13 Feb 8 Persiapan Sebelum Frozen Embrio Transfer, Jangan Terlewat!
Frozen embrio transfer adalah prosedur memindahkan embrio hasil IVF yang sudah dibekukan ke dalam rahim. Persiapan sebelum frozen embrio transfer meliputi pemeriksaan USG, tes darah, konsumsi obat hormon, serta menjaga pola hidup sehat.
Frozen embrio transfer bekerja dengan cara mencairkan embrio beku lalu memasukkannya ke dalam rahim sesuai siklus yang telah dipersiapkan. Prosesnya biasanya berlangsung singkat, hanya sekitar beberapa menit, namun persiapan siklus bisa memakan waktu beberapa minggu.
Meskipun teknologi ini memiliki tingkat keberhasilan yang cukup tinggi, kemungkinan kegagalan tetap ada. Faktor usia, kualitas embrio, serta kondisi rahim bisa memengaruhi hasil dari prosedur ini.
Hal yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Embrio Transfer
Sebelum melakukan transfer embrio, tubuh dan pikiran perlu dipersiapkan sebaik mungkin agar peluang keberhasilan lebih tinggi. Persiapan ini mencakup kesehatan fisik, keseimbangan hormon, hingga kondisi emosional yang tenang dan stabil.
Berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan sebelum embrio transfer:
1. Ikuti Jadwal Obat dengan Disiplin
Sebelum melakukan transfer embrio, dokter akan memberikan rencana pengobatan khusus untuk mempersiapkan dinding rahim agar siap menerima embrio. Obat yang diberikan biasanya berupa hormon estrogen dan progesteron untuk menciptakan kondisi yang mirip dengan siklus alami tubuh.
Mengikuti jadwal obat ini dengan benar adalah kunci penting dalam keberhasilan transfer embrio. Agar tidak lupa, Anda bisa gunakan alarm pengingat atau aplikasi pencatat obat dan jangan ragu bertanya ke dokter kalau masih bingung.
Baca juga: Transfer Embrio Segar vs Beku, Mana yang Lebih Efektif?
2. Jaga Tubuh Lewat Pola Hidup Sehat
Selain obat, persiapan embrio transfer juga perlu memerhatikan kesehatan tubuh secara keseluruhan. Dengan menjaga gaya hidup, Anda bisa merasa lebih tenang sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan antara lain makan makanan bergizi seimbang, perbanyak sayur, protein, dan lemak sehat, cukup minum air putih, serta kurangi kafein dan alkohol. Hindari merokok, vaping, atau obat terlarang, lalu pilih olahraga ringan seperti jalan kaki, yoga, atau berenang.
3. Kelola Stres dan Cukup Istirahat
Salah satu tips agar embrio bisa menempel di dinding rahim adalah dengan menjaga kesehatan mental dan menghindari stres. Perasaan cemas, penuh harapan, atau bahkan lelah secara emosional itu wajar sekali saat menjalani program IVF. Karena itu, penting untuk meluangkan waktu beristirahat, tidur cukup, dan melakukan hal-hal sederhana seperti meditasi atau latihan pernapasan.
Dukungan dari orang terdekat juga sangat membantu agar Anda tidak merasa sendiri dalam proses ini. Jika perlu, Anda bisa konsultasi dengan konselor kesuburan agar kesehatan mental tetap terjaga dengan baik.
4. Cukup Tidur Sebelum dan Sesudah Transfer
Tidur yang cukup sangat penting untuk mendukung program IVF karena berhubungan langsung dengan kesuburan. Kurang tidur bisa menurunkan peluang kehamilan, jadi usahakan tidur sekitar 7–8 jam setiap malam.
Kalau sulit tidur, Mama bisa mencoba cara alami seperti melatonin untuk membantu mengatur pola tidur. Dengan tubuh yang cukup istirahat, proses transfer embrio bisa lebih optimal.
Tips tidur sebelum transfer embrio:
- Menjaga suhu kamar 16–19 derajat Celcius
- Menggunakan aroma lavender di kamar
- Menghindari kafein 4–6 jam sebelum tidur
- Berhenti makan 2–3 jam sebelum tidur
- Mendengarkan musik yang menenangkan
- Membatasi penggunaan gadget 30 menit sebelum tidur
- Melakukan peregangan ringan sebelum tidur
5. Hindari Suhu Ekstrem di Area Perut dan Rahim
Menjaga area perut dan rahim dari paparan panas berlebih sangat penting untuk mendukung keberhasilan transfer embrio. Panas yang berlebihan bisa memengaruhi proses implantasi embrio.
