat dilakukan untuk mengetahui kemungkinan varikokel atau kondisi lain yang memengaruhi kualitas sperma.
Sementara itu, IVF dapat dipertimbangkan pada pasangan dengan indikasi tertentu, termasuk faktor tuba dan gangguan sperma. Usia pasangan yang masih relatif muda dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung, meskipun peluang keberhasilan tetap harus dinilai secara individual.
Perkembangan Embrio Dipengaruhi Banyak Faktor
Workshop ini juga membahas kondisi ketika sel telur yang telah menjalani intracytoplasmic sperm injection (ICSI) tidak berkembang menjadi embrio.
Sebelum pengambilan sel telur atau ovum pick-up (OPU), dokter akan memantau pertumbuhan folikel selama tahap stimulasi ovarium. Setelah OPU, tim embriologi akan menilai kematangan dan kualitas sel telur untuk menentukan sel telur yang dapat menjalani ICSI.
Sel telur yang telah disuntikkan sperma kemudian dipantau untuk melihat proses fertilisasi dan perkembangan embrio. Ciputra IVF menggunakan inkubator time-lapse yang memungkinkan perkembangan embrio diamati secara berkala tanpa terlalu sering memindahkan embrio dari lingkungan inkubator.
Tidak berkembangnya sel telur menjadi embrio dapat berkaitan dengan berbagai faktor, termasuk kematangan dan kualitas sel telur, kualitas sperma, proses fertilisasi, serta faktor biologis lainnya. Karena itu, hasil setiap siklus perlu dievaluasi secara menyeluruh oleh dokter dan tim embriologi.
Stimulasi Ovarium Bersifat Personal
Peserta juga menanyakan perbedaan antara stimulasi minimal dan stimulasi standar dalam program bayi tabung.
Stimulasi minimal umumnya menggunakan obat dalam dosis lebih rendah dan dapat menghasilkan jumlah sel telur yang lebih sedikit dibandingkan stimulasi standar. Namun, metode ini tidak selalu berarti kurang baik. Pemilihannya dapat disesuaikan dengan usia, cadangan ovarium, respons tubuh terhadap stimulasi, kondisi kesehatan, dan riwayat program sebelumnya.
“Tidak semua pasien dapat menggunakan protokol stimulasi yang sama. Program harus dirancang secara personal atau case by case sesuai kondisi dan respons ovarium masing-masing pasien,” ujar dr. Adrian.
Jumlah sel telur bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan program. Kualitas sel telur, kualitas sperma, perkembangan embrio, kondisi rahim, serta kesiapan kesehatan pasien juga perlu dipertimbangkan.

Koordinasi dengan Dokter bagi Pasien yang Mengonsumsi Obat Psikiatri
Pembahasan lain menyoroti program kehamilan pada pasien yang sedang menjalani pengobatan psikiatri. Menurut dr. Adrian, penggunaan obat tersebut perlu dikonsultasikan terlebih dahulu dengan psikiater yang merawat pasien dan dokter kandungan yang menangani program kehamilan.
Pasien tidak dianjurkan menghentikan, mengganti, atau mengurangi dosis obat tanpa arahan dokter. Dokter akan menilai jenis obat, dosis, kondisi kesehatan mental pasien, serta manfaat dan risikonya selama persiapan kehamilan.
Pada pasien yang kedua saluran tubanya sudah diangkat, IVF menjadi pilihan medis untuk mempertemukan sel telur dan sperma di laboratorium tanpa melalui saluran tuba. Program dapat direncanakan setelah kondisi fisik dan psikologis pasien dievaluasi bersama oleh dokter terkait.
Pemeriksaan Awal Dapat Dilakukan di Daerah Asal
Bagi pasangan dari Serang yang berencana menjalani program IVF di Jakarta, sebagian pemeriksaan laboratorium dan penunjang dapat dilakukan di daerah asal. Hasilnya kemudian dapat dibawa saat berkonsultasi dengan dokter yang menangani program.
Namun, pasien tetap perlu bertemu langsung dengan dokter, terutama pada awal siklus menstruasi sesuai jadwal yang ditentukan. Pemeriksaan yang diperlukan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasangan dan dapat mencakup evaluasi cadangan ovarium, pemeriksaan organ reproduksi serta saluran tuba apabila masih relevan, dan analisis sperma.