Selain itu, gunakan pelindung bila memakai laptop agar panas tidak langsung mengenai perut. Hindari juga sauna, jacuzzi, atau aktivitas lain yang membuat tubuh terpapar panas ekstrem.
Hal yang perlu dihindari:
- Panas dari laptop di perut
- Sauna
- Jacuzzi
- Aktivitas dengan suhu tinggi lainnya
Baca juga: Prosedur Embrio Transfer
6. Persiapkan dan Konsumsi Makanan yang Aman untuk IVF-FET
Pola makan berperan besar dalam menjaga keseimbangan hormon dan kesehatan reproduksi sebelum transfer embrio. Banyak dokter menyarankan diet tinggi lemak sehat dan rendah karbohidrat untuk mengurangi peradangan.
Selain itu, konsumsi makanan kaya antioksidan juga sangat baik untuk mendukung kesehatan rahim. Pilih makanan segar, sehat, dan bergizi untuk meningkatkan peluang keberhasilan.
Makanan yang dianjurkan:
- Sup hangat
- Biji-bijian utuh (quinoa, farro, pasta gandum)
- Kacang-kacangan (kacang merah, lentil, chickpeas)
- Lemak sehat (minyak alpukat, minyak zaitun, kacang kenari, biji-bijian)
- Protein rendah lemak (ikan rendah merkuri, ayam)
- Buah dan sayuran segar (beri, nanas)
- Air dengan lemon
Pantangan makanan setelah embrio transfer yang perlu dihindari adalah:
- Minuman dingin (smoothies, soda)
- Gula berlebih
- Daging merah
- Makanan olahan
- Garam berlebihan (gunakan rempah sebagai pengganti)
- Kopi dan teh
7. Obat yang Bisa Mengganggu Proses
Beberapa obat bebas (OTC) bisa memengaruhi keberhasilan transfer embrio. Obat pereda nyeri seperti ibuprofen atau naproxen berisiko menghambat implantasi dan meningkatkan kemungkinan keguguran.
Karena itu, penting untuk selalu memberi tahu dokter mengenai semua obat yang sedang dikonsumsi, baik resep maupun non-resep. Bahkan suplemen tertentu juga bisa tidak disarankan saat menjalani proses transfer.
8. Bahan Kimia yang Harus Dihindari
Beberapa bahan kimia dalam produk sehari-hari bisa mengganggu keseimbangan hormon tubuh. Zat ini adalah endocrine-disrupting chemicals (EDCs) dan dapat memengaruhi kesuburan hingga kesehatan secara umum.
Menghindari paparan bahan kimia ini penting agar tubuh tetap sehat dan siap untuk mendukung kehamilan.
Berikut beberapa contoh EDC yang perlu Anda waspadai:
- Bisphenol A (BPA), phenols, dan phthalates pada plastik
- Brominated flame retardants pada perangkat elektronik
- Dioxins pada produk kebersihan wanita seperti tampon
- Parabens pada produk perawatan tubuh dan tabir surya
- Triclosan pada sabun antibakteri
Baca juga: Embrio Adalah Tahap Awal Perkembangan Bayi
Bolehkah Beraktivitas Setelah Embrio Transfer?
Banyak pasien yang bertanya apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan setelah embrio transfer. Pertanyaan ini wajar karena semua ingin meningkatkan peluang kehamilan dengan cara terbaik.
Dalam 24 jam pertama, embrio mulai menempel di dinding rahim dan proses ini bisa berlangsung beberapa hari. Karena itu, Anda sebaiknya lebih banyak istirahat, rileks, dan hindari aktivitas berat di hari pertama.
Hal yang sebaiknya dihindari setelah transfer adalah mandi air panas, sauna, mengangkat beban berat, dan olahraga terlalu keras. Tapi jangan khawatir, pergi ke toilet tetap aman karena embrio tidak akan “jatuh.”
Selama masa menunggu dua minggu, Anda boleh tetap aktif dengan olahraga ringan seperti jalan santai, yoga, atau berenang. Aktivitas ringan ini justru baik untuk melancarkan aliran darah, meningkatkan oksigen, dan membantu proses implantasi berjalan lebih optimal.
Telah direview oleh dr. Sudirmanto.
Source:
- The Evewell. Can You Exercise During IVF?. Februari 2026
- CCRM Fertility. Preparing for Frozen Embryo Transfer. Februari 2026
- Pacific Fertility Center. FET-IVF: Frozen Embryo Transfer Tips, Timelines and Beyond. Februari 2026