Pada pasien dengan kista ovarium, dokter juga akan menilai ukuran dan jenis kista, keluhan yang muncul, cadangan ovarium, serta kemungkinan pengaruhnya terhadap proses stimulasi dan pengambilan sel telur.
Peluang Kehamilan Dinilai secara Individual
Dalam sesi diskusi, peserta turut menanyakan apakah penilaian mengenai sulit atau tidaknya program bayi tabung akan selalu sama antara satu dokter dan dokter lainnya.
Dr. Adrian menjelaskan bahwa dokter menggunakan dasar ilmu dan pedoman medis yang sama. Namun, rekomendasi dapat berbeda karena mempertimbangkan hasil pemeriksaan, pengalaman klinis, pendekatan terapi, serta perkembangan teknologi reproduksi berbantu.
Tidak ada angka keberhasilan yang dapat diberlakukan sama untuk seluruh pasien. Peluang kehamilan harus dihitung berdasarkan kondisi individual, termasuk usia wanita, cadangan ovarium, kualitas sperma, riwayat kehamilan, kondisi rahim, kualitas embrio, dan riwayat program sebelumnya.
Meskipun suatu kondisi dinilai menantang, pasangan tetap dapat mencari pendapat kedua atau second opinion untuk memperoleh penjelasan dan pilihan penanganan yang lebih lengkap.
Kehamilan Kembar Memerlukan Pertimbangan Khusus
Kemungkinan mendapatkan bayi kembar melalui program IVF juga menjadi salah satu topik yang menarik perhatian peserta. Meskipun kehamilan kembar kerap dianggap sebagai kebahagiaan tersendiri, dari sisi medis kehamilan multipel memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi dibandingkan kehamilan tunggal.
Dokter perlu mempertimbangkan jumlah embrio yang akan ditransfer berdasarkan usia pasien, kualitas embrio, riwayat program, kondisi kesehatan, dan pedoman medis yang berlaku. Tujuan utama program IVF bukan semata-mata memperoleh kehamilan, melainkan membantu pasien menjalani kehamilan dan persalinan dengan aman serta melahirkan bayi yang sehat.
Informasi mengenai peluang kehamilan kembar, jumlah embrio yang ditransfer, pemilihan jenis kelamin, serta aktivitas setelah frozen embryo transfer (FET) harus melalui pembahasan secara individual dengan dokter. Pasien juga perlu memahami bahwa hasil program bayi tabung tidak dapat dijamin dan dapat berbeda pada setiap pasangan.
Memperluas Akses Edukasi Fertilitas
Melalui workshop ini, Ciputra IVF berupaya memperluas akses masyarakat terhadap informasi mengenai kesehatan reproduksi dan teknologi reproduksi berbantu. Edukasi yang tepat diharapkan membantu pasangan memahami kondisinya, menjalani pemeriksaan yang diperlukan, dan menentukan program kehamilan secara lebih terarah.
Kegiatan di Serang ini juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdiskusi langsung dengan dokter mengenai berbagai kondisi yang dapat memengaruhi kesuburan, baik dari faktor wanita maupun pria.
Ciputra IVF mengimbau pasangan yang telah berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi tetapi belum memperoleh kehamilan untuk berkonsultasi dengan dokter. Konsultasi dapat Anda lakukan lebih awal apabila terdapat gangguan menstruasi, riwayat kehamilan ektopik, masalah saluran tuba, endometriosis, gangguan sperma, atau kondisi medis lainnya.
Tentang Ciputra IVF
Ciputra IVF merupakan layanan fertilitas yang menyediakan pemeriksaan dan penanganan gangguan kesuburan bagi pasangan, termasuk program inseminasi dan bayi tabung.
Pelayanan Ciputra IVF oleh tim dokter, perawat, dan embriolog dengan dukungan teknologilaboratorium fertilitas. Setiap program direncanakan berdasarkan hasil pemeriksaan serta kondisi individual pasangan.
Yuk, lakukan pemeriksaan kesuburan dan konsultasi program hamil hingga bayi tabung bersama Ciputra IVF. Cek layanan kami dan Buat janji dokter online di website sekarang juga!